Catatan Harian selanjut...
Hari, Sabtu, 9 Februari 2013,
pukul 08.30, mulai kami melanjutkan perjalanan bersama teman-teman Kalimantan,
baik Pasca UMY maupun Pasca UNY, kami bertujuh menuju ke desa Kinahrejo, tempat
Mbah Marijan”roso-roso” mengabdikan dirinya untuk selamanya.
Teman dari UMY; Faisal
(Melawi-Kalbar), Ilhamdi (Sintang-Kalbar), Usmanto (Putus Ibo- Kalbar), Ulil
Huda (Lamando-Kalteng) dan saya (Paser-Kaltim), serta Hatmin (Sukamara-Kalteng)
tidak bisa ikut karena ada acara di rumah morotua di Klaten. Teman dari UNJ;
Slamet (Melawi-Kalbar), .......Rohana, .........., dan ........( Palangkaraya-Kalteng).
Dengan 4 motor, perjalanan
dimulai dengan singgah di tempat kos teman-teman di Kejayan dekat dengan kampus
UNY. Selanjutnya menelusuri jalan kejayan- ringroad Utara, Jalan Kaliurang tiba
di desa wisata Kinahrejo. “Selamat datang di desa wisata Kinahrejo”. Sepeda
motor wajib diparkirkan ditempat yang telah disediakan, kemudian wisatawan
memilih antara jalan kaki, sewa motor, sewa jeep, sewa motor trial. Jika kita
menggunakan jeep dibutuhkan biaya Rp 350,000. Ojeg Rp 20,000. Sewa motor Rp
30,000. Sewa motor trial Rp 50,000, kalau jalan kaki gratis hanya bayar masuk
lokasi Rp 5,000 dan parkir Rp 2,000.
Cuaca menyambut kami dengan
sejuknya angin pegunungan dan awan yang mengelilingi perjalan menuju ke rumah
Mbah Marijan. Sepanjang jalanan terdapat kios makan dan minuman menemani
perjalanan wisatawan. Ada juga oleh-oleh, seperti kaos bergambar dan tulisan
Mbah Marijan. Perjalanan kami penuh canda, tetapi nafas semakin ke atas, naik,
naik, maka semakin tersengal-sengal, keringat menetis diwajah saya. Naik
sebentar lalu berhenti, padahal jalan yang ditempuh ± 1,5 - 2 km saja, tapi rasanya
nafas mau putus. Ternyata tidak begitu lama kami sampai ditempat rumah Mbah
Marijan yang dilalap “awan wedus gembel” erupsi Merapi tahun 2010. Awan wedus
gembel adalah awan panas (± 1000oC) yang dikeluarkan oleh erupsi gunung Merapi.
Apapun bendanya yang tersentuh wedus gembel pasti terbakar. Bayangkan, jika awan panas tersebut mengenai orang atau
binatang akan terpanggang. Mengerikan.
Alhamdulillah, kami telah tiba di
rumah Mbah Marijan. Disana sebuah mobil, 2 motor korban wedus gembel, beberapa
perabot rumah tangga seperti cangkir, dan gamelan. Nampak juga prasasti, tapi
masih dalam proses penyelesaian. Foto Mbah Marijan hampir disetiap spanduk atau
pamflet sedang tersenyum seperti sedang menyapa pengunjung yang datang. Saya
mencari foto Mbah bersama petinju juara dunia siapa ya namanya.....? dengan
keyword “roso-raso”. Kami dapati kali
adem penuh dengan matrial pasir dan batu-batu. Bersama mereka berfoto ditempat
tersebut untuk pembelajaran kita semua. Betapa besarnya Allah Swt yang
menciptakan kedahsyatan Merapi dengan penuh hikmah. Mengingatkan Kuasa Allah
Swt tidak dapat dilawan apalagi ditandingi siapapun yang ingin ingkar
kepada-Nya. Mbah Marijan mengajarkan kepada kita bahwa pemimpin tidak ‘tinggal
glanggang colong playu” alias pengecut, sebagai orang yang ditauladani maka dia
berusaha mengabdikan dirinya jiwa dan raga, tanpa pamrih ataupun namanya.
