Minggu, 06 Oktober 2013

ASPEK-ASPEK PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kurikulum pada dasarnya berintikan empat aspek utama yaitu : tujuan pendidikan, isi pendidikan, pengalaman belajar dan penilaian. Interelasi keempat aspek itu serta aspek tersebut dengan kebijaksanaan pendidikan senantiasa perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum (Nana Syaudih Sukmadinata, 2012 : 152). Pengembangan kurikulum diawali dengan perencanaan, implementasi dan evaluasi berlangsung terus menerus menyesuaikan dengan kebutuhan perubahan masyarakat.
Pada prinsipnya pengembangan kurikulum berkisar pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi perkembangan pendidikan. Manusia, disisi lain sering kali memiliki keterbatasan kemampuan untuk menerima, menyampaikan dan mengolah informasi, karenanya diperlukan proses pengembangan kurikulum yang akurat dan terseleksi dan memiliki tingkat relevansi yang kuat. Dalam hal ini merealisasikannya maka diperlukan suatu model pengembangan kurikulum dengan pendekatan yang sesuai.
Adapun aspek-aspek terkait dengan pengembangan kurikulum antara lain : definisi pengembangan kurikulum, dimensi-dimensi kurukulum, prinsip-prinsip pengembangan kurikulum, karakteristik pengembangan, kerangka pengembangan, fakor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, sumber daya manusia dan hambatannya.

B.    Rumusan Masalah

1.     Apakah yang disebut dengan pengembangan kurikulum ?
2.      Apa saja aspek-aspek dari pengembangan kurikulum ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pengembangan Kurikulum
Pada dasarnya pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber, dan alat pengukur pengembanagn kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber unit, rencana unit, dan garis pelajaran kurikulum lainnya untuk memudahkan proses belajar mengajar (Oemar Hamalik, 2013: 183-184).
   Definisi lain, pengembangan kurikulum adalah mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh yang sifatnya positif, yang datangnya dari luar ataupun dari dalam sendiri, dengan harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik. Oleh karena itu pengembangan kurikulum hendaknya bersifat antisipatif, adaptif, dan aplikatif (Dakir, 2010 :  91).
Di Indonesia ada sepuluh kurikulum yang pernah diterapkan yaitu, Rencana  Pelajaran 1947, Rencana Pelajaran 1952, kurikulum 1964, kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004, dan kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan kurikulum 2013.

B.     Dimensi-Dimensi Pengembangan Kurikulum
Kurikulum sebagai perangkat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak secara keseluruhan, khususnya kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari-hari perlu dipikirkan pengalaman apa yang diperlukan oleh siswa untuk memenuhi kebutuhan tersebut
Dalam pengembangannya, kurikulum melibatkan berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang secara langsung ataupun tidak langsung memiliki kepentingan dengan keberadaan pendidikan yang dirancang, yaitu mulai dari ahli pendidikan, ahli bidang studi, guru, siswa, pejabat pendidikan, para praktisi maupun tokoh panutan atau anggota masyarakat lainnya.
S. Hamid Hasan (1988)  mengutip pendapat George A. Beauhcamp (1975) ada 4 dimensi kurikulum, yaitu kurikulum sebagai  suatu ide atau konsepsi, kurikulum sebagai rencana tertulis, kurikulum sebagai kegiatan, dan kurikulum sebagai hasil belajar. Nana S. Sukamdinata melihat melihat kurikulum dari tiga dimensi, yaitu kurikulum sebagai ilmu, kurikulum sebagai sistem dan kurikulum sebagai rencana.
Dimensi Kurikulum sebagai ide, biasanya dijadikan langkah  awal dalam pengembangan kurikulum, yaitu ketika melakukan studi pendapat.
Dimensi kurikulum sebagai sebagai suatu rencana tertulis adalah kelanjutan dari kurikulum sebagai ide wujudnya sudah nyata dalam suatu dokumen tertulis, pengembangan  kurikulum pada aspek-aspek tujuan, kompetensi, struktur kurikulum, kegiatan dan pengalaman belajar, organisasi kurikulum, manajemen kurikulum, hasil belajar dan sistem evaluasi.
Kurikulum sebagai suatu kegiatan merupakan dimensi kurikulum sebagai kenyataan di lapangan yang dapat berkembang sesuai kebutuhan di lapangan. Para ahli berbeda pendapat, apakah kegiatan  merupakan kurikulum atau bukan. Ahli yang tidak setuju seperti MacDonald (1965), Johnson (1971), Beuchamp (1975) menyatakan bahwa kurikulum adalah a written document, sedang Tanner and Tanner (1980), dan Schubert (1986) menyatakan bahwa kegiatan atau proses termasuk kurikulum.
Dimensi kurukulum sebagai hasil belajar bagian dari evaluasi dalam pencapaian indikator. Pengembangan kurikulum pada alat evaluasi yang senantiasa diperlukan inovasi dan kompetensi sehingga dapat mencapai secara menyeluruh dan berkesinambungan  kesemua ranah.
Dimensi kurikulum sebagai suatu disiplin ilmu, dimaksudkan kurikulum memiliki konsep, prosedur, asumsi, dan  teori yang dapat dianalisis oleh para ahli kurikulum.  Dimensi kurikulum sebagai suatu sistem  bahwa kurikulum merupakan bagian tidak terpisahkan dari pendidikan, sekolah dan masyarakat (Zainal Arifin, 2012 : 8-12).

