Kamis, 25 Desember 2014

Tata cara shalat Tahajud dan Shalat Dhuha

By ZUKRA_SMPN3PPU | At 18.08 | Label : | 0 Comments
Pertanyaan dari:
Isya Anshari, Jl. Kebun Karet "Pondok Rawa Indah" No. 67 Banjar Baru - Kalsel

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saya ingin mengetahui tata cara shalat tahajud dan shalat dhuha yang benar, atau sesuai dengan apa yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw.
Demikian pertanyaan saya. Terima kasih atas perhatiannya.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Jawaban:

Pertanyaan saudara mengenai tata cara shalat tahajud dan tata cara shalat dhuha ini sudah dijelaskan dalam Himpunan Putusan Tarjih, halaman 341-355, dan sebenarnya juga sudah pernah ditanyakan kepada kami dan jawabannya dapat dilihat dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid 3, halaman 107-115 dan halaman 124-126 serta di rubrik Tanya Jawab Agama Majalah Suara Muhammadiyah No. 22 tahun ke- 91/ 2006. Khusus mengenai tata cara shalat tahajud, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga sudah menerbitkan buku Tuntunan Ramadhan, yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah. Pada dasarnya shalat tahajud, shalat witir, qiyamu Ramadhan, dan qiyamu lail adalah sama, yaitu sebelas rakaat (Berdasarkan HR. al-Bukhari dari 'Aisyah).

Sehubungan dengan itu, kami anjurkan saudara untuk membaca kembali beberapa buku dan majalah tersebut. Namun demikian, dengan merujuk kembali kepada sumber-sumber tersebut, tata cara shalat tahajud dapat disimpulkan secara ringkas sebagai berikut:

1.      Waktu pelaksanaannya adalah setelah shalat isya sampai sebelum waktu shubuh. (Berdasarkan HR. al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah). Tetapi yang paling baik adalah pada sepertiga akhir malam (Berdasarkan HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Jabir).
2.      Shalat tahajud boleh dikerjakan secara berjamaah (berdasarkan HR. Muslim dari Ibnu 'Abbas), dan boleh juga dilakukan sendirian.
3.      Diawali dengan shalat iftitah dua rakaat. (Berdasarkan HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Abu Hurairah). Adapun cara melaksanakan shalat iftitah adalah sebagai berikut:
a.       Sebelum membaca al-Fatihah pada rakaat pertama, membaca do'a iftitah: 

سُبْحَانَ اللهِ ذِي الْمَلَكُوْتِ وَالْجَبَرُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
"Subhaanallaahi dzil-malakuuti wal-jabaruuti wal-kibriyaa’i wal 'adzamah". Artinya: “Maha suci Allah, Dzat yang memiliki kerajaan, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan.”

b.      Hanya membaca surat al-Fatihah (tidak membaca surat lain) pada tiap rakaat. (Berdasarkan HR.Abu Daud dari Kuraib dari Ibnu 'Abbas). Adapun bacaan lainnya seperti; bacaan ruku’, i'tidal, sujud dan lainnya sama seperti shalat biasa.
c.       Shalat iftitah boleh dilakukan secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. (Berdasarkan HR ath-Thabrani dari Hudzaifah bin Yaman)
4.      Setelah itu, melaksanakan shalat sebelas rakaat. Beberapa hadis Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa shalat tahajud bisa dilaksanakan dengan berbagai cara, di antaranya adalah:
a.       Melaksanakan empat rakaat + empat rakaat + tiga rakaat (4 + 4 + 3 = 11 rakaat). (Berdasarkan HR. Al-Bukhari dari 'Aisyah)
b.       Dua rakaat iftitah + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + satu rakaat (2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 1 = 13 rakaat). (Berdasarkan HR. Muslim dari 'Aisyah).
5.      Pada shalat witir, hendaknya membaca surat al-A'la setelah al-Fatihah pada rakaat pertama, surat al-Kafirun pada rakaat kedua, dan al-Ikhlas pada rakaat yang ketiga. Setelah salam, sambil duduk membaca:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ (3x)
“Subhanal-malikil-qudduus.” (3x)
Artinya: “Maha Suci (Allah), Dzat Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Suci.”,
dengan mengeraskan dan memanjangkan pada bacaan yang ketiga, lalu membaca:
 رَبِّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ
“Rabbil-malaaikati war-ruuh”.
Artinya: “Yang Menguasai para malaikat dan ruh.”
(Berdasarkan HR. al-Baihaqi, juz 3/ no. 4640; Thabrani, juz 8/ no. 8115; Daruqutni, juz 2/ no. 2, dari Ubay bin Ka'ab. Hadis ini dikuatkan oleh 'Iraqi)
6.      Membaca do'a.
Di antara  do'a-do'a yang dibaca Rasulullah Saw. adalah:
a.       Berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا.
Artinya: “Ya Allah, berikanlah di dalam hatiku cahaya, di dalam penglihatanku cahaya, di dalam pendengaranku cahaya. Dan (berikanlah) cahaya dari sebelah kananku, cahaya dari sebelah kiriku, cahaya dari atasku, cahaya di bawahku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, dan berikanlah cahaya pada seluruh tubuhku.”

b.       Berdasarkan riwayat Muslim dari 'Aisyah:

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari (siksa)-Mu. Aku tidak dapat lagi menghitung pujian yang ditujukan kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu terhadap diri-Mu sendiri.”
c.       Berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas:

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.

