Rabu, 09 Oktober 2013

Khutbah Idul Adha 1434 H



MULAI DARI KELUARGA UNTUK MENANTI GENERASI UNGGUL

Oleh  Sukra Immawan, S.Ag disampaikan pada khutbah Idul Adha 1434H di Lapangan Babulu Penajam Paser Utara Kalimantan Timur 15 Oktober 2013

الله‘ اَكْبَر‘ الله‘ اَكْبَر‘  الله‘ اَكْبَر‘  3 ×

الله‘ اَكْبَر‘ كَبِيْراً وَالْحَمْد‘ لِلَّهِ  حَمْدًأ كَثِيْراً   كَمَا اَمَرَ, نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ قَدْ جَعَلَ الْخَلِيْلَ إِبْرَاهِيْمَ إِمَامًا لَنَا وَلِسَائِرِ الْبَشَرِ, أَشْهَد‘ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ الله‘  وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمُلْكُ الْجَبَّارُ. وَاَشْهَد‘ اَنَّ محَمَّدًا عَبْد‘ه‘ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ لِلنَّاسِ لِيُنْقِذَهُمْ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ وَيُنْجِيْهِمْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ الأَْطْهَارِ وَاَصْحَابِهِ الأَْخْيَارِ. اَمَّا بَعْد‘. فَيَا اَيُّهَاالنَّاس‘ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin dan hadirat rahimakullah
HARI ini dan selama hari-hari tasyriq,  kita kaum Muslimin di seluruh dunia menggemakan takbir, tahmid dan tahlil serta tasbih, melakukan shalat Idul Adha dan menyembelih hewan qurban. Kita kumandangkan takbir sebagai suatu pengakuan yang tulus tentang kebesaran Allah, Allah Maha Kuasa, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Pemurah, Allah Maha Pengampun.
Ya Allah, dipagi  yang mulia ini Engkau saksikan umat yang biasanya bercerai berai berpadu dengan memuji keagungan-Mu. Pagi ini, umat yang biasanya melupakan-Mu datang bersimpuh di hadapan-Mu. Pagi ini, umat yang sering mengabaikan firman-Mu, berusaha untuk kembali kepada-Mu. Pagi ini, umat yang biasanya suka gontok-gontokan merebutkan kekuasaan pasrah atas kekuasaan-Mu. Ya Allah, Rabbana, inilah hamba-hamba-Mu yang lemah, dhaif, yang  dibelenggu hawa nafsu, yang diperbudak oleh kesenangan dunia, yang bergelimang dosa berlumpur noda, berpasrah diri pada-Mu. Terserah pada Engkau, ya Allah, apakah Engkau terima pengakuan dosa dan kesalahan kami atau Engkau timpakan murka-Mu kepada kami. Ya Gafuur, ya Rahim. Wahai sang Pengampun lagi penyayang, ampuni dan sayangilah kami.

الله‘ اَكْبَر‘  الله‘ اَكْبَر‘  وَلِلَّهِ الْحَمْد‘.

Pada pagi ini kita  semua berkumpul kembali, duduk bersama-sama di atas tanah yang dingin, di halaman  Masjid Darul Ihsan ini, di lapangan terbuka yang dinaungi oleh langit yang membentang tak terhingga luasnya. Baru saja  ditempat ini kita bersama-sama menggemakan  pujaan  kebesaran  kepada  Allah swt.  sehingga  langit  di sekitar kita gemuruh dengan suara takbir, tahmid dan tahlil. Setelah itu kitapun serentak sujud, meratakan dahi di atas tanah seraya menyampaikan pengakuan keagungan Allah Swt.
Bersama-sama kita, jutaan kaum Muslimin di seluruh dunia semua melakukan hal yang sama. Saat ini kita – jutaan umat Islam – bergerak, bertakbir, bertasbih, bertahmid dan bersujud bersama-sama. Seratus enam puluh delapan ribu jamaah Haji Indonesia bersama-sama dengan jamaah haji lain dari seluruh penjuru dunia, pada saat ini sedang berada di Mina untuk melempar jumrah, memperagakan kembali “perangnya” Nabi Ibrahim as. melawan Iblis laknatullah, kejadian tersebut ribuan tahun yang silam

الله‘ اَكْبَر‘  الله‘ اَكْبَر‘  وَلِلَّهِ الْحَمْد‘.

Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.
Kemarin para jamaah haji telah menyempurnakan ibadah haji mereka dengan melaksanakan wukuf di Arafah. Jutaan kaum Muslimin berkumpul disana dengan pakaian “seragam Ihram”, yaitu kain kafan, tanpa adanya perbedaan antara si kaya dan si miskin, antara pejabat atau rakyat jelata, antara atasan dengan bawahan. Padang Arafah adalah merupakan miniatur Padang Mahsyar yaitu di mana seluruh perbuatan manusia selama hidup didunia ini dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul Izzati. Di tempat ini tidak ada yang dapat dibanggakan oleh seseorang kepada orang lain, sebab semuanya larut dalam kebersamaan yang total. Si kaya tidak dapat memamerkan kekayaannya, pejabat tidak dapat menunjukkan kekuasaannya, sebab status sosial sudah tidak berguna lagi.
Wukuf di Arafah adalah pengalaman batin yang sangat berharga bagi para jamaah haji. Tidak semua orang sama merasakannya, sesuai dengan kadar keimanan masing-masing dan sesuai niat yang ditanamkan sewaktu berangkat dari rumah.
Orang yang dengan penuh keimanan dan keikhlasan tanpa maksud-maksud tertentu dalam melaksanakan ibadah haji maka tentu saja ia akan mampu meraih predikat Haji Mabrur. Orang yang telah mencapai predikat haji mabrur tentu saja tidak memandang orang berdasarkan pangkatnya, tidak memandang orang karena kedudukannya, tidak memandang orang karena hartanya. Dia tidak gentar apabila berhadapan dengan penguasa zhalim sekalipun, dia tidak rendah diri apabila berhadapan dengan orang yang kaya raya. Sebaliknya, ia tidak akan menganggap remeh seorang hamba hanya karena kemiskinannya, sebab dimatanya semua manusia adalah sama dan sederajat. Ia hanya berpegang pada satu keyakinan bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang paling takwa kepada Allah swt. 
Orang yang mampu mencapai haji yang mabrur maka sehabis berhaji pastilah akhlaknya semakin baik, sebab orang yang benar-benar melaksanakan ibadah haji tentulah ia akan selalu memperhatikan dan melaksanakan ketentuan Allah dalam berhaji :
فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوْقَ وَلاَ جِدَالَ فِى الْحَجِّ
Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantah di dalam masa mengerjakan haji” (Al- Baqarah 197)

Apabila seseorang berhaji dan mampu mencapai haji yang mabrur maka akan terlihat jelas bahwa dia tidak mau melakukan perbuatan yang rafats (perbuatan, perkataan yang mengarah kepada nafsu syahwat/seks, porno), berbuat fasik dan suka berkelahi. Maka seorang yang berhaji tetapi tetap saja berbuat dan berkata yang porno, fasik dan suka berbantah-bantahan dengan orang lain maka hajinya perlu dipertanyakan, sebab dia tidak mampu menerapkan nilai-nilai haji dalam kehidupannya sehari-hari setelah berhaji. Haji yang mabrur adalah orang yang mampu mentransfer nilai-nilai haji dalam dirinya,  mampu menjadikan nilai-nilai haji itu bagian dari kehidupannya, sehingga wajarlah dia mendapatkan imbalan :

الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

Haji yang mabrur, tak ada yang pantas balasan baginya kecuali mendapatkan surga”.

الله‘ اَكْبَر‘  الله‘ اَكْبَر‘  وَلِلَّهِ الْحَمْد‘.
Kaum Muslimin Rahimakullah.

