Permulaan
Sungguh bahwa belajar merupakan jihad. Belajar mengeluarkan segenap
kemampuan dan bakat yang ada dalam diri kita. Hampir mustahil berhasil dalam belajar tanpa kesungguhan. Nabi
sendiri menyatakan dalam hadisnya bahwa siapa yang berangkat dengan kesungguhan
untuk belajar kemudian meninggal dalam perjalanan maka ia termasuk fisabilillah.
Betapa besar sesungguhnya makna belajar bagi kita semua. Karena memang belajar
tidak ada habis-habisnya. Semakin kita
tahu, maka semakin banyak yang belum tahu, diatas langit masih ada langit. “nur
‘ala nur” cahaya diatas cahaya. Luar biasa, belajar. Belajar tidak dibatasi oleh ruang dan waktu,
apalagi usia.
Meskipun usia sudah memasuki waktu dzuhur,
belajar tidak ada halangan. Belajar diusia kita ibarat melukis diatas air,
sulit kenyataanya. Namun kesungguhan ini mungkin yang akan memberikan jalan
sehingga air bukan lagi dilukis tapi dialirkan ke sawah petani dan memberi manfaat
bagi banyak orang.
Hari pertama kita diruang ber-AC, tempat duduk
letter U, duduk 23 mahasiswa pasca UMY dari berbagai daerah. Dari Kalimatan 6 orang mahasiswa, Papua 1 orang, Sorong 1
orang, lainnya dari Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Mereka luar biasa hebat-hebat, dari cara
berbicara hingga ketika belajar bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Mereka berkemampuan
bahasa asing luar biasa. Sungguh, ternyata saya tidak ada apa-apanya di ruang
ini. Mengapa? Mungkin saya sudah cukup lama tidak bersentuhan dengan materi
yang sedang kita hadapi. Rutinitas pekerjaan dan kegiatan -yang kurang belajar
dan inovatif, mungkin ini penyebabnya.
Permulaan ini mudah-mudahan membangkitkan diri
saya agar mampu meningkatkan kemampuan secara keilmuaan maupun keislaman
sehingga pada akhirnya akan bermuara pada kebaikan bersama di keluarga dan
masyarakat. Inilah yang kemudian menjadi inspirasi saya mengapa saya harus belajar keras dan harus bisa. Tidak ada
yang tidak bisa, hanya orang-orang yang malaslah yang tidak bisa. BISA PASTI
BISA. BISA PASTI BISA, Bismillahirahmanirahim. (Kamis, 29-11-2012)
0 komentar:
Posting Komentar