Artinya: “Ya Allah, hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau cahaya (penerang) langit dan bumi. Hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau Penegak langit dan bumi. Hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau Yang Mengatur langit dan bumi beserta isinya. Engkau adalah Dzat yang haq. Janji-Mu adalah benar. Firman-Mu adalah benar. Perjumpaan dengan-Mu adalah benar. Surga adalah nyata. Neraka adalah nyata. Para nabi adalah benar. Hari kiamat adalah nyata. Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berserah diri. Hanya kepada-Mu aku beriman. Hanya kepada-Mu aku bertawakal.Hanya kepada-Mu aku kembali. Hanya atas pertolongan-Mu aku berjuang. Hanya kepada-Mu aku mohon keadilan. Maka ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku lakukan secara sembunyi-sembunyi dan yang terang-terangan. Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau.”

Doa-doa tersebut bisa dibaca ketika sujud, setelah membaca shalawat pada tasyahud akhir, atau ketika selesai shalat.

Sedangkan tata cara shalat dhuha (disebut juga shalat awwabin) adalah sebagai berikut:

1.      Dilaksanakan pada saat matahari sudah naik kira-kira sepenggal atau setinggi tonggak (maksudnya bukan pada waktu matahari baru terbit), dan berakhir menjelang masuk waktu zhuhur (Berdasarkan HR. Muslim dari Ummu Hani’). Dalam Jadwal Waktu Shalat, waktu shalat dhuha dimulai sekitar setengah jam setelah matahari terbit (syuruq).

2.      Shalat dhuha dapat dilaksanakan sebanyak:

  1. Dua rakaat (berdasarkan HR. Muslim dari Abu Hurairah).
  2. Empat rakaat (berdasarkan HR. Muslim dari 'Aisyah).
  3. Delapan rakaat dengan melakukan salam tiap dua rakaat (berdasarkan HR. Abu Daud dari Ummu Hani’).
  4. Boleh dikerjakan dengan jumlah rakaat yang kita inginkan. Berdasarkan hadis:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ. [رواه مسلم]

Artinya: “Diriwayatkan dari 'Aisyah, ia berkata; Rasulullah saw mengerjakan shalat dhuha empat rakaat dan adakalanya menambah sesukanya.” (HR. Muslim)

Al-'Iraqi mengatakan dalam Syarah at-Tirmidzi, "Aku tidak melihat seseorang dari kalangan sahabat maupun tabi'in yang membatasi jumlahnya pada dua belas rakaat. Demikian juga pendapat Imam as-Suyuti, dari Ibrahim an-Nakha'i; bahwa seseorang bertanya kepada Aswad bin Yazid, "Berapa rakaat aku harus shalat dhuha?" Ia menjawab, "terserah kamu". (Fiqh as-Sunnah, jilid 1, hal 251, terbitan Dar al-Fath li al-'Ilam al-Arabi. Hadist-hadist yang menyatakan jumlah rakaatnya dua belas tidak ada yang lepas dari cacat. (Subul as-Salam, juz 2, hal. 19, terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyah

3.      Sebaiknya tidak dilaksanakan secara terus-menerus setiap hari. Berdasarkan hadis:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى قَالَتْ لَا إِلَّا أَنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ. [رواه مسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: Aku bertanya kepada 'Aisyah, "Apakah Nabi Saw. selalu melaksanakan shalat dhuha?", 'Aisyah menjawab, "Tidak, kecuali beliau baru tiba dari perjalanannya.” [HR. Muslim]
Syu'bah meriwayatkan dari Habib bin Syahid dari Ikrimah, ia mengatakan; "Ibnu 'Abbas melakukan shalat dhuha sehari dan meninggalkannya sepuluh hari". Sufyan meriwayatkan dari Mansur, ia mengatakan; "Para sahabat tidak menyukai memelihara shalat dhuha seperti shalat wajib. Mereka terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya". (Zad al-Ma'ad, juz 1, hal 128, terbitanDar ar-Royyan li at-Turats)

