Jumat, 22 Februari 2013


Catatan Harian selanjut...
Hari, Sabtu, 9 Februari 2013, pukul 08.30, mulai kami melanjutkan perjalanan bersama teman-teman Kalimantan, baik Pasca UMY maupun Pasca UNY, kami bertujuh menuju ke desa Kinahrejo, tempat Mbah Marijan”roso-roso” mengabdikan dirinya untuk selamanya.
Teman dari UMY; Faisal (Melawi-Kalbar), Ilhamdi (Sintang-Kalbar), Usmanto (Putus Ibo- Kalbar), Ulil Huda (Lamando-Kalteng) dan saya (Paser-Kaltim), serta Hatmin (Sukamara-Kalteng) tidak bisa ikut karena ada acara di rumah morotua di Klaten. Teman dari UNJ; Slamet (Melawi-Kalbar), .......Rohana, .........., dan ........( Palangkaraya-Kalteng).
Dengan 4 motor, perjalanan dimulai dengan singgah di tempat kos teman-teman di Kejayan dekat dengan kampus UNY. Selanjutnya menelusuri jalan kejayan- ringroad Utara, Jalan Kaliurang tiba di desa wisata Kinahrejo. “Selamat datang di desa wisata Kinahrejo”. Sepeda motor wajib diparkirkan ditempat yang telah disediakan, kemudian wisatawan memilih antara jalan kaki, sewa motor, sewa jeep, sewa motor trial. Jika kita menggunakan jeep dibutuhkan biaya Rp 350,000. Ojeg Rp 20,000. Sewa motor Rp 30,000. Sewa motor trial Rp 50,000, kalau jalan kaki gratis hanya bayar masuk lokasi Rp 5,000 dan parkir Rp 2,000.
Cuaca menyambut kami dengan sejuknya angin pegunungan dan awan yang mengelilingi perjalan menuju ke rumah Mbah Marijan. Sepanjang jalanan terdapat kios makan dan minuman menemani perjalanan wisatawan. Ada juga oleh-oleh, seperti kaos bergambar dan tulisan Mbah Marijan. Perjalanan kami penuh canda, tetapi nafas semakin ke atas, naik, naik, maka semakin tersengal-sengal, keringat menetis diwajah saya. Naik sebentar lalu berhenti, padahal jalan yang ditempuh ± 1,5 - 2 km saja, tapi rasanya nafas mau putus. Ternyata tidak begitu lama kami sampai ditempat rumah Mbah Marijan yang dilalap “awan wedus gembel” erupsi Merapi tahun 2010. Awan wedus gembel adalah awan panas (± 1000oC) yang dikeluarkan oleh erupsi gunung Merapi. Apapun bendanya yang tersentuh wedus gembel pasti terbakar. Bayangkan,  jika awan panas tersebut mengenai orang atau binatang akan terpanggang. Mengerikan.
Alhamdulillah, kami telah tiba di rumah Mbah Marijan. Disana sebuah mobil, 2 motor korban wedus gembel, beberapa perabot rumah tangga seperti cangkir, dan gamelan. Nampak juga prasasti, tapi masih dalam proses penyelesaian. Foto Mbah Marijan hampir disetiap spanduk atau pamflet sedang tersenyum seperti sedang menyapa pengunjung yang datang. Saya mencari foto Mbah bersama petinju juara dunia siapa ya namanya.....? dengan keyword “roso-raso”.  Kami dapati kali adem penuh dengan matrial pasir dan batu-batu. Bersama mereka berfoto ditempat tersebut untuk pembelajaran kita semua. Betapa besarnya Allah Swt yang menciptakan kedahsyatan Merapi dengan penuh hikmah. Mengingatkan Kuasa Allah Swt tidak dapat dilawan apalagi ditandingi siapapun yang ingin ingkar kepada-Nya. Mbah Marijan mengajarkan kepada kita bahwa pemimpin tidak ‘tinggal glanggang colong playu” alias pengecut, sebagai orang yang ditauladani maka dia berusaha mengabdikan dirinya jiwa dan raga, tanpa pamrih ataupun namanya. Hidupnya hanya untuk mengabdi sampai akhir hayatnya. Betapa ironis dengan pemimpin kita saat ini,  berpendidikan tinggi,  penuh retorika dan dusta.