C.     Prinsip-prinsip  Pengembangan Kurikulum
Secara umum ada beberapa prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu:
1.       Prinsip berorientasi tujuan
Prinsip berorientasi tujuan berarti bahwa sebelum bahan ditentukan, langkah yang perlu dilakukan oleh seorang pendidik adalah menentukan tujuan terlebih dahulu.
2.      Prinsip relevansi
Ada dua jenis relevansi yang harus dimiliki kurikulum, yaitu relevan keluar dan relevan di dalam. Relevansi keluar dimaksudkan tujuan, isi, dan proses belajar tercakup dalam kurikulum harus relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Kurikulum harus memiliki relevansi di dalam, yaitu konsistensi antar komponen kurikulum dari tujuan, isi, proses belajar, dan penilaian sebagai suatu kesatuan.
Soetopo dan Soemanto dan Subandijah mengungkapkan relevansi sebagai berikut:
a.       relevansi pendidikan dengan lingkungan anak didik
b.      relevansi pendidikan dengan kehidupan yang akan datang.
c.       relevansi pendidikan dengan dunia kerja.
d.      relevansi pendidikan dengan ilmu pengetahuan.
3.       Prinsip efisiensi
Prinsip efisiensi sering kali di konotasikan dengan prinsip ekonomi, yang berbunyi: dengan modal atau biaya, tenaga, dan waktu yang sekecil-kecilnya akan dicapai hasil yang memuaskan. Efisiensi proses belajar mengajar akan tercipta, apabila usaha, biaya, waktu, dan tenaga yang digunakan untuk menyelesaikan program pengajaran tersebut sangat optimal dan hasilnya bisa optimal.
4.      Prinsip efektivitas
Prinsip efektivitas yang dimaksudkan adalah sejauh mana perencanaan kurikulum dapat dicapai sesuai dengan keinginan yang telah ditentukan.
5.       Prinsip fleksibilitas
 Fleksibilitas berarti tidak kaku, dan ada semacam ruang gerak yang memberikan kebebasan dalam bertindak.
6.      Prinsip Integritas
Prinsip ini bahwa kurikulum dikembangkan didasarkan suatu kesatuan yang bermakna dan berstruktur. Artinya suatu keseluruhan ini mempunyai arti, nilai, manfaat tertentu.  Prinsip ini berasumsi bahwa setiap bagian yang ada dalam keseluruhan itu berada dan berfungsi dalam struktur tertentu.
7.      Prinsip kontinuitas
Prinsip kontinuitas dalam konteks ini bisa kontinuitas yang bersifat vertikal dan kontinuitas yang bersifat horizontal. Kontinuitas vertikal adalah kontinuitas antar level pendidikan yang satu dengan yang lainnya. Kontinuitas horizontal dapat dipahami sebagai ada sambungan antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain.
8.      Prinsip Sinkronisasi
Kurikulum dikembangkan dengan mengusahakan agar semua kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler serta pengalaman belajar lainnya dapat serasi, selaras, seimbang dan setujuan, sehingga tidak terjadi kontra produktif antar kegiatan.
9.      Prinsip Objektivitas
Kurikulum dikembangkan dengan mengusahakan agar semua kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler dilakukan dengan tatanan ilmiah dan mengesampingkan pengaruh subjektivitas, emosional dan irasional.
10.  Prinsip Demokrasi
Kurikulum dikembangkan dengan dilandasi nilai-nilai demokrasi, yaitu pengahargaan terhadap kemampuan, menjunjung tinggi keadilan, menerapkan kesempatan dan memperhatikan keragaman peserta didik.
Beauchamp mengemukakan 5 prinsip dalam pengembangan teori kurikulum, yaitu (mengutip Ibrahim, 2006) :
1.      Setiap teori kurikulum harus dimulai dengan perumusan definisi tentang rangkaian kejadian yang dicakupnya.
2.      Setiap teori kurikulum harus mempunyai kejelasan tentang nilai-nilai dan sumber-sumber yang menjadi titik tolaknya.
3.      Setiap teori kurikulum perlu menjelaskan karakteristik desain kurikulumnya
4.      Setiap teori kurikulum harus menggambarkan proses-proses penentuan kurikulum serta interaksi diantara proses tersebut.
5.      Setiap teori kurikulum hendaknya mempersipkan ruang untuk dilakukannya proses penyempurnaan.
Dengan demikian  berbagai faktor tersebut mempunyai pengaruh signifikan terhadap pembuatan keputusan kurikulum (Oemar Hamalik, 2013 : 185).
