YANG PENTING BELAJAR BERBUAT
Belajar itu laksana berselancar menelusuri pantai, mengikuti gelombang bahkan
kelaut lepas yang tak bertepi. Saya merasakan demikan selama proses belajar
yang tak terbatas ini. Batasannya saya sendiri yang membuat jika menemukan
halte berhenti atau jalan terus tergantung diri sendiri. Belantara karunia
Allah tak terbatas siapa yang berbuat dia mendapatkan. Kalau saya punya tesis bahwa
hidup ini berbuat sebagai bagian syukur atas nikmat insya Allah terhindar dari
laknat. Bukan sebaliknya hidup yang penuh retorika ribuan untaian kata mungkin
sulit bermakna diantara kata-kata itu adalah dusta dimaksudkan menuai harta dan
tahta kemudian simpanan wanita dimana-mana. Semua itu sepertinya realita. Hidup
sudah lupa untuk apa, mau kemana dan apa sesusungguhnya. Syukuri kenikmatan
Allah yang tak terhingga ini dengan berbuat, melakukan sesuatu. Biarlah anjing
menggonggong terus. Orang yang berbuat pasti mengahasilkan susuatu. Satu perbuatan
akan mengalahkan ribuan kata-kata, apalagi jelas bahwa kata-kata itu dusta,
karena ia hanya semata-mata akting agar mendapatkan simpati penonton, pemilih.
Allah Swt menggambarkan ayat-ayat-Nya lebih banyak perbuatan-Nya dari
firman-firman-Nya. coba banding alam semesta dengan kitab-kitab dari –Nya. Saya
yakin ada yang sepakat, ada juga yang menolak. Dalam firman Allah Swt lebih
banyak mengilustrasikan perbuatan dengan contoh-contoh kehidupan masa lalu. Hal
ini menunjukkan bahwa berbuat merupakan esensi semuanya.
Saya ingat kuliah Dr. Tasman Hamami, bahwa kurikulum yang
selama ini dilkasanakan oleh pendidikan Indonesia sehingga pendidikan menjadi
bulan-bulan politik karena lemahnya implementasi, bukan lemah pada perencanaan
dan evaluasi. Anis Baswedan kurang sepakat berganti-ganti kurikulum untuk
menjawab problematikan pendidikan nasional. Menurutnya yang perlu di”upgrade’ adalah guru sebagai
eksekusi kurikulum di sekolah. Jadi bukan kurikulumnya, kurikulum hanya sekedar
dokumen yang tidak ubahnya benda mati. Gurulah yang menentukan kualitas
pendidikan. Di Jepang sangat sulit diemukan perubahan kurikulum, bahkan
Malaysia masih menggunakan adopsi kurikulm tahun 1978 dengan suplemen.
Dr. Hamim Ilyas, pendidik dan pendidikan yang menginspirasi akan memajukan pendidikan
kita. Dengan kata “inspiring” semua stakeholder pendidikan menerangi
lorong-lorong gelap sempit yang selama ini dirasakan oleh dunia pendidikan. Ia mencontohkan
pendidikan agama selama ini sangat terkesan kering dari nilai bahkan masuk pada
gang yang sempit pada sebatas fiqh dan hafalan tidak mendidik kepada subtansi
pendidikan agama yaitu perubahan sikap peserta didik agar memiliki akhlak
mulia. Senada dengan hal tersebut Prof. Dr. Sutrisno dengan terang-terangan
mengatakan kalau guru mengajarkan Al-Quran dengan “memutilasi” ayat itu mau
kemana nilai-nilai yang menghujam dalam hati peserta didik, apalagi ditambah peserta
didik hanya sebatas tahu hukum bacaan mau menenamkan perubahan apa kepada
peserta didik? Saya pikir refleksi menjadi sebuah keniscayaan agar proses
reduksi pendidikan kepada pengajaran berhenti sampai saat ini saja.
Saya sangat tertarik apa yang disampaikan Prof. Dr. Sutrisno
bagaimana memulai dari semua yang disebutkan diatas. Ibtabinafsik, mulailah dari diri sendiri. Selama ini diskusi,
seminar, lokakarya, rapat dan lain-lain, dari guru, kepala sekolah, pengawas,
kepala dinas dan seterusnya sudah tahu persolaannya. Tetapi yang penting (YP) bukan
saya, kata mereka. Biar orang lain yang
memulainya jika berhasil, baru mengikuti. Saya memulai, artinya saya berbuat. Teori
PDCA yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Sutrisno mungkin dapat menjadi refleksi.
Plan (rencana) – Do(lakukan) – Check (evaluasi) – Action (refleksi), menurut saya siklus ini
yang paring rasional dan mudah dilakukan untuk mengubah proses pembelajaran
yang selama ini dilakukan. Saya jadi ingat Prof. Ahimsa pada suatu seminar, ia
mengatakan paradigma ilmu-ilmu sosial termasuk ilmu pendidikan, dari nilai dan
asumsi sebagai fondasi sampai menemukan fakta, menganalisis pada akhirnya
kesimpulan muaranya adalah rasional atau tidak.
Bagi Prof. Yunahar, tafsir maudhu’i (tematik) merupakan
jawaban dari problematika umat. Semua yang beliau sampaikan muaranya juga apa
yang akan dilakukan, bukan apa yang akan dikatakan. Ya, bukan? Sepakat atau
tidak itu terserah masing-masing. Dr. Muqawim pernah mengilustrasikan seorang
profesor pendidikan mengamati sekolah yang banyak diminati oleh masyarakat. Prof.
Itu menyimpulkan bahwa sekolah ini salah dalam menjalankan pendidikan. Kesimpulan
itu ia sampaikan kepada kepala sekolah. Kata Prof, sekolaha ini salah tidak
sesuai dengan teori yang saya buat. Kepala
sekolah mejawab, sekolah ini maju, lulusan berkualitas dan menjadi pillihan
masyarakat bukan sekolah ini yang salah, tetapi teori Prof. Yang sudah
ketinggalan. Prof. Segera meninggalkan tempat itu, dengan pikiran bingung,
jangan-jangan benar apa yang dikatakan kepala sekolah. Artinya teori sering
ketinggalan jauh dengan perkembangan di lapangan. Perbuatan bukan?
Demikan pula, Prof. Siswanto mengutip pandangan Dr.
Kuntowijoyo dan Munawir Zadali, berkaitan dengan hubungan politik dan islam. Sejarah
esensinya adalah mempelajari apa yang dilakukan oleh manusia dalam perubahan
tatanan kehidupan dari masa kemasa. Kuntowijoyo mengusulkan paradigma sosial
profetik untuk mengubah tatanan dan pandangan hidup Islam dengan Ilmu
pengetahuan. Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai usaha membumikan Islam pada
ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya, YP... yang penting berbuat. Tafsir-tafsir
dari Quraish Sihab, tidak lain juga bagaimana nilai-nilai Al-Quran menjadi
nafas kehidupan umat.
Dr. Ridwan, bahasa sebagai alat menguasai apa saja dan dimana
saja. Filsafat mencari hakekat yang dapat dirasional melalui UCS (unsur, ciri
dan sifat). Kalau melihat sesuatu dapat diurai dengan apa unsurnya, cirinya dan
sifatnya, demikian Dr. Gunawan pada salah satu kuliahnya.
Masih banyak hal, tapi Allah tidak akan mengubah suatu kaum
kecuali ia merubah dirinya. Lakukanlah meskipun perbuat kecil pasti ternilai kepada
perubahan.
0 komentar:
Posting Komentar