Bagi kita yang tidak berkesempatan untuk pergi haji tahun ini maka kita yang memiliki kemampuan diperintahkan untuk melaksanakan ibadah qurban sebagai tanda syukur atas segala nikmat rezeki yang kita terima selama ini, begitu kerasnya perintah berqurban ini sampai-sampai Rasulullah bersabda :
مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا ( احمد و ابن ماجه)
Barang siapa mempunyai kemampuan tetapi ia tidak mau melaksanakan  ibadah qurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami”

Pelaksanaan ibadah qurban ini tidak terlepas dari sejarah yang ditorehkan oleh seorang Nabi Ibrahim yang telah diangkat Allah sebagai Khalilullah karena begitu besar ujian dan cobaan yang mampu dilewatinya. Ujian yang terberat adalah adanya perintah Allah agar menyembelih putranya Ismail, seorang anak yang sudah sekian lama ditunggu-tunggu dan diharap-harap hampir ratusan tahun, kini datang perintah Allah untuk disembelih. Betapa tergoncangnya jiwa Ibrahim ketika itu sewaktu menerima perintah Allah, sebab  tidak pernah terlintas dalam benaknya perintah Allah sedahsyat itu.
Barangkali kita yang memliki keluarga dan keluarga itu sangat kita cintai tentu saja dapat merasakan betapa tergoncangnya jiwa Ibrahim waktu itu. Anak kita yang sedang sakit demam saja betapa gelisahnya kita bahkan terkadang sampai panik memikirkannya, begitu pula dengan Ibrahim saat itu.
Ismail adalah putra belahan jiwa, sibiran tulang yang sudah sangat lama sekali diidam-idamkan, belum pupus rasa gembira bertemu  setalah lama berpisah  sekian lamanya, tiba-tiba harus berpisah pula dengan orang yang sangat dicintai itu, dan perpisahan itupun dengan cara yang tragis sekali, sehingga membuat hati Ibrahim sangat duka yang tiada tara. Begitu menerima perintah Allah itu, Ibrahim yang terkenal sebagai hamba Allah yang paling patuh, tokoh pemberontak yang paling terkenal dalam sejarah, seketika menjadi gemetar dan goyah, seakan-akan mau roboh, tokoh sejarah yang tak terkalahkan itu seakan-akan sedang mengalami kehancurannya, batinnya sangat tergoncang, namun wahyu yang turun lewat mimpi itu adalah perintah Allah yang harus dilaksanakan. Batinpun bergolak semakin menjadi-jadi. Pejuang yang tak pernah gentar menghadapi intimidasi dari musuh itu, menjadi goncang, lemah tak bertenaga, takut, gelisah, termangu-mangu dan frustrasi, ia mengalami konfleks di dalam batinnya, siapakah yang lebih dicintainya, Allah ataukah anaknya Ismail ? Ini adalah putusan yang sangat delematis sekali. Namun karena Ibrahim adalah seorang pejuang sejati, iapun menang dalam peperangan batin tersebut dan setia terhadap perjuangannya,  maka    Ibrahim memilih Allah dan bersedia untuk mengurbankan anaknya semata wayang itu hanya demi memenuhi perintah Allah.
الله‘ اَكْبَر‘  الله‘ اَكْبَر‘  وَلِلَّهِ الْحَمْد‘.
Kaum Muslimin Rahimakullah.
Dengan suara yang lirih dan dengan penuh perasaan ragu, perintah tersebut disampaikan juga kepada Ismail :
يَا بُنَيَّ إِنِّ أَرَى فِى الْمَنَامِ أَنىِّ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
“Wahai anakda, sesungguhnya aku bermimpi diperintah Allah untuk menyembelihmu, maka bagaimanakah pendapatmu?”

