Intisari
khutbah Jumat, 26 Desember 2014 di masjid Darul Ihsan Babulu
MENCEGAH
PERSELISIHAN
Problematika
umat Islam dalam membangun keutuhan persepsi mewujudkan kehidupan yang
berperadaban maju. Problem dari internal sendiri, seperti disorientasi sejarah
dan politik kaum muslimin sejak wafatnya Rasulullah mulai nampak bibit ta’ashub
antara pribumi Yasrib (Madinah) dan kaum muhajirin (perantau) merasa berhak
menggantikan Muhammad Rasulullah. Nilai spiritulitas dan komitmen Abu Bakar dan
Umar bin Khatab mampu menyelesaikan dengan cerdas dan menentramkan. Bibit ini
rupanya muncul kembali setelah kaum muslimin bertambah besar dan luas wilayah
kekuasaannya.
Faktor
inilah yang melahirkan friksi, syiah, murjiah dan khawarij. Syiah beranggapan selain
Ali bin Abi Thalib dan keturunannya tidak berhak memimpin umat. Anggapan ini
melahirkan teologi syiah. Lain halnya dengan murjiah yang apatis, juga melahir
teologi apatis. Apalagi dengan Khawarij
dengan teologi mirip dengan teori politik Machiavellis, tujuan menghalalkan
segala cara.
Faktor
yang dominan kedua adalah terpupuknya khilafiah yang belum menemukan jalan
rujuk, kesefahaman dalam Islam. Pertanyaan khilafiah hampir terulang itu-itu
saja, seperti subuh dengan qunut? Tarawih 23 atau sebelas rakaat? Shalat jumat
2 kali adzan dan lain-lain. Terulang-ulang setiap saat. Waktu ke waktu hanya
urusan yang sama betapa rendahnya taraf berfikir dan kesadaran dalam beragama.
Pada hal Allah SWT
memberikan rambu-rambu dalam firman-Nya:
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً
وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
[23:52]
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan
Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ
زُبُراً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
[23:53] Kemudian mereka
(pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi
beberapa pecahan
Kecenderungan sikap membanggakan
golongan, Allah berfirman QS. Al-Anfal : 45-47
يا
أيها الذين آمنوا إذا لقيتم فئة فاثبتوا واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون
Hai orang-orang yang
beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan
sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.
وأطيعوا
الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم واصبروا إن الله مع الصابرين
Dan taatlah kepada
Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan
kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang sabar.
ولا
تكونوا كالذين خرجوا من ديارهم بطرا ورئاء الناس ويصدون عن سبيل الله والله بما يعملون
محيط
Dan
janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan
rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari
jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.
Fakor
yang ketiga adalah propaganda dari agama dan budaya lain. Mereka golongan yang
memiliki modal besar. Mereka menguasai media, kekuasaan dan uang yang besar.
Pengaruhnya hampir masuk dalam setiap level kehidupan kita, kecuali masjid. Maka
di luar masjid merekalah yang menguasai.Oleh karena itu Allah memberikan
sinyalemen penting dalam al-Quran :
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ
النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَ اللّهِ هُوَ الْهُدَى
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ
مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
[2:120] Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang
benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah
pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan
penolong bagimu.
Untuk manjaga keutuhan
umat diperlukan sikap sebagai berikut :
1.
Tidak menganggap sesat pihak lain yang
berbeda pendapat
وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ
تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ
لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
[3:105] Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang
bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada
mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa
yang berat,
2.
Dialog sehat saling pengertian
Ibnu Taimiyah berkata, tidak seorangpun yang boleh memaksa orang lain untuk
mengikuti pendapatnya. Yang bisa dia lakukan adalah mengemukakan dalilnya.
3.
Tidak memaksakan pendapat
4.
Tidak fanatik buta
اتَّبِعُواْ مَا
أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء
قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ
[7:3] Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah
kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil
pelajaran (daripadanya).
5.
Hati-hati agar tidak terjebak dengan pendapat yang salah
Kesimpulan, ruang
perbedaan pada umat Islam tetap ada, tetapi sikap bijak kita adalah
mempersempit ruang itu sehingga keutuhan, kemajuan umat dapat berjalan cepat. Ketahuilah
bahwa banyak energi kita untuk mencari dalil pembenaran atas pendapatnya. Hanya
Allahlah kita kembali. Wallauhu’alam bishawaf.
0 komentar:
Posting Komentar