4.      Shalat dhuha dapat dikerjakan secara berjamaah. Berdasarkan hadis:

عَنْ عِتْبَانِ بْنِ مَالِكٍ وَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ شَهَدَ بَدْرًا مِنَ اْلأَنْصَارِ أَنَّهُ أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّى قَدْ أَنْكَرْتُ بَصَرِي وَأَنَا أُصَلِّى لِقَوْمِي وَإِذَا كَانَتِ اْلأَمْطَارُ سَالَ اْلوَادِى بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ وَلَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ أَتَى مَسْجِدَهُمْ فَأًُصَلِّي لَهُمْ وَوَدِدْتُ أَنَّكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ تَأْتِي فَتُصَلِّي فِي مُصَلَّى فَأَتَّخِذُهُ مُصَلًى قَالَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَأَفْعَلُ إِنْ شَآءَ اللهُ. قَالَ عِتْبَانُ: فَغَدَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ حِيْنَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَاسْتَأْذَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنْتُ لَهُ فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى دَخَلَ الْبِيْتَ ثُمَّ قَالَ: أَيْنَ تُحِبُّ أَنْتُصَلِّي مِنْ بَيْتِكَ. قَالَ: فَأَشَرْتُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ الْبَيْتِ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ فَقُمْنَا وَرَاءَهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ. [متفق عليه].
Artinya: “Diriwayatkan dari Itban bin Malik ---dia adalah salah seorang shahabat Nabi yang ikut perang Badar dari kalangan Ansar--- bahwa dia mendatangi Rasulullah saw lalu berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku sekarang tidak percaya kepada mataku (maksudnya, matanya sudah kabur) dan saya menjadi imam kaumku. Jika musim hujan datang maka mengalirlah air di lembah (yang memisahkan) antara aku dengan mereka, sehingga aku tidak bisa mendatangi masjid untuk mengimami mereka, dan aku suka jika engkau wahai Rasulullah datang ke rumahku lalu shalat di suatu tempat shalat sehingga bisa kujadikannya sebagai tempat shalatku. Ia meneruskan: Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Akan kulakukan insya Allah”. Itban berkata lagi: Lalu keesokan harinya Rasulullah saw dan Abu Bakar ash-Shiddiq datang ketika matahari mulai naik, lalu beliau meminta izin masuk, maka aku izinkan beliau. Beliau tidak duduk sehingga masuk rumah, lalu beliau bersabda: “Mana tempat yang kamu sukai aku shalat dari rumahmu? Ia berkata: Maka aku tunjukkan suatu ruangan rumah”. Kemudian Rasulullah saw berdiri lalu bertakbir, lalu kami pun berdiri (shalat) di belakang beliau. Beliau shalat dua rakaat kemudian mcngucapkan salam”.[Muttafaq Alaih].

عَنْ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي بَيْتِهِ سُبْحَةَ الضُّحَى فَقَامُوا وَرَاءَهُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ[رواه أحمد والدارقطني وابن خزيمة]

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Itban ibn Malik, bahwasanya Rasulullah saw mengerjakan shalat di rumahnya pada waktu dhuha, kemudian para sahabat berdiri di belakang beliau lalu mengerjakan shalat dengan shalat beliau.” [HR. Ahmad, ad-Daruquthni, dan Ibnu Hibban]

Ada pula satu hadis riwayat Ahmad, ad-Daruquthni, dan Ibnu Hibban dari A’idz ibn ‘Amr, yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw pada suatu kesempatan pernah melaksanakan shalat dhuha bersama para sahabat beliau.

Wallahu a’lam bish-shawab. *putm _kutipanndari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Minggu, 07 Desember 2014

PERSAUDARAN

By ZUKRA_SMPN3PPU | At 04.47 | Label : | 0 Comments
Bersahabat dalam persaudaraan

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata janganlah kamu saling mendengki, janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah saling membenci, janganlah saling memalingkan diri, janganlah sebagaian kamu menjual atas dagangan sebagian yang lain, dan jadilah kamu sekalian hamba yang bersaudara. Orang muslim dengan muslim lainnya bersaudara, tidak boleh menganiaya, tidak boleh membohongi, tidak boleh meremehkan, takwa itu berada disini (sambil) Nabi menunjukkan kearah dadanya 3 kali. Adalah telah cukup bagi seseorang yang telah berbuat jelek ketika ia meremehkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim dengan muslimlainnya adalah haram darahnya, hartanya, dan juga kehormatannya (HR. Muslim)
Dari hadis ini dapat disarikan sebagai berikut ;
1. Tidak boleh saling hasad dan dengki
2. Tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain
3. Jangan saling membenci dan mengadu domba
4. Jangan saling tidak bertegur sapa
5. Jangan suka menjegal teman sendiri dalam berdagang
6. Sesama muslim menjaga persaudaraan
7. Dilarang saling mennganiaya, menghina, membohongi, dan meremehkan sesama muslim
8. Muslim satu dengan lainnya haram darahnya, hartanya dan kehormatannya
Firman Allah
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
[49:10] Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
[49:11] Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri1410 dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman1411 dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim
َا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
[49:12] Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
[49:13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Kebersamaan itu indah, untuk itu, lihatlah orang lain dari sisi baiknya. Ketahuilah bahwa setiap orang banyak kelebihan dan ada juga kekuarangannya.

Jumat, 14 November 2014

TUGAS AL ISLAM SEMESTER 1

By ZUKRA_SMPN3PPU | At 18.37 | Label : | 0 Comments
TUGAS AL ISLAM 1
Mahasiswa STIPER Muhammadiyah Tanah Grogot

