KEPEMIMPINAN PROFETIK
(Sebuah Pilihan Model Kepemimpianan Masa Kini)
Oleh Sukra Immawan
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً
مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang
buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada
mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah).
Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Al Jumu’ah
(62) :2)
Pemimpin profetik adalah pemimpin yang
melampaui espektasi kenyataan.
Kepemimpinan untuk segala lini. Pemimpin profetik, pemimpin yang mesti melakukan apa yang harus
dilakukan. Kehadiran pemimpin senantiasa dinanti oleh pengikutnya. Pemimpin ini
tidak ada sekat kepada siapapun dia. Retorika pemimpin bukan hanya enak
didengar di podium tetapi enak disegala suasana. Pemimpin menyatu antara
perkataan dan perbuatan. Bukan pemimpin yang sebentar-bentar galau mengemis
simpati. Pemimpin yang mau mendengarkan, merasakan, melihat penderitaan orang
lain. Lebih penting lagi pemimpin yang berani berbuat benar. Kepemimpinan profetik merupakan kepemimpinan yang membebaskan penghambaan
manusia hanya kepada Allah semata.
Seorang pemimpin itu merupakan tauladan (contoh), inspirator, motivator dan pembangkit semangat bagi para pengikutnya untuk tergerak hatinya, pikirannya dan perbuatannya untuk meraih harapan, cita-cita, tujuan hidup yang terbaik dan mulia.
Prof. Dr. Kuntowijoyo menyatakan bahwa kepemimpinan profetik membawa misi humanisasi, liberalisasi dan transendensi. Misi humanisasi yaitu mengajak pada kebaikan atau ta’muruna bil ma’ruf. Misi liberalisasi yang membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan penindasan atau tanhauna anil munkar. Sedangkan misi transendensi yaitu tu’minuna billah, yaitu sebagai manifestasi dari misi humanisasi dan liberasi, kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan.
Tugas pemimpin profetik seperti dalam QS. Al Baqarah: 151, tahap pertama
adalah membaca, dengan pastinya menguasai konsep, teori dan paradigma dasar.
Tahap kedua adalah penyucian atau purifikasi, yaitu penyucian pikiran dan
perasaan dari muatan-muatan negatif. Tahap ketiga adalah pengajaran, harus
menguasai epitemologi dan metodologi, mengajarkan ilmu berupa kauniyah dan
kauliyah. Tahap keempat adalah penguasaan informasi dan masalah-masalah baru
yang dinamis.
Menurut Mujtahid (2011) setidaknya ada tujuh karakteristik kepemimpinan profetik, yaitu :
2. Memiliki karakter amanah. Kepemimpinan profetik mengahadirkan nilai-nilai bertanggungjawab, dapat dipercaya, dapat diandalkan, jaminan kepastian dan rasa aman, cakap, profesional dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Karakter tanggungjawab, terpercaya atau trustworthy (amanah) adalah sifat pemimpin yang senantiasa menjaga kepercayaan (trust) yang diberikan orang lain. Karakter amanah dapat menajamkan kepekaan bathin seorang pemimpin untuk bisa memisahkan antara kepentingan pribadi dan kepentingan publik/organisasi.
3. Memiliki karakter tabligh. Kepemimpinan profetik menggunakan kemampuan komunikasi secara efektif, memiliki visi, inspirasi dan motivasi yang jauh ke depan. Seorang pemimpin itu memerlukan kemampuan komunikasi dan diplomasi dengan bahasa yang mudah dipahami, diamalkan, dan dialami orang lain (tabligh). Sosok pemimpin berkarakter bahasanya sangat berbobot, penuh visi dan menginspirasi orang lain.
4. Memiliki karakter fathanah (cerdas). Kepemimpinan profetik itu mempunyai kecerdasan, baik intelektual, emosional maupun spiritual, kreativitas, peka terhadap kondisi yang ada dan menciptakan peluang untuk kemajuan. Sosok pemimpin itu harus cerdas, kompeten, dan profesional (fathanah). Pemimpin yang mengacu sifat fathanah nabi adalah pemimpin pembelajar, mampu mengambil pelajaran/hikmah dari pengalaman, percaya diri, cermat, inovatif tetapi tepat azas, tepat sasaran, berkomitmen pada keunggulan, bertindak dengan motivasi tinggi, serta sadar untuk mewujudkan suatu cita-cita bersama yang akan dicapai dengan cara-cara yang etis.
5. Memiliki karekter istiqamah (konsisten/teguh pendirian). Kepemimpinan profetik mengutamakan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement (Istiqamah). Pemimpin yang istiqamah adalah pemimpin yang taat azas (peraturan), tekun, disiplin, pantang menyerah, bersungguh-sungguh, dan terbuka terhadap perubahan dan pengembangan.
6. Memiliki karakter mahabbah (cinta, kasih-sayang). Kepemimpinan profetik mengutamakan ajaran cinta (mahabbah) bukan kebencian dan pemaksaan. Karakter pemimpin profetik selalu peduli (care) terhadap moral dan kemanusiaan, mudah memahami orang lain/berempati, suka memberi tanpa pamrih (altruistik), mencintai semua makhluk karena Allah, dan dicintai para pengikutnya dengan loyalitas sangat tinggi.
7. Memiliki karakter shaleh/ma'ruf (baik, arif, bijak). Kepemimpinan profetik adalah wujud sebuah ketaatan kepada Allah dan mendarmabaktikan dirinya untuk kesalehan, kearifan dan kebajikan bagi masyarakatnya. Karakter shaleh/arif dapat melahirkan pesona kharismatik yang merupakan ilham dari ilahi, yang terpancar pada permukaan kulit, tutur kata, pancaran mata, sikap, tindakan, dan penampilan. Seorang pemimpin yang shaleh mempunyai kualitas kepribadian individu yang utuh sehingga menyebabkan orang lain menaruh simpati, percaya dan menganut apa yang diinginkannya. Pemimpin shaleh berarti pemimpin yang dirinya diakui pengikut, karena ketaatannya kepada Allah.
Sudahkah pola kepemimpinan kita profetik? Ingat, semua kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya dari yang dipimpinnya. Sebaiknya pemimpin itu melakukan bukan mengatakan, perbuatan akan mengalahkan jutaan perkataan yang diucapkan.
0 komentar:
Posting Komentar