Sabtu, 26 Oktober 2013

Belajar Berbuat



YANG PENTING BELAJAR BERBUAT
Belajar itu laksana berselancar  menelusuri pantai, mengikuti gelombang bahkan kelaut lepas yang tak bertepi. Saya merasakan demikan selama proses belajar yang tak terbatas ini. Batasannya saya sendiri yang membuat jika menemukan halte berhenti atau jalan terus tergantung diri sendiri. Belantara karunia Allah tak terbatas siapa yang berbuat dia mendapatkan. Kalau saya punya tesis bahwa hidup ini berbuat sebagai bagian syukur atas nikmat insya Allah terhindar dari laknat. Bukan sebaliknya hidup yang penuh retorika ribuan untaian kata mungkin sulit bermakna diantara kata-kata itu adalah dusta dimaksudkan menuai harta dan tahta kemudian simpanan wanita dimana-mana. Semua itu sepertinya realita. Hidup sudah lupa untuk apa, mau kemana dan apa sesusungguhnya. Syukuri kenikmatan Allah yang tak terhingga ini dengan berbuat, melakukan sesuatu. Biarlah anjing menggonggong terus. Orang yang berbuat pasti mengahasilkan susuatu. Satu perbuatan akan mengalahkan ribuan kata-kata, apalagi jelas bahwa kata-kata itu dusta, karena ia hanya semata-mata akting agar mendapatkan simpati penonton, pemilih. Allah Swt menggambarkan ayat-ayat-Nya lebih banyak perbuatan-Nya dari firman-firman-Nya. coba banding alam semesta dengan kitab-kitab dari –Nya. Saya yakin ada yang sepakat, ada juga yang menolak. Dalam firman Allah Swt lebih banyak mengilustrasikan perbuatan dengan contoh-contoh kehidupan masa lalu. Hal ini menunjukkan bahwa berbuat merupakan esensi semuanya.
Saya ingat kuliah Dr. Tasman Hamami, bahwa kurikulum yang selama ini dilkasanakan oleh pendidikan Indonesia sehingga pendidikan menjadi bulan-bulan politik karena lemahnya implementasi, bukan lemah pada perencanaan dan evaluasi. Anis Baswedan kurang sepakat berganti-ganti kurikulum untuk menjawab problematikan pendidikan nasional. Menurutnya  yang perlu di”upgrade’ adalah guru sebagai eksekusi kurikulum di sekolah. Jadi bukan kurikulumnya, kurikulum hanya sekedar dokumen yang tidak ubahnya benda mati. Gurulah yang menentukan kualitas pendidikan. Di Jepang sangat sulit diemukan perubahan kurikulum, bahkan Malaysia masih menggunakan adopsi kurikulm tahun 1978 dengan suplemen.
Dr. Hamim Ilyas, pendidik dan pendidikan  yang menginspirasi akan memajukan pendidikan kita. Dengan kata “inspiring” semua stakeholder pendidikan menerangi lorong-lorong gelap sempit yang selama ini dirasakan oleh dunia pendidikan. Ia mencontohkan pendidikan agama selama ini sangat terkesan kering dari nilai bahkan masuk pada gang yang sempit pada sebatas fiqh dan hafalan tidak mendidik kepada subtansi pendidikan agama yaitu perubahan sikap peserta didik agar memiliki akhlak mulia. Senada dengan hal tersebut Prof. Dr. Sutrisno dengan terang-terangan mengatakan kalau guru mengajarkan Al-Quran dengan “memutilasi” ayat itu mau kemana nilai-nilai yang menghujam dalam hati peserta didik, apalagi ditambah peserta didik hanya sebatas tahu hukum bacaan mau menenamkan perubahan apa kepada peserta didik? Saya pikir refleksi menjadi sebuah keniscayaan agar proses reduksi pendidikan kepada pengajaran berhenti sampai saat ini saja.
Saya sangat tertarik apa yang disampaikan Prof. Dr. Sutrisno bagaimana memulai dari semua yang disebutkan diatas. Ibtabinafsik, mulailah dari diri sendiri. Selama ini diskusi, seminar, lokakarya, rapat dan lain-lain, dari guru, kepala sekolah, pengawas, kepala dinas dan seterusnya sudah tahu persolaannya. Tetapi yang penting (YP) bukan saya, kata mereka.  Biar orang lain yang memulainya jika berhasil, baru mengikuti. Saya memulai, artinya saya berbuat. Teori PDCA yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Sutrisno mungkin dapat menjadi refleksi. Plan (rencana) – Do(lakukan) – Check (evaluasi)  – Action (refleksi), menurut saya siklus ini yang paring rasional dan mudah dilakukan untuk mengubah proses pembelajaran yang selama ini dilakukan. Saya jadi ingat Prof. Ahimsa pada suatu seminar, ia mengatakan paradigma ilmu-ilmu sosial termasuk ilmu pendidikan, dari nilai dan asumsi sebagai fondasi sampai menemukan fakta, menganalisis pada akhirnya kesimpulan muaranya adalah rasional atau tidak.
Bagi Prof. Yunahar, tafsir maudhu’i (tematik) merupakan jawaban dari problematika umat. Semua yang beliau sampaikan muaranya juga apa yang akan dilakukan, bukan apa yang akan dikatakan. Ya, bukan? Sepakat atau tidak itu terserah masing-masing. Dr. Muqawim pernah mengilustrasikan seorang profesor pendidikan mengamati sekolah yang banyak diminati oleh masyarakat. Prof. Itu menyimpulkan bahwa sekolah ini salah dalam menjalankan pendidikan. Kesimpulan itu ia sampaikan kepada kepala sekolah. Kata Prof, sekolaha ini salah tidak sesuai dengan  teori yang saya buat. Kepala sekolah mejawab, sekolah ini maju, lulusan berkualitas dan menjadi pillihan masyarakat bukan sekolah ini yang salah, tetapi teori Prof. Yang sudah ketinggalan. Prof. Segera meninggalkan tempat itu, dengan pikiran bingung, jangan-jangan benar apa yang dikatakan kepala sekolah. Artinya teori sering ketinggalan jauh dengan perkembangan di lapangan. Perbuatan bukan?
Demikan pula, Prof. Siswanto mengutip pandangan Dr. Kuntowijoyo dan Munawir Zadali, berkaitan dengan hubungan politik dan islam. Sejarah esensinya adalah mempelajari apa yang dilakukan oleh manusia dalam perubahan tatanan kehidupan dari masa kemasa. Kuntowijoyo mengusulkan paradigma sosial profetik untuk mengubah tatanan dan pandangan hidup Islam dengan Ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai usaha membumikan Islam pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya, YP... yang penting berbuat. Tafsir-tafsir dari Quraish Sihab, tidak lain juga bagaimana nilai-nilai Al-Quran menjadi nafas kehidupan umat.
Dr. Ridwan, bahasa sebagai alat menguasai apa saja dan dimana saja. Filsafat mencari hakekat yang dapat dirasional melalui UCS (unsur, ciri dan sifat). Kalau melihat sesuatu dapat diurai dengan apa unsurnya, cirinya dan sifatnya, demikian Dr. Gunawan pada salah satu kuliahnya.
Masih banyak hal, tapi Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali ia merubah dirinya. Lakukanlah meskipun perbuat kecil pasti ternilai kepada perubahan.




0 komentar:

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Best Patner

Copyright © 2012. ZUKRA SMPN3PPU - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Blog Bamz