No
Nama mhs
Tema
1
Ahmad septianur
Taqwa
2
Ali yusran
Cinta dan ridla
3
Arif rahmad hidayat
Ikhlas
4
Fran anderson
Khauf dan raja
5
Khairun baharsyah
Tawakal
6
M.rabiul hidayat
Syukur
7
Saipul
Muraqabah
8
Wahyudi
taubat
9
Epi rusmini
Mencintai dan memuliakan rasul
10
Nasrah
Mengikuti dan mentaati rasul
11
Yuliana
Mengucapkan  shalawat dan salam
12
Admad riduan
Birrul walidain
13
Asmiati
Hak, kewajiban dan kasih sayang suami istri
14
Defi ekawati
Kasih sayang dan tanggung jawab orang tua terhadap anak
15
Firmansyah
Silaturahmi dengan karib kerabat
16
Kasmawiyati
Bertamau dan menerima tamu
17
M. iydul taufik
Hubungan baik dengan tetangga
18
M. syamsudin
Hubunngan baik dengan masyarakat
19
MOH. Habib s
Pergaulan muda-mudi
20
Muhlis anwar i
Ukhuwah islamiyah
21
Nur oktavia s
Iman kepada Allah
22
Nurfitrianti
Tauhid kepada Allah
23
Rina
Asmaul Husna
24
Rudi fidiyatmoko
Iman kepada Malaikat
25
Siti nur hidayah
Konsekuensi iman kepada Malaikat
26
Siti patimah
Iman kepada Rasul
27
Susilawati
Muhammad Rasulullah
28
Try puji astuti
Iman kepada kitab-kitab Allah
29
Yesi maharani
Al-Quran dan perdaban
30
Muh. Yuda
Iman kepada Hari kiyamat
31
Yuli yanti
Kematian
32
Upik nurhartaningsih
Iman kepada Qadla dan qadar
33
Wulandari
Kedudukan ikhtiar manusia
34
Eko irawan
Shalat dan konsekuensi ketahudian
Tugas individu
Diketik 1.5 spasi
New Roman times 12
Maksimal 3 lembar
Kertas a4 (kwarto)
Tugas dipresentasikan (hardcopy) maks 5 menit
Tugas softcopy dikirim via @mail ke zukra218@yahoo.co.id


Kamis, 06 November 2014

cahaya, subuh

By ZUKRA_SMPN3PPU | At 18.08 | Label : | 0 Comments
CAHAYA MENYINARI  KEGELAPAN
(kuliah subuh 31  Oktober di Masjid Syuhada Tanah Grogot)
Perhatikan firman Allah al-Quran surat al-Baqarah ayat 257
اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
[2:257] Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Pencerahan  (nur) adalah iman, sedang kegelapan (dzulumat) kekafiran. Dua kutub ini sangat jelas tarik menarik, apabila kutub dzulumat yang kuat berarti masa ini pada masa yang gelap, cahaya Allah tertutup dengan sikap kafir.
Coba dilihat dalam asbabul nuzul ayat :
Asbabun nuzul ayat
Abdah bin Abi Lubahah ra berkata ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman kepada nabi Isa as. Mereka tetap beriman kepada Muhammad Saw setelah beliau diutus untuk menyebarluaskan ajaran Islam (HR. Ibnu Jarir dalam Qurtubi )
Oleh karena itu, makna ini penting untuk direnungkan dalam upaya pencerahan.
الظُّلُمَاتِ
Kegelapan; simbol segala bentuk kekufuran, keterbelakangan, kebodohan, kebobrokan ahlak, kemunafikan, kemusyrikan, kefasikan dan kemaksiatan.
النُّوُر
Simbol dari ketauhidan, keimanan, ketaatan, peradaban maju
الطَّاغُوتُ
Segala sesuatu yang menentang kebenaran dan melanggar batas yang telah digariskan olehnAllah SWt kepada hamba-Nya.
Bisa berbentuk pandangan hidup, yang tidak berlandasan Islam # Sayyid Qutub, Fi Dzilalil Quran

Untuk mencapai arah yang jelas ditunjukan dengan contoh Rasulullah SAW, dengan wujud kepemimpinan Allah  dilakukan oleh Rasulullah Saw sebagaimana firman Allah SWT:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
[5:55] Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

Allah SWT memberi predikat fasiqun, dzalimun dan kafirun  bagi orang yang tidak mau berhukum dengan hukum Allah. QS. al-Maidah: 44,45 dan 47

                             وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang kafir.
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang dzalim.
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang fasik.


Pencerahan  diri  dilakukan dengan mematrikan keimanan sekuat mungkin sekaligus melawan semua koalisi kegelapan, kafir, dzlim dan fasik.












                            