Menurut Nana Syaudih Sukmadinata membagi prinsip-prinsip pengembangan kurikulum  terdiri atas  2 garis besarnya  prinsip pengembangan yaitu : prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus. Prinsip-prinsip umum terdiri atas :
a.       Prinsip Relevansi
b.      Prinsip Flesibelitas
c.       Prinsip Kontinuitas
d.      Prinsip Praktis, dan
e.       Prinsip Efektivitas
Sedangkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum secara khusus adalah sebagai berikut :
a.       Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan
b.      Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
c.       Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
d.      Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
e.       Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian (Nana Syaudih Sukmadinata, 2012 : 152)
D.    Karakteristik dalam Pengembangan Kurikulum
Ada beberapa karakteristik dalam pengembangan kurikulum, yaitu ;
1.      Rencana kurikulum harus dikembangkan dengan tujuan (goal dan genaral objectives) yang jelas. Salah satu maksud utama rencana kurikulum adalah mengidentifikasi cara untuk tercapainya tujuan.
2.      Suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan disekolah merupakan bagian dari kurikulum yang dirancang selaras dengan prosedur pengembangan kurikulum.
3.      Rencana kurikulum yang baik dapat menghasilkan terjadinya proses belajar yang baik, karena berdasarkan kebutuhan dan minat siswa.
4.      Rencana kurikulum harus mengenalkan dan mendorong diversitas di antara pelajar. Kegiatan belajar akan menyenangkan jika Rencana kurikulum menyediakan berbagai kesempatan yang memungkinkan mereka mengembangkan potensi pribadi, melakukan berabagai aktivitas, dan memanfaatkan berbagai sumber belajar di sekolah.
5.      Rencana kurikulum harus menyiapkan semua aspek situasi belajar mengajar, seperti tujuan, konten, kegiatan, sumber,  alat pengukuran, penjadualan, dan fasilita yang menunjang.
6.      Rencana kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa pengguna. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus mengandung gagasan yang jelas tentang tahapan kognitif, kebutuhan perkembangan, gaya belajar, prestasi awal, konsep diri sebagai pelajar, dan lain-lain.
7.      The subject arm approuch adalah pendekatan kurikulum yang digunakan di sekolah. Penggunaan pendekatan lain pada semua program sekolah juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan memenuhi tujuan pendidikan yang luas serta diversitas kebutuhan pada siswa.
8.      Rencana kurikulum harus memberi flesibelitas untuk memungkinkan terjadinya perencanaan guru-siswa. Perencanaan guru siswa memberi kesempatan bagi siswa untuk mempelajari keterampilan perencanaan.
9.      Rencana kurikulum harus memberi fleksibelitas yang memungkinkan masuknya ide-ide spontan selama terjadinya interaksi guru-siswa dalam situasi belajar yang khusus.
10.  Rencana kurikulum sebaiknya merefleksikan keseimbangan antara kognitif, afektif dan psikomotor(Oemar Hamalik, 2013 : 184-185)
E.     Kerangka Pengembangan Kurikulum
1.      Asumsi
Pengembangan kurikulum menekankan pada keharusan pengembangan kurikulum yang telah terkonsep dan diinterpretasikan, sehingga usaha-usaha dalam reformasi pendidikan, kurikulum yang berimbang dan inovasi jangka panjang. Kurikulum didefinisikan sebagai suatu rencana untuk mencapai hasil-hasil yang diharapkan. Kurikulum terdiri atas beberapa komponen, yaitu hasil belajar dan struktur(sekuens berbagai kegiatan), dalam hal ini konsekuansinya keharusan penggunaan dasar teoritis untuk pengembangan kurikulum adalah pada pembelajaran (Oemar Hamalik, 2013 : 186)
2.      Tujuan Pengembangan kurikulum
Tujuan pengembangan kurikulum adalah goals dan objectives. Goals dinyatakan dalam rumusan yang lebih abstrak dan bersifat umum, pencapaiannya relatif jangka panjang. Tujuan sebagai obejctives lebih bersifat khusus, operasional dan pencapaiannya dalam jangka pendek.
Tujuan berfungsi untuk menentukan arah seluruh upaya pendidikan atau unit organisasi lainya, sekaligus menstimulasi kualitas yang diharapkan. Tujuan pendidikan pada umumnya berdasar pada filsafat yang dianut.