Dengan perasaan yang mantap ismailpun menjawab :
يَآأَبَتِ افْعَلْ ماَتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى~إِنْ شَآءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ
Wahai ayahanda, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan, insya Allah ayahanda akan mendapati anakanda termasuk orang-orang yang sabar” (Ash- Shafaat : 103)

Mendengar jawaban putranya seperti itu maka barulah sadar bahwa Ibrahim dahulu pernah berdo’a agar diberikan seorang anak yang saleh (Ash Shafat :100) dan sekarang do’a tersebut telah dikabulkan oleh Allah, maka Ibrahimpun memuji dan bersyukur kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya.
Setelah kedua siap untuk melaksanakan perintah Allah, Allahpun lalu memuji Ibrahim ( Ash-Shafat 102-105) kemudian Allah berfirman :
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ( الصفات : 107 )
“Dan Kami tebus dia dengan hewan kibasy yang besar”.

الله‘ اَكْبَر‘  الله‘ اَكْبَر‘  وَلِلَّهِ الْحَمْد‘.
Kaum Muslimin Rahimakullah.

Itulah satu drama kehidupan yang sangat luar biasa dalam sejarah kehidupan manusia yang tidak ada tandingnya, di dalamnya terungkap : Betapa rendahnya hati seorang ibu dalam berkurban, keikhlasan dari seorang anak demi kepatuhan kepada orangtuanya, serta tawakkalnya seorang ayah dalam menjunjung tinggi titah Allah. Semua itu dilakukan tanpa pamrih, tanpa mengharap balasan apapun, tanpa mengharap jabatan dan panggkat. Ibrahim seorang ayah yang sepatutnya diteladani oleh setiap ayah saat ini, bagaimanapun kecintaan kepada keluarga tidak membuat ia berbuat yang dibenci oleh Allah, tidak menghalalkan cara demi membahagiakan keluarga
Siti hajar, seorang ibu teladan sejati yang selayaknya menjadi idola oleh para ibu-ibu saat ini. Ia adalah seorang wanita yang sangat tabah dan sabar, bersedia ditinggalkan suami di padang pasir yang tandus untuk melaksanakan tugas suci, tidak tergiur dengan berbagai rayuan apapun, namun kasih sayang dan rasa tanggung jawabnya yang tulus dalam menjaga, membesarkan dan mendidik anaknya tak pernah diabaikan walaupun dia harus menanggung berbagai penderitaan, haus dan lapar. Sangat kontras sekali dengan para ibu sekarang ini yang berlomba-lomba mengejar karir setinggi-tingginya, demi gengsi terkadang harus meninggalkan kewajiban untuk mendidik anaknya sehingga tidak jarang setelah anaknya terjerumus pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dia hesteris berteriak kenapa anak saya sampai melakukan perbuatan yang memalukan itu, setelah anaknya sudah tidak dapat ditolong lagi  barulah dia sadar, apa boleh buat nasi telah menjadi bubur.
Ismail, seorang tokoh remaja yang pantas menjadi idola para remaja sekarang. Di usia yang masih belia, ia rela menyerahkan satu-satunya nyawa yang dimilikinya demi taqwanya kepada Allah dan kepatuhannya kepada orangtua.

Yang demikian adalah satu pengorbanan yang luar biasa sekali dan tidak mungkin timbul begitu saja, tentu saja melalui pembinaan  yang  begitu matang dan terarah. Pembinaan terhadap generasi muda adalah merupakan suatu yang harus kita lakukan. Banyak saat ini generasi muda dijadikan sebagai alat demo untuk menggulingkan seseorang oleh segelinter masyarakat, organisasi pemuda hanyalah dijadikan alat kepentingan pribadi, tunggangan politik sehingga sampai kepada posisi yang terhormat. Padahal sejarah telah membuktikan bahwa perjuangan masa lalu, para pemuda yang tampil ke panggung sejarah adalah mereka yang ideal, mereka adalah para mujtahid yang telah memberikan pengorbanan jiwa dan raganya untuk membebaskan negeri ini dari cengkraman penjajah.
إِنَّ فِى يَدِ الشُّبَّانِ أَمْرَ الأُْمَّةِ وَفِى أَقْدَامِهِمْ حَيَاتُهَا
“Sesungguhnya di tangan pemudalah terletak kejayaan umat dan dalam derap langkah merekalah kelangsungannya

الله‘ اَكْبَر‘  الله‘ اَكْبَر‘  وَلِلَّهِ الْحَمْد‘.
Kaum Muslimin Rahimakullah.