Sabtu, 30 Agustus 2014

MUSIK ANTARA BUKAN, BUTUH

By ZUKRA_SMPN3PPU | At 18.46 | Label : | 0 Comments
MUSIK ANTARA TIDAK, BUTUH

Musik sudah bagian hidup kita. Hampir-hampir  kita tidak bisa lepas dari musik. Diskusi tentang musik menjadi menarik. Hampir semua kalangan mendengarkan musik baik fakor  disengaja atau bukan. Kita sepertinya tidak bisa lepas dari musik. Ragam musik bermacam-macam dari ragam tradisional, klasik, rok, dangdut, modernn dan lain-lain.
Para ulama berbeda pendapat berkaitan dengan musik. Ada yang membolehkan, ada juga yang mengharamkannya.
1.      Pendapat yang mengaharamkan musik
Menurut al-Gazali, para ulama berbeda pendapat. Sejumlah ulama seperti Qadi Abu Tayyib al-Tabari,  Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, Sufyan dan lainnya menyatakan bahwa musik hukumnya haram. Seperti kata Imam Syafi’i,  ”Menyanyi hukumnya makruh dan menyerupai kebatilan. Barang siapa sering bernyanyi maka tergolong safeh (orang bodoh). Karena itu, syahadah-nya (kesaksiannya) ditolak”. 
DR Wahbah mengatakan bahwa yang masyhur didalam madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) adalah mengharamkan menggunaan alat-alat untuk menyanyi, seperti : lute, drum, seruling, rebab dan yang lainnya termasuk memetik gitar, flute, klarinet dan yang lainnya.
Didalam mengharamkan musik ini, mereka juga menggunakan dalil dari Al Qur’an ;
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
Artinya : “dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (QS. Luqman : 6)
Para ulama Syafi’i dan Hambali memakruhkan alat pukul yang terbuat dari dahan pohon yang menjadikan nyanyiannya semakin ramai dan nyanyian itu tidak akan ramai apabila alat itu digunakan sendirian. Alat itu menyertai nyanyian sehingga hukumnya adalah hukum nyanyian, yaitu makruh apabila digabungkan dengan sesuatu yang haram atau markruh seperti tepuk tangan, nyanyian, tarian dan apabila tidak ada hal-hal demikian maka ia tidaklah makruh karena ia bukanlah alat musik…
Dengan pendapat tersebut. Pertanyaannya, seni musik apakah alat musik, bunyinya atau syairnya yang haram. Apa bedanya bunyi gitar dengan akapela (suara manusia).
2.      Pendapat yang membolehkan musik
Imam Malik, Zhohiriyah dan sekelompok orang-orang sufi membolehkan mendengarkan musik walaupun dengan menggunakan alat pukul dari kayu dan rotan, ini adalah pendapat sekelompok sahabat, seperti Ibnu Umar, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Zubeir, Muawiyah, Amr bin ‘Ash dan yang lainnya serta sekelompok tabi’in seperti Sa’id bin Musayyib. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz IV hal 2664 – 2665)
Syeikh Mahmud Syaltut mengatakan didalam fatawanya tentang belajar alat musik dan mendengarkannya bahwa sesungguhnya Allah swt menciptakan manusia dengan memiliki insting atau tabi’at yang cenderung kepada kesenangan dan kebaikan yang membekas didalam dirinya. Dengan hal itu dirinya menjadi tenang, senang, bersemangat dan menenangkan anggota tubuhnya. Jiwanya juga merasa lega dengan berbagai pemandangan yang indah seperti pemandangan yang hijau, air yang jernih, wajah yang cantik, bebauan yang wangi.
Syari’at tidaklah mematikan insting itu akan tetapi ia mengaturnya dan bersifat moderat didalam islam merupakan sesuatu yang sangat mendasar yang telah ditunjukkan oleh Al Qur’an yang mulia, seperti firman-Nya :
يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.” (Qs. Al A’raf : 31)
Berdasarkan hal itulah syariat islam mengarahkan manusia untuk memenuhi berbagai tuntutan instingnya kepada batas yang moderat dan tidak melepaskannya begitu saja dan tidak juga mencabut insting itu didalam menyukai berbagai pemandangan yang baik, suara-suara yang nikmat didengar dan sesungguhnya syariat itu mengaturnya dengan baik dan seimbang kepada apa-apa yang tidak membawa kemudharatan dan kejahatan.
Beliau juga menambahkan didalam fatwanya bahwa dirinya telah membaca pendapat salah seorang fuqoha abad XI, tulisannya itu berjudul “Penjelasan dalil-dalil dalam mendengarkan alat-alat musik” oleh Syeikh Abdul Ghani an Nablusi al Hanafi yang menegaskan didalamnya bahwa hadits-hadits yang dijadikan dasar oleh orang-orang yang mengharamkan musik terikat dengan penyebutan berbagai macam permainan, penyebutan khomr, biduanita, perbuatan tak senonoh dan hampir dipastikan bahwa didalam hadits tersebut tidak disebutkan perbuatan-perbuatan yang demikian. Nabi saw, para sahabat, tabi’in, para imam dan fuqoha telah menghadiri berbagai pertemuan untuk mendengarkan sesuatu yang tidak ada didalamnya suatu pelecehan dan yang diharamkan, hal ini juga banyak dikemukakan oleh para fuqoha. Fatwanya bahwa mendengarkan alat-alat yang memiliki alunan (senandung) atau suara-suara tidak mungkin diharamkan hanya sebatas suara yang keluar dari alat itu akan tetapi ia diharamkan apabila ia digunakan untuk sesuatu yang diharamkan atau menggunakan sarana yang diharamkan atau melalaikan yang wajib.
Kesimpulan ini didapat dari berbagai kitab fiqih para madzhab dan hukum-hukum didalam Al Qur’an dan dari sisi bahasa bahwa memukul duff (rebana) atau alat-alat lainnya para penunggang onta, untuk menggelorakan semangat para tentara dalam berperang, didalam perkawinan, hari raya, kedatangan orang yang selama ini hilang, membangkitkan semangat untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang penting adalah mubah sebagaimana kesepakatan ulama.
Kaidah fiqh dalam hal ini
اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُ لَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ
“hukum asal dari sesuatu (muamalah) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya (memakruhkannya atau mengharamkannya)
الأَصْلُ فِي الْمُعَامَلاَتِ الْحِلُّ
“asal dalam muamalah adalah halal”
Adapun perbedaan yang terjadi diantara para fuqoha yang terdapat didalam buku-buku mereka adalah masalah halal atau tidak halal menyibukkan dirinya dengan musik baik mendengarkan, menghadiri atau mengajarkan apabila para pelakunya adalah orang yang berbuat haram seperti meminum khomar, nyanyian tak senonoh, cabul (jorok) yang bisa membangkitkan hawa nafsu maupun kefasikan pada orang-orang yang mendengarkannya begitu juga dengan joget atau perbuatan mesum lainnya. Dan itu semua digunakan pada tempat-tempat yang mengandung kemunkaran atau diharamkan… “
Ibnu Hazm mengatakan bahwa permasalahan ini tergantung dari niatnya. Barangsiapa yang berniat untuk menghibur dirinya, menyemangatinya untuk berbuat ketaatan maka ia termasuk orang yang taat dan berbuat baik dan barangsiapa yang berniat bukan untuk ketaatan juga bukan untuk kemaksiatan maka hal itu termasuk didalam perbuatan yang sia-sia yang dimaafkan seperti manusia yang keluar ke kebunnya hanya untuk refresing atau orang yang duduk-duduk di depan pintu rumahnya untuk rileks semata.
Imam Ghozali mengemukakan pendapat asy Syaukani didalam menjelaskan hadits,”Segala permainan yang dimainkan seorang mukmin adalah batil.” Tidaklah menunjukkan pengharaman akan tetapi menunjukkan tidak adanya manfaat dan setiap yang tidak ada manfaat didalamnya termasuk mubah (boleh).” (Fatawa al Azhar juz VII hal 263)
Demikian pula terhadap musik karya Wolfgang A Mozart, musik simfoni, sonata, concerto yang termasuk didalam golongan musik-musik klasik maka ia—sebagaimana fatwa diatas—dibolehkan selama tetap memperhatikan hal-hal berikut ;
1.      Tidak diniatkan untuk masiat kepada Allah swt.
2.      Tidak berlebih-lebihan didalam menikmati maupun mendengarkannya sehingga melalaikannya dari perkara-perkara yang diwajibkan, seperti : sholat, mengingat Allah maupun kewajiban lainnya.
3.      Para pemainnya tidak menampilkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan atau dilarang agama.
4.      Biduanitanya—jika ada—tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang fitnah, seperti :menggunakan gaun yang seronok, tidak sopan, bergoyang-goyang atau menyanyikannya dengan suara-suara yang dibuat-buat sehingga membangkitkan birahi dan merangsang syahwat orang-orang yang mendengarkannya.
5.      Bait-bait syair lagunya tidak bertentangan dengan adab dan ajaran islam, seperti mengandung kemusyrikan, pelecehan, jorok dan sejenisnya.
6.      Tidak diadakan di tempat-tempat yang mengandung syubhat, kemunkaran atau diharamkan, seperti di tempat yang dibarengi dengan minuman keras, dicampur dengan perbuatan cabul dan maksiat.