Hidupnya hanya untuk mengabdi sampai akhir hayatnya. Betapa ironis dengan
pemimpin kita saat ini, berpendidikan
tinggi, penuh retorika dan dusta.
Perjalanan sampai ke titik
kulminasi Kinahrejo, lalu berfoto, duduk-duduk, sambil bercanda yang tak
berujung, sambil makan kerupuk gadung, gurih dan enaak, cuma Rp 8,000. Awan
mulai tebal kembali, rintik hujan menetes membasahi. Sulit melihat indahnya
kota Yogya, terhalang oleh awan sebentar lagi turun.
Tidak seberat, berangkatnya yang
naik dan naik, pulang badan kita terasa ringan seperti roda terus ingin memutar
turun dengan cepat, malah kadang sulit menghentikannya. Hujan turun lebat, kami
terpaksa berteduh di gubug di kiri jalan. Ilhamdi, ketua rombongan mulai aksinya
dengan berceritera (berkesah) tentang kekecewaan presiden partainya yang selama
ini dibanggakan karena merasa ia ikut membesarkan di kota Sintang sebelum ia
diangkat sebagai PNS. Hari-hari, wajahnya menyedihkan, kadang menghibur diri
bahwa semua ini ada hikmahnya, meskipun ia merasa hatinya sakit melihat keadaan
ini. Memang dewasa ini di media ada 2 berita besar, yaitu penggerebekan di
rumah Rafi Ahmad dan beberapa rekan artis lainnya yang pesta ’narkoba’ oleh BNN
dan berita penangkapan ketua partai karena suap impor sapi oleh KPK. Gambaran ini, menandakan merosotnya moralitas
pemimpin negeri ini yang haus kekuasaan dan haus harta. Menurut Khotib di
masjid UMY bahwa pemimpin kita itu lapar secara ekonomi, bukan lapar secara
alamiah. Karena perut kita itu sama secara alamiah diisi satu piring nasi sudah
kenyang, tetapi perut secara ekonomi berapapun dan apapun dimasukan tetap saja
kurang. Lihatlah apakah koruptor orang miskin yang lapar dan haus? Sedihnya,
mereka justru orang-orang kaya, yang selalu haus dan lapar harta. Partai
penjaja moral ini pun tergoda dengan lapar dan hausnya harta, apalagi
kekuasaan.
Sedang asyik berbincang kasus
tersebut, mucul bidadari dari bukit Kinahrejo berpesawat Vario yang disewa dari
jasa penyewaan di bawah tadi muncul di padepokan, dengan menyapa,
assalamu’alaikum W..... Ketua melanjutkan aksi makcomblang kepada kedua
bidadari dari UII. Ui namanya berasal dari Cilacap, no Pinnya .....dengan
menyebut secara lengkap termasuk alamat kos, fakultas, semester dengan
malu-malu, tersipu. Kemudian Yasmin, senyumnya bagaikan rembulan menyebutkan nama, semester, fakultas tapi
tidak menyebutkan no pin. Usmanto, dia tahu sedang di kerjain Ilhamdi, sambil
memijit tombol tablet, sesekali memandangi 2 mahasiswi semester delapan
fakultas teknik UII, berdebar, gemuruh bergelora kelakiannya, ingin rasanya
hujan segera berhenti. Biar alam yang menjawab desakan-desakan nurani yang
sudah tahu kemana harus kulabuhkan. Dengan wajah yang memerah, menunduk seperti
ingin menjawab,” tunggu saat yang tepat nanti”.
Hujan segera pergi, bersamanya
dua gadis cantik meninggalkan kami. Kembali berjalan menuruni bukit Kinahrejo,
tidak lama hujan datang kembali, lari......mencari tempat untuk berteduh. Di
tempat warung mie dan bakso, kami menanti hujan benar-benar berhenti. Disini,
setelah pertengahan hari memang biasa hujan. Kemudian kami melanjutkan menuruni
jalan ini, menuju parkir motor dan
masjid tempat shalat dzuhur kami jalani. Kembali ke Tlogo Tamantirto.
0 komentar:
Posting Komentar