Perjalanan sampai ke titik kulminasi Kinahrejo, lalu berfoto, duduk-duduk, sambil bercanda yang tak berujung, sambil makan kerupuk gadung, gurih dan enaak, cuma Rp 8,000. Awan mulai tebal kembali, rintik hujan menetes membasahi. Sulit melihat indahnya kota Yogya, terhalang oleh awan sebentar lagi turun.
Tidak seberat, berangkatnya yang naik dan naik, pulang badan kita terasa ringan seperti roda terus ingin memutar turun dengan cepat, malah kadang sulit menghentikannya. Hujan turun lebat, kami terpaksa berteduh di gubug di kiri jalan. Ilhamdi, ketua rombongan mulai aksinya dengan berceritera (berkesah) tentang kekecewaan presiden partainya yang selama ini dibanggakan karena merasa ia ikut membesarkan di kota Sintang sebelum ia diangkat sebagai PNS. Hari-hari, wajahnya menyedihkan, kadang menghibur diri bahwa semua ini ada hikmahnya, meskipun ia merasa hatinya sakit melihat keadaan ini. Memang dewasa ini di media ada 2 berita besar, yaitu penggerebekan di rumah Rafi Ahmad dan beberapa rekan artis lainnya yang pesta ’narkoba’ oleh BNN dan berita penangkapan ketua partai karena suap impor sapi oleh KPK.  Gambaran ini, menandakan merosotnya moralitas pemimpin negeri ini yang haus kekuasaan dan haus harta. Menurut Khotib di masjid UMY bahwa pemimpin kita itu lapar secara ekonomi, bukan lapar secara alamiah. Karena perut kita itu sama secara alamiah diisi satu piring nasi sudah kenyang, tetapi perut secara ekonomi berapapun dan apapun dimasukan tetap saja kurang. Lihatlah apakah koruptor orang miskin yang lapar dan haus? Sedihnya, mereka justru orang-orang kaya, yang selalu haus dan lapar harta. Partai penjaja moral ini pun tergoda dengan lapar dan hausnya harta, apalagi kekuasaan.
Sedang asyik berbincang kasus tersebut, mucul bidadari dari bukit Kinahrejo berpesawat Vario yang disewa dari jasa penyewaan di bawah tadi muncul di padepokan, dengan menyapa, assalamu’alaikum W..... Ketua melanjutkan aksi makcomblang kepada kedua bidadari dari UII. Ui namanya berasal dari Cilacap, no Pinnya .....dengan menyebut secara lengkap termasuk alamat kos, fakultas, semester dengan malu-malu, tersipu. Kemudian Yasmin, senyumnya bagaikan rembulan  menyebutkan nama, semester, fakultas tapi tidak menyebutkan no pin. Usmanto, dia tahu sedang di kerjain Ilhamdi, sambil memijit tombol tablet, sesekali memandangi 2 mahasiswi semester delapan fakultas teknik UII, berdebar, gemuruh bergelora kelakiannya, ingin rasanya hujan segera berhenti. Biar alam yang menjawab desakan-desakan nurani yang sudah tahu kemana harus kulabuhkan. Dengan wajah yang memerah, menunduk seperti ingin menjawab,” tunggu saat yang tepat nanti”.
Hujan segera pergi, bersamanya dua gadis cantik meninggalkan kami. Kembali berjalan menuruni bukit Kinahrejo, tidak lama hujan datang kembali, lari......mencari tempat untuk berteduh. Di tempat warung mie dan bakso, kami menanti hujan benar-benar berhenti. Disini, setelah pertengahan hari memang biasa hujan. Kemudian kami melanjutkan menuruni jalan ini,  menuju parkir motor dan masjid tempat shalat dzuhur kami jalani. Kembali ke Tlogo Tamantirto. 

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Best Patner

Copyright © 2012. ZUKRA SMPN3PPU - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Blog Bamz