Bagi seorang muslim yang menyukai musik ini maupun yang ingin mengambil manfaat darinya untuk hal-hal diatas maupun yang lainnya maka tidaklah menempatkannya diatas dari keagungan, keindahan maupun mafaat dari Al Qur’an. Hendaklah terlebih dahulu ia menggunakan Al Qur’an sebelum menggunakan musik tersebut karena Al Qur’an adalah obat, menenangkan jiwa, menghibur dikala sedih, mengasah ketajaman hafalan dan lainnya. Adapun setelah itu dia ingin menggunakan musik klasik untuk diambil manfaatnya seperti yang dikatakan oleh para pakar dan selama tidak mengandung hal-hal yang dilarang seperti yang disebutkan diatas maka ia dibolehkan.
Muhammadiyah
Alatul Malahi yang di maksud adalah alat bunyi-bunyian (musik) dan hukumnya berkisar kepada illatnya (sebabnya). Dan ia ada 3 macam :a. Menarik kepada keutamaan seperti menarik kepada keberanian di medan peperangan, hukumnya sunat.b. Untuk main-main belaka (tak mendatangkan apa-apa) hukumnya makruh, menilik hadits :”Termasuk kesempurnaan seseorang ialah meninggalkan barang yang tak berarti”. (hadits ini di riwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah). c. Menarik kepada ma’siyat hukumnya haram
Nahdatul Ulama

Muktamar memutuskan bahwa segala macam alat-alat orkes (malahi) seperti seruling dengan segala macam jenisnya dan alat-alat orkes lainnya, kesemuanya itu haram, kecuali terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala, dan seruling permainan anak-anak dan lain-lain sebagainya yang tidak dimaksudkan dipergunakan hiburan.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Pamer Kurikulum 2013

By ZUKRA_SMPN3PPU | At 02.03 | Label : | 0 Comments

Pamer Kurikulum 2013

Wednesday, 13 August 2014, 14:56 WIB 
REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Asep Sapa’at, Praktisi Pendidikan, Pemerhati Karakter Guru di Character Building Indonesia 

Pikiran saya menerawang. Dalam implementasi kurikulum di Indonesia, selama ini yang tampak hanya rutinitas. Tanpa data riset yang memadai, kurikulum tiba-tiba mesti diganti. Di tengah kegaduhan dalam masa persiapan, guru tak diajak diskusi dan diberi ruang untuk sumbang pemikiran terkait pengalaman terbaik mereka sebagai eksekutor kurikulum di lapangan. Yang pro perubahan kurikulum berdaulat, yang kontra dikucilkan. Jelang kick off tanggal 14 Juli 2014, ribuan guru dilatih dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Terbitlah buku paket dan panduan kurikulum yang hadir saling berkejaran dengan waktu penerapan yang makin mepet. Apa sesungguhnya yang diharap dari hadirnya kurikulum 2013? 

