Idealis or Omdo
Idealis itu milik Tuhan, hidup
ini realistis, praktis punya makna. Plato, Aristoteles, Socrates, Thomas
Aquanas samapi Galileo Galilei, mereka hidupnya secara idealis. Bahkan mereka
ada yang rela dijeruji besi untuk mempertahankan idealitas yang dimiliki. Kalau
memang kita mau dan ingin idealis mungkin bukan pada agitasi ide yang
provokatif yang terkesan tidak bermakna. Tetapi berani menyarahkan dirinya
untuk Tuhan, atau idealismenya. Kalau hidup kita memang belum ada bukti
idealisnya, contoh paling mudah itu
hidup kita sehari-hari. Idelaisnya hidupnya lebih mementingkan orang
lain dari pada diri sendiri. Tapi apakah sikap dan hidup kita sudah demikian. Apakah
idealitanya sepenuh hati untuk ide-idenya. Saya yakin banyak hanya “omong doang”. Bicaranya idealis,
melangit laksana kabut di langit berputar-putar di langit, entah kapan kabut
itu menyebar sampai ke bumi, mungkin bahkan hilang tanpa jejak. Kenyatannya ....?
Saya meyakini kalau sungguh
idealis dicontohkan Prof. Dr. Sutrisno bahwa Prof. Dr. Munir Mulkhan
membiasakan diri menulis hingga pukul 2 dini hari sampai sekarang lebih dari 20
judul buku yang diterbitkan. Suyadi, MPdI mempunyai kebiasaan membaca dan menulis hingga
pukul 12 malam buku hasil karyanya 25 judul telah diterbitkan. Kalau kita, mau
ke perpustakaan jika ada tugas dari dosen. Setiap hari, SOP dari Allah saja
sering ditunda apalagi yang lain. Saya sendiri kadang menulis makalah bukan
orisinal pikiran sendiri, tapi unduhan dari tulisan orang lain yang didandani
biar indah seperti buatan sendiri.
Saya melihat diantara kita merasa
lebih, kemampuan teman-teman rata-rata
(tidak lebih dari ....red) atau mungkin mau mengatakan dibawah rata-rata. Kalau
saya sendiri, saya akui saya kurang pintar seperti teman-teman. Saya sendiri
kadang malu, seusia begini tetap begini-begini terus, belum ada peningkatan. Justru
itulah seharusnya rekan-rekan sedikit santun tidak mensudutkan seseorang
meskipun maksudnya baik bukan untuk mensudutkan seseorang tapi kenyataan
sebenarnya justru menyudutkan.
Kita semua punya kepentingan. Saya
salut jika mereka belajar disini menjadi orang yang sangat pintar. Idealisnya dibuktikan
dengan berapa buku yang dibaca setiap hari? Berapa kali khatam Al-quran? Berapa
tulisan yang dihasilkan jadi buku? Berapa jam perhari ke perpustakaan membaca
buku? Kalau ini tidak dilakukan, mungkin idealisnya hanya sekedar onani. Intinya
seolah-olah idealis atau idealis dalam kata-kata. Bisa juga idealis dalam
propaganda.
Peluh kita disini didoakan oleh
anak dan istri agar sebagai ibadah. Ibadah jalan hamba kepada Tuhan sebagai
idealitas dan praktis saling mengisi pada akhirnya membawa rahmat untuk kita
semua. Jadi menurut saya bukan hanya belajar teks dengan rinci. Sebaiknya kita
membuat teks yang dapat dipelajari orang lain. Kapan kita harus bersikap
demikian, sekarang jawabnya.
2 komentar:
Kata adalah senjata. begitulah judul buku terbitan Resist book 2009. buku ini berkisah tentang perjuangan subcomandante marcos dari pedalaman mexico nan jauh disana. jauh dari akses dan jauh dr gincu-gincu peradaban. perlawanan comandante tidak saja adu senjata, korespondesi menjadi alternatif strategi perang untuk penggalangan dukungan dan penyadaran. "kata-kata" sangat efektif menjadi senjata mematikan. karena kata-kata memiliki daya rusak lebih dibanding peluru tajam. "kata", kadang tampil dalam wujud pejoratif. "kata" tak akan bermakna jika dikembalikan pada makna aslinya, dimutalisi dari struktur kata yang mendahului dan setelahnya. kata selalu bertendensi, kapan , dimana dan oleh siapa ia dilontarkan. karenanya "kata" tampil berbalut selubung ideologi.
Memaknai istilah "idealis" dan memandangnya dari perpektif hermeneutika tentu akan mengantarkan pada pemahaman utuh tentang maksud terminologi "idealis" komunikator.
Dalam Managemen mutu dikenal istilah mutu absolut dan relativ. kategori ini berdampak pada pemaknaan istilah mutu itu sendiri. linier dengan apa yang dinamakan bermutu dan tidak bermutu. sehingga muncullah konsep mutu in prespection. Pun demikian halnya istilah "idealis". Penggunaan terminologi "idealis" sangat mungkin bias ideologi sehingga masing-masing memiliki kesimpulan tentang apa itu "idealis" dan hal apa sesuatu itu kemudian dimaknai"idealis". ketika suatu "kata" telah liar memeluk kedirian subjek, tampil dalam wujud subjektiv, maka perlu dialog kritis-konstruktif untuk mengendalikan keliaran "kata" sehingga melahirkan kesepahaman inter-subjektif.
result inter-subjektif inilah yang lebih mendekati objektivitas, sehingga layak untuk dijadikan legitimasi, menjadi standart bagi justifikasi "idealis or omdo".
bicara sudut-menyudut, bisa di analisis teori komunikasi. Seringkali massege terkadang terhalang oleh NOISE sehingga terjadi misscomunication antara komunikator with komunikan. Noise sangat beragam wujud dan variasinya. ia bisa berbentuk hard (benda) soft (konsep diri) atau pesan itu sendiri. Masing-masing NOISE memerlukan penyelesaian yang khas agar terjadi komunikasi efectif. Problem konsep diri menentukan respon individu atas stimulus. stimulus yang sama bisa memunculkan respon yang berbeda pada objek yang berbeda pula, bisa jadi pula stimulus dan objek yang sama, namun diberikan pada waktu berbeda resultnya bisa berbeda.
Kongklusi "SUdut-menyudutkan" harusnya didukung dengan premis-premis analitik agar tidak terjerembak pada "dhzon". premis dan dhzon dua hal yang berbeda. premis adalah pernyataan yang terukur dan dapat dibuktikan kebenarannya. sementara dhzon sebaliknya. berfikir ala silogisme akan mengantarkan pada kebenaran, berfikir ala dhzon meggiring pada kekufuran (tertutup kebenaran). benarkah suatu pernyataan bertendensi pada "menyudutkan"? ataukah hanya karena noise-noise yang mengaburkan pesan sehingga dimaknai "penyudutan"? pertanyaan ini harus dijawab dengan kehati-hatian, karena konklusi prematur akan berdampak hebat pada relasi subjek komunikasi. Metode triangulasi memberikan kerangka teoritik untuk menilai kesahihan informasi. sebelum mendapatkan konklusi "menyudutkan" semsetinya didahului dengan cross information, chek dan ricek agar terhindar dari dhzon. itulah kenapa, agama ini memberi rambu-rambu dalam penggunaan dhzon, baik yg su' maupun khusnu. kiranya SOP Tuhan ini juga perlu diperhatikan, tidak berhenti pada SOP ritual yang tidak jelas ujungnya- prof imam suprayogo.
its my comment, by qulyani hasan
Posting Komentar