Saat ini kita perlu sekali untuk menjadikan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail  sebagai teladan hidup, untuk itu perlu adanya usaha untuk mendewasakan diri sendiri. Kedewasan atau kesadaran diri dimulai dari pendidikan yang paling dekat, yaitu besarnya pengaruh pendidikan keluarga. Betapa pentingnya pendidikan agama bagi kita semua
Sejenak kami sampaikan kisah Nabi Isa sedang menasihati siswa-siswanya

Suatu hari Nabi Isa menasihati murid-muridnya untuk bersikap hati-hati terhadap harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua. Suatu hari, Nabi Isa memulai dengan nasihatnya, malaikat penjaga surga ketika berjalan mengontrol  teman surga bertemu dengan dua orang yang tengah bercanda-canda. Suasana bertambah ceria dengan datangnya malaikat yang ikut bergabung. Di tengah suasana surga itu mereka teringat anak cucunya yang masih hidup di dunia. “Hai, sahabat kami malaikat yang baik, tolonglah kami dibukakan jendela surga ini barang sejenak saja karena kami ingin sekali melihat anak cucu kami yang masih tinggal di bumi. “ begitu pinta mereka. “baiklah,” kata malaikat. “Silakan kalian berdua berdiri dekat jendela surga untuk kami bukakan sejenak.”

Demikianlah, setelah dua penghuni surga melihat dunia tidak lebih dari lima menit maka suasana ceria penuh canda tadi hilang karena salah satu dari mereka tiba-tiba menangis pilu, sementara yang lainnya tampak berseri. “Hai, kawan.” Ujar malaikat, “Coba ceritakan apa yang terjadi dengan keluargamu, aku sudah menurun permintaanmu untuk membukakan pintu surga. Mestinya engkau bergembira setelah keadaan keluarga yang kau tinggalkan. Namun, nyatanya engkau malah kelihatan  amat sedih. Apa yang kau lihat dan apa yang bisa aku bantu untuk meringankan penderitaanmu?”

Orang itu pun menuturkan kepedihannya. Katanya, ketika dia menintip ternyata keadaan anak cucunya tengah berebut warisan yang dia tinggalkan. Tidak hanya berubut, bahkan gara-gara warisan itu, saudara kandung berubah menjadi musuh. Pada hal, lanjut penghuni surga tadi, dulu dia berpikir bahwa dengan bekerja keras mengumpulkan harta warisan, dia berharap anak cucunya sampai tujuh turunan akan hidup makmur, tanpa harus bekerja keras seperti orang tua mereka. Akan tetapi, ternyata perhitungannya meleset. Kini, justru warisan itu menjadi pangkal malapetaka.

Sambil mencoba menenangkan penghuni surga yang masih menunduk pilu, malaikat berpaling kepada yang lain. “ Ha, Kawan? Apa gerangan yang kau saksikan di dunia sehingga engkau begitu tampak lebih gembira?” Dengan wajah berseri, teman tadi menjelaskan keadaan anak cucunya yang masih bahagia. Keluarganya hidup utuh dan harmonis serta dicintai masyarakat sekelilingnya. Tidak ada yang lebih membahagiakan orang tua, kecuali melihat anak cucunya hidup rukun  dan tampil menjadi pemimpin masyarakat berkat pendidikan dan keimanan yang ditanamkan oleh orang tuanya. “Rupanya pilihanku benar. Bahwa warisan terbaik itu bukan tumpukan harta, tetapi kualitas pendidikan yang baik dan nilai-nilai keagamaan, “katanya.
Kisah tersebut mengingatkan kita kepada hadis Nabi Saw
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ
“Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya” HR. Muslim