Di Indonesia, telah dilakukan beberapa kali pembaharuan kurikulum, yaitu tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, & 2006. Menurut Prof. Dr. Dedi Supriadi (2004), perubahan kurikulum ada dua jenis, perubahan berskala besar dan kecil. Perubahan kurikulum dari tahun 1975 sampai 2004 merupakan perubahan kurikulum berskala besar. Terjadinya perubahan struktur & materi kurikulum jadi penandanya. Pun yang terjadi dengan perubahan dari kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013. Perubahan tersebut membawaserta perubahan pada berbagai aspek & dimensi pendidikan, seperti guru, sarana penunjang khususnya buku-buku teks, kegiatan belajar-mengajar, evaluasi, dan peserta didik beserta orangtuanya. Hampir dapat dipastikan perubahan yang bersifat komprehensif & berskala besar cenderung mengubah arah & orientasi praktik pendidikan di semua tingkatan, khususnya di tingkat sekolah.

Sayangnya, perubahan kurikulum dalam skala kecil belum pernah dilakukan. Perubahan pada skala mikro lebih mengandalkan pada pengalaman para guru dan praktisi pendidikan dalam menerapkan kurikulum. Cirinya, sambil kurikulum berjalan sambil terus diperbaiki. Dampaknya tidak bersifat menyeluruh & mendadak. Guru punya ruang kreativitas yang cukup leluasa untuk mengeksplorasi penerapan kurikulum pada lokasi & konteks sekolah yang berbeda-beda. Tanya pemerintah, mengapa opsi memperbaharui kurikulum dalam skala kecil tak pernah jadi pilihan kebijakan? 

Dalam konteks pengambilan kebijakan, Sheldon Shaeffer—Dalam makalahnya berjudul Educational Change in Indonesia: A Case Study of Three Innovations-- pernah mengatakan bahwa orang Indonesia ‘tak membaca’ kajian dan hasil penelitian kebijakan pendidikan. ‘Tak membaca’ maknanya bersayap. Apakah pengambil kebijakan kita tak mau atau tak mampu belajar dari keberhasilan dan kegagalan masa lalu untuk menetapkan kebijakan terkini. Jika tak mampu, mestinya belajar. Jika tak mau, inilah persoalan serius para pengambil kebijakan di bangsa kita. Mengancik pada pernyataan Shaeffer, saya berani katakan kurikulum 2013 adalah program 2P, ‘Pamer Kekuasaan’ dan ‘Pelestarian Kejumudan’. 

Atas nama kekuasaan, seluruh guru Indonesia dipaksa harus siap terapkan kurikulum 2013. Guru yang patuh pada pimpinan tak kuasa untuk mengatakan belum atau tidak siap. Inti masalahnya, apakah para guru sudah paham dan terampil praktikkan kurikulum 2013 di ruang-ruang kelas? 

Survei Kompas (13  Mei 2013) tentang Guru dan Kualitas Pendidikan Nasional 2013 bisa dijadikan salah satu bahan refleksi. Para guru SD-SMP belum memiliki pemahaman memadai tentang kurikulum 2013. Dalam aspek konseptual, lebih dari separuh responden guru belum mengetahui perbedaan muatan isi antara kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Karena buta konsep, hampir separuh guru tidak paham teknis menjabarkan materi kurikulum 2013 ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Akhirnya, di tataran operasional hampir separuh guru mengaku bingung bagaimana cara mengajar dengan pendekatan tematik integratif. Yang mengkhawatirkan, faktor usia dan ‘jam terbang’ guru berbanding terbalik dengan tingkat pengetahuan guru terhadap kurikulum 2013. Makin lama masa kerja guru, maka tingkat pengetahuan terhadap kurikulum baru justru makin rendah. ‘Guru senior’ kadung terjebak di zona nyaman. Tingkat resistensi terhadap perubahan sangat tinggi.

Memang Kemdikbud tak pandai membaca tanda-tanda zaman. Mengubah pola pikir guru yang kadung stagnan tak bisa diatasi dengan pelatihan guru yang serba instan dan mendadak. Guru bisa diajak berubah ketika aspek ‘WHY’ bisa dipahamkan pada diri guru tentang landasan perubahan kurikulum 2013. Bukan langsung bicara ‘WHAT’ dan ‘HOW’. Karena efek pelatihan berlangsung singkat, guru pun bisa setengah-setengah dalam memahami teori konseptual dan bagaimana kurikulum 2013 diterapkan di kelas. Konsekuensi logisnya, fokus perubahan kurikulum yang esensial terabaikan. Apa itu? Kualitas pembelajaran siswa. Guru gagal mengajar, murid tak bisa belajar. Pesan sarat hikmah buat guru, “You can not give what you do not have”. Apa yang bisa diberikan kepada murid jika guru tak paham makna perubahan kurikulum dan esensi mengajar? 

