SEKARANG AKU TAHU
Supervisor
berprestasi menjadikan guru berprestasi, sedang guru yang berprestasi
menjadikan siswa yang berprestasi (Tri Agus Winarti, 10-06-2013)
Inilah
pernyataan bu Tri, saya agak kaget, apa benar supervisor sangat besar
pengaruhnya terhadap prestasi siswa, dalam hati. Pak Kasimin memformulasikan
supervisi kolaboratif dengan kepala sekolah, bu Dwi, bu Nisma, Pak Ulil dan
lain-lain dengan pendekatan yang sama, beda pembahasan saja.
Sejak
diskusi tema ini, saya tidak mendapati seorangpun guru PAI yang melaksanakan
tugas mulianya sesuai dengan indikator instrumen yang telah disiapkan pengawas.
Saya takut, ternyata kita sendiri melihat teman-teman GPAI seperti kaca mata
kuda. Apalagi komentar tentang perangkat administrasi mereka, nyaris tidak
satupun yang membuat sendiri alias ATP (amati tiru plek) istilah pak Faisal
asal ada. Pertanyaannya apakah kita ketika bertugas di sekolah lebih baik dari
mereka? Kalo saya sendiri sih, tidak. Saya sering mengatakan bahwa persiapan
itu penting tetapi lebih penting mengajar, mengajar itu penting lebih penting
siswa berprestasi. Meskipun ada standar proses, tapi pada kenyataannya kadang
proses diabaikan begitu saja. Misalnya kasus UN, nilai mata pelajaran UN dengan
nilai patokan 8,5. Kalo ada siswa nilainya 2,0 maka tetap ditulis dalam laporan
8,5. Saya yakin diantara teman-teman ada yang merasakan hal itu.
Saya
ingat Pak Gun, kenapa sepak bola Indonesia terpuruk? Karena pemain terlalu
banyak berfikir strategi tidak pada subtansi tujuan yaitu bola masuk ke gawang
lawan. Coba saat saya dan pak Ilham menonton Indonesia VS Belanda. Gawang yang
dijaga Kurnia Mega sepertinya lebar, sedang gawang yang dijaga penjaga gawang Belanda
tertutup tidak satupun gol bisa disarangkan. Itulah kiranya analogi medan tugas
kita semua.
Bu
Dwi pernah menyatakan mengoreksi lebih mudah dari pada membuat. Gajah dipelupuk
mata tampak sedang semut diseberang lautan tak tampak. Kelas kita juga sesungguhnya
perlu refleksi. Saya menyadari kemampuan dan kapabiltas diri saya tidak sehebat
teman-teman. Pak Ulil pernah mengomentari ketika saya minta contoh ideal dari
Pak Dr. Arif bahwa saya “kulakan”. Sejati saya jawab, ya. Saya lebih mudah
belajar dari pengalaman dari pada berkelok-kelok dengan teori. Learning by
doing kata orang pintar.
Saya
sebenarnya mengharapkan kembali kepada komitmen diawal perkuliahan. Kalo tidak
salah, bahwa makalah kita didiskusikan dalam forum. Panelis/pemakalah
berkewajiban menggandakan makalah dibagikan kepada semua peserta. Namun, sangat
disayangkan makalah yang diterima peserta tidak sama dengan makalah yang dibaca
pemakalah kadang ukuran cetak, kadang spasi, kadang hanya dipotong sebagian.
Pertanyaannya adalah apakah tidak berbanding terbalik dengan diskusi supervisor
ketika menyoriti penampilan guru? Mari kita renungkan pesan pak Hamim berislama
itu melayani kepada siapapun dangan bentuk apapun agar terbangun niat dan
itikad baik. Ginajar Agustian dalam ESQ bangun diri kita dengan filsafat bismillahirahmanirahim,
kebaikan dimulai memberi, ikhlas itu memberikan kepada yang membutuhkan. Hal
itulah yang disebut GOLDEN WAYS Mario Teguh. (zukra218@yahoo.co.id)
0 komentar:
Posting Komentar