Coba kita baca Firman Allah
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً
4:9] Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Ayat ini menunjukkan bahwa 1)kita orang tua harus memperhatikan anak-anak turun kita menjadi orang yang kuat secara ekonomi. Tidak meninggalkan anak-anak yang lemah lagi peminta-minta. 2)kita orang tua harus memperhatikan anak-anak turun kita agar menjadi orang yang bertakwa, dan 3)kita orang tua harus memperhatikan anak-anak turun kita agar menjadi orang yang berakhlak yang baik.
Pesan ayat ini sesungguhnya agar generasi kita umat Islam menjadi generasi yang unggul. Untuk menjikan generasi yang unggul perlu upaya dan usaha keras. Usaha yang dilakukan dengan pendidikan yang baik.

Generasi unggul dicontohkan oleh Ibrahim dan Hajar sebagai orang tua dan Ismail sebagai anak.  Orang tua harus mewariskan keturunannya kuat iman taqwanya, ekonominya, pendidikannya, bukan semata-mata mewariskan harta hingga tujuh turunan. Namun pada akhirnya harta itu sebagai pemicu api permusuhan dan putusnya persaudaraan.

Kaum Muslimin Rahimakullah.
Akhir-akhir ini kita kaget laksana disambar petir ketika ketua MK digelandang KPK. MK sebagai benteng terakhir orang mencari keadilan di negeri ini runtuh. Negeri ini sedang mengalami  buta moral kata Prof. Dr. Din Syamsudin ketua PP. Muhammadiyah yang perlu upaya serius. Momentum idul adha dapat dijadikan pelajaran agar kita semua melek huruf MORAL  agar bangsa terbesar umat Islamnya didunia bukan tertulis tinta korupsi yang meruntuhkan semua sendi kehidupan, sosial, ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Hal ini, karena kita dihinggapi penyakit hubbudunya, serakah. Pada hal Allah telah berikan kepada kita segalanya.
فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
[55:32] Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Sebelum saya akhiri khutbah ini marilah keluarga mukmin selalu meningkatkan mutu pendidikan keluarga mulai dari diri kita sebagai contoh bukan sebatas kata-kata dan retorika. Perbuatan akan mengalahkan ribuan kata.  Pendidikan yang menguatkan iman dan taqwa sebagai landasan kuatnya keunggulan generasi kita yang akan datang. Generasi yang tidak buta moral. Generasi yang tangguh betapapun besarnya gelombang dan ancaman.
الله‘ اَكْبَر‘  الله‘ اَكْبَر‘  وَلِلَّهِ الْحَمْد
Kaum Muslimin Rahimakullah.