Mungkinkah kurikulum 2013 mampu kembangkan kreativitas siswa? Impossible. Mana mungkin guru bisa kreatif ketika semua guru masih ‘disuapi’ dengan dokumen kurikulum dari pusat. Mengapa pula penulisan buku teks pelajaran tak diserahkan kepada guru? Idealnya guru diberi kesempatan untuk berkolaborasi dalam program pengembangan profesional secara berkelanjutan. Produk buku (buku paket pelajaran, lembar kerja siswa, dsb) bisa dijadikan salah satu output dari program pengembangan profesional tersebut. Semboyan ‘dari guru oleh guru untuk guru’ digelorakan. Bukan sekadar proyek penerbitan dan percetakan buku yang dimonopoli pusat. Tapi produk kebijakan yang didesain untuk mendorong guru kreatif berkarya tulis secara kolaboratif. Yang jadi soal, apa mungkin ide-ide pengembangan seperti ini digagas dan dilakukan tergesa-gesa dan berbasis proyek jangka pendek?  

Memang sejak ide perubahan kurikulum 2013 digagas, praktis guru nihil peran dan kontribusi. Bukannya guru tak mau sumbang saran, tapi tak ada ruang karena khawatir sarannya dianggap ‘sumbang’ oleh pengambil kebijakan. Pameran kekuasaan dan pelestarian kejumudan mewarnai lahirnya kurikulum 2013. Pamer kekuasaan menempatkan guru terposisi sebagai objek bukan subjek perubahan. Sedangkan kejumudan dipamerkan lewat pola pengambilan kebijakan yang selalu top down dan tak menghendaki guru jadi sosok yang lebih cerdas dan kreatif. Ketika kurikulum 2013 dianggap gagal, mustahil Kemdikbud berani pamerkan kegagalannya. Tradisinya, jari telunjuk lebih sering mengarah pada sosok guru yang kerap jadi kambing hitam. Jika situasinya sudah sepelik ini, kepada siapa lagi guru harus mengadu? 

Senin, 04 Agustus 2014

Jam Tambahan di SMP Muhammadiyah Babulu

By ZUKRA_SMPN3PPU | At 20.02 | Label : | 0 Comments
TAMBAH JAM PELAJARAN
Senin, 4 Agustus 2014, saya mulai mengajar di SMP Muhammadiyah Babulu. Sebagai guru PAI, dihari pertama ini, saya didaulat mengisi halal bihalal dihadapan guru dan siswa. bersama mereka berdiri di halaman kantor SMP Muhammadiyah. Materi yang dimaui oleh sekolah memberi motivasi kepada siswa agar rajin belajar. Karena tema halal bihalal tentu mengutip QS. Ali’Imran ayat 133. Dan bersegeralah keampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi disediakan bagi orang bertakwa.

Dengan dalil ini ada 5 hal yang harus dimiliki setelah kita menjalankan ibadah Ramadhan selama satu bulan. Yaitu, pertama bersegera minta ampun bila kita merasa ada kesalahan atau kekhilafan. Kaum muslimin hendaknya bersifat pemberi maaf kepada siapapun meskipun hal itu dirasa berat. Yang kedua, niat dengan ikhlas semua kegiatan yang kita lakukan agar mendapatkan yang kita cita-citakan. Bahkan semua hal yang dilakukan dengan ikhlas adalah ridha Allah yang diaharapkan akan diperoleh.

Yang ketiga, optimis akan masa depan dan apa yang hendak kita harapkan. Harapan adalah hidayah Allah, hidup tanpa harapan sama halnya dengan binatang. Harapan dan optimis akan keberhasilan kita menandakan bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini. Yang keempat, kerja keras. Sikap kerja keras harus sebagai bukti amalan dibulan Ramadhan. Bukti ketakwaan.

Kelima, tawakal. Apapun yang kita lakukan tentu ada campur tangan Allah Swt.  Kelima hal inilah simpulan yang saya sampaikan kepada mereka.

Kemudian, saya sampaikan, bahwa kita mulai dari sekarang untuk melakukan perubahan. Perubahan menuju penguatan karakter. Kita mulai dari kegiatan edukasi shalat dhuha, shalat dzuhur berjamaah dan pembangunan ruh siswa. Dengan begitu, karakter siswa SMP Muhammadiyah memiliki karekter tersendiri. Kegiatan ini telah kita lakukan hari berikutnya, Selasa, 5 Agustus. Bersama dengan kepala sekolah, Pak akhmad Syahni shalat dhuha dilaksanakan pukul 08.00.

Hal paling mendasar dalam membangun karakter siswa adalah guru sebagai  tauladan. Bahkan lebih luas lagi, semua warga sekolah bagian dari aspek penting dalam membangun karakter siswa muslim.

Interospeksi untuk pimpinan Muhammadiyah, masih banyak sekolah Muhammadiyah dengan guru terbang. Misalnya SMP Muhammadiyah Babulu satu guru DPK sebagai kepala sekolah, satu orang guru yayasan, guru-guru lainnya adalah guru-guru terbang. Mohon doa kepada semua kaum muslimin semoga SMP Muhammadiyah Babulu bisa lebih maju. Menurut saya kondisi sekolah yang demikian masih kurang layak. Saya  merasa, aduh, khawatir jika sekolah ini dibiarkan apa adanya begini, kasihan kader-kader bangsa.


◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Best Patner

Copyright © 2012. ZUKRA SMPN3PPU - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Blog Bamz