Senin, 10 Juni 2013

SEKARANG AKU TAHU


SEKARANG AKU TAHU

Supervisor berprestasi menjadikan guru berprestasi, sedang guru yang berprestasi menjadikan siswa yang berprestasi (Tri Agus Winarti, 10-06-2013)
Inilah pernyataan bu Tri, saya agak kaget, apa benar supervisor sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi siswa, dalam hati. Pak Kasimin memformulasikan supervisi kolaboratif dengan kepala sekolah, bu Dwi, bu Nisma, Pak Ulil dan lain-lain dengan pendekatan yang sama, beda pembahasan saja.
Sejak diskusi tema ini, saya tidak mendapati seorangpun guru PAI yang melaksanakan tugas mulianya sesuai dengan indikator instrumen yang telah disiapkan pengawas. Saya takut, ternyata kita sendiri melihat teman-teman GPAI seperti kaca mata kuda. Apalagi komentar tentang perangkat administrasi mereka, nyaris tidak satupun yang membuat sendiri alias ATP (amati tiru plek) istilah pak Faisal asal ada. Pertanyaannya apakah kita ketika bertugas di sekolah lebih baik dari mereka? Kalo saya sendiri sih, tidak. Saya sering mengatakan bahwa persiapan itu penting tetapi lebih penting mengajar, mengajar itu penting lebih penting siswa berprestasi. Meskipun ada standar proses, tapi pada kenyataannya kadang proses diabaikan begitu saja. Misalnya kasus UN, nilai mata pelajaran UN dengan nilai patokan 8,5. Kalo ada siswa nilainya 2,0 maka tetap ditulis dalam laporan 8,5. Saya yakin diantara teman-teman ada yang merasakan hal itu.
Saya ingat Pak Gun, kenapa sepak bola Indonesia terpuruk? Karena pemain terlalu banyak berfikir strategi tidak pada subtansi tujuan yaitu bola masuk ke gawang lawan. Coba saat saya dan pak Ilham menonton Indonesia VS Belanda. Gawang yang dijaga Kurnia Mega sepertinya lebar, sedang gawang yang dijaga penjaga gawang Belanda tertutup tidak satupun gol bisa disarangkan. Itulah kiranya analogi medan tugas kita semua.
Bu Dwi pernah menyatakan mengoreksi lebih mudah dari pada membuat. Gajah dipelupuk mata tampak sedang semut diseberang lautan tak tampak. Kelas kita juga sesungguhnya perlu refleksi. Saya menyadari kemampuan dan kapabiltas diri saya tidak sehebat teman-teman. Pak Ulil pernah mengomentari ketika saya minta contoh ideal dari Pak Dr. Arif bahwa saya “kulakan”. Sejati saya jawab, ya. Saya lebih mudah belajar dari pengalaman dari pada berkelok-kelok dengan teori. Learning by doing kata orang pintar.
Saya sebenarnya mengharapkan kembali kepada komitmen diawal perkuliahan. Kalo tidak salah, bahwa makalah kita didiskusikan dalam forum. Panelis/pemakalah berkewajiban menggandakan makalah dibagikan kepada semua peserta. Namun, sangat disayangkan makalah yang diterima peserta tidak sama dengan makalah yang dibaca pemakalah kadang ukuran cetak, kadang spasi, kadang hanya dipotong sebagian. Pertanyaannya adalah apakah tidak berbanding terbalik dengan diskusi supervisor ketika menyoriti penampilan guru? Mari kita renungkan pesan pak Hamim berislama itu melayani kepada siapapun dangan bentuk apapun agar terbangun niat dan itikad baik. Ginajar Agustian dalam ESQ bangun diri kita dengan filsafat bismillahirahmanirahim, kebaikan dimulai memberi, ikhlas itu memberikan kepada yang membutuhkan. Hal itulah yang disebut GOLDEN WAYS Mario Teguh.  (zukra218@yahoo.co.id)

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Best Patner

Copyright © 2012. ZUKRA SMPN3PPU - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Blog Bamz