Akhirnya dengan agama Allah kita dapat hidup dan dengan  keimanan yang kokoh kita akan wafat, dengan bekal yang cukup kita kembali menghadap ilahi. Mudah-mudahan kita selalu di bawah lindungan Allah Yang Maha Besar, Maha Kasih, Maha Sayang.  Kemudian marilah kita semua menadahkan kedua tangan kita, mengkonsentrasikan hati kita untuk berdo’a kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyantun.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْنِ, الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا نَاعِمِيْنَ, حَمْدًا شَاكِرِيْنَ, حَمْدًا يُوَافِى نِعَامَهُ وَيُكَافِى مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِ لِجَلاَلِ وَجْحِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ صُلْطَانِكَ, اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سّيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَإَصْحَابِهِ إَجْمَعِيْنَ
Ya Allah ya Tuhan kami, Tuhan yang Maha Kuasa, Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Oenyayang, dengan curahan kasih sayang-Mu ya Allah kami mampu berhadir di tempat ini untuk memenuhi penggilan-Mu, menunaikan shalat Idul Adha bersama-sama.
Ya Allah ya Tuhan kami, anugerahilah kami kekuatan iman, agar kami tidak mudah gamang dalam menghadapi dahsyatnya gelombang dan cobaan hidup ini.
Ya Allah ya Tuhan kami, bimbinglah perjalanan hidup kami ke jalan-Mu  yang lurus, tunjukilah kepada kami bahwa yang benar itu tanpak sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk melaksanakannya, tunjukilah pula kepada kami bahwa yang salah itu adalah suatu kesalahan dan berilah kami kemampuan untuk menghindarinya.
Ya Allah ya Tuhan kami, kami semua yang berkumpul disini adalah hamba-hamba-Mu yang lemah, dlaif, penuh dengan dosa dan kesalahan, oleh sebab itu ya Allah berilah kami petunjuk-Mu agar kami mampu bertobat dan selalu memperbaiki diri kami.
Ya Allah ya Tuhan kami, erat dan kuatkanlah persatuan dan kesatuan diantara kami, jauhkanlah kami dari benih-benih perpecahan dan sengketa yang dapat memecah belah  dan mengadu domba kami. Hindarkanlah kami dari rasa iri dan dengki terhadap sesama, jadikanlah kami sebagai umat yang selalu mengabdi kepad nusa dan bangsa dengan penuh ketulusan.
Ya Allah ya Tuhan kami, sebentar lagi bangsa kami akan melaksakan Pemilihan Umum, satukanlah hati dan niat kami untuk memilih pemimpin kami yang taat kepada-Mu. Berilah kami hidayah agar kami tidak keliru dalam menentukan pilihan kami sehingga bangsa dan negara kami mampu berada di bawah ridla-Mu, menjadi Baldatun Thayyibatun Warabbun Gafuur.
Ya Allah ya Tuhan kami, kami sudah pernah merasakan betapa pedihnya rasa duka karena kesalahan kami ingin merebut tampuk kekuasaan, karena ego kami sehingga terjadilah kerusuhan yang menelan banyak jiwa yang tidak bersalah, oleh sebab itu ya Allah  apabila ada orang yang mengulangi hal yang sama maka biarlah mereka yang Engkau ambil sebagai korbannya, janganlah kami yang tidak tahu apa-apa ini.
Ya Allah ya Tuhan kami, kami semua bersimpuh di hadapan-Mu, di Majelis-Mu yang penuh berkah ini, inilah kami yang penuh berlumuran noda dan bergelimang dosa. Rasanya tidak pantas kami tengadahkan wajah kami, tangan kami terasa kaku, lidah kami terasa kelu, kami sadar tidak ada satu planetpun di dunia ini yang mampu menandingi besarnya dosa kami, tidak ada pasir dipantai yang mampu menandingi betapa banyaknya kesalahan kami, namun kami tetap penuh harap, memohon belas kasih dan sayang-Mu. Bila Engkau palingkan muka-Mu yang maha kasih itu, bila Engkau enggan mengampuni dosa-dosa kami, kepada siapa lagi kami yang lemah ini, yang penuh noda dan dosa ini mengadukan nasib kami.
Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa dan kesalahan kami, dosa dan kesalahan kedua orangtua kami, dosa dan kesalahan orang yang pernah membesarkan kami, dosa dan kesalahan orang-orang yang pernah mendidik dan membimbing kami, dosa dan keslahan orang-orang yang kami cintai dan orang-orang yang mencintai kami. Ampunilah pula ya Allah dosa dan kesalahan para pemimpin kami yang selalu menegakkan mar ma’ruf nahi munkar, yang selalu menegakkan keadilan dan kebenaran di nusantara yang kami cintai ini.
Ya Allah ya Tuhan kami, Engkau Maha pengampun, Engkau Maha Bijaksana, Engkau Maha Kuasa untuk berbuat apa saja yang Engkau kehendaki,. Oleh sebab itu Ya Allah kabulkanlah doa dan pinta kami ini. Amin ya Rabbal Alamin.

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Best Patner

Copyright © 2012. ZUKRA SMPN3PPU - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Blog Bamz