3.      Penilaian Kebutuhan
Kebutuhan merupakan hal pokok dalam perencanaan. Penilaian kebutuhan adalah prosedur baik secara terstruktur maupun informal, untuk mengidentifikasi kesenjangan antara situasi “disini dan sekarang” dan tujuan yang diharapkan.
4.      Konten Kurikulum
Konten kurikulum dipandang sebagai informasi dari bahan-bahan yang dicetak, rekaman audio-visual, komputer dan media elektronik lainnya atau yang ditransmisikan secara lisan. Dalam hal pengembangan kurikulum seleksi konten bagian tugas, penentuan konten kurikulum harus disertai dengan perencanaan aktivitas yang bermakna.
5.      Sumber Materi Kurikulum
Materi kurikulum diperoleh dari buku-buku teks, dan petunjuk bagi guru. Sumber-sumber juga dapat diperoleh dari karya-karya yang diterbitkan oleh asosiasi profesional, penerbitan berkala, dan buku-buku teks yang relevan.
6.      Implementasi Kurikulum
Fakor yang dapat mempengaruhi implementasi kurikulum seperti, kesiapan sumber daya, faktor budaya masyarakat, dan lain-lain.  Hal yang perlu diperhatikan implementasi kurikulum adalah materi kurikulum,  struktur organisasi, peran atau perilaku, pengetahuan dan internalisasi nilai. Keberhasilannya ditentukan oleh aspek perencanaan dan strategi implementasinya. Pada prinsipnya implementasi ini mengintegrasikan aspek-aspek filisofis, tujuan, subject matter, strategi dan kegiatan mengajar serta evaluasi dan feedback.

7.      Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memperbaiki subtansi kurikulum, prosedur implementasi, metode instruktianal, serta pengaruhnya pada belajar dan perilaku siswa.
8.      Keadaan di Masa Mendatang
Cepatnya perubahan sosial, ekonomi, teknologi dan berbagai perubahan di dunia memaksa berfikir keras untuk merespon dan mengantisipasi. Rencana pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan  kehidupan dimasa yang akan datang serta implikasinya pada perencanaan kurikulum.
F.      Sumber daya Manusia Pengembangan Kurikulum
Banyak pihak yang terlibat sebagai pengembang kurikulum, yaitu : administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, guru, orang tua siswa, dan tokoh masyarakat. Namun pihak-pihak yang secara terus menerus terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah administrator, guru, dan orang tua siswa.
a.       Peran para administrator pendidikan
Peranan administrator dari tingkat pusat (direktur bidang pendidikan, pengembanngan pusat kurikulum, kepala dinas pendidikan provinsi, kepala dinas kabupaten, kepala UPTD dinas kecamatan dan kepala sekolah. Pengembangan kurikulum dipusat adalah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar dan program inti kurikulum. Kepala dinas provinsi sampai kepala sekolah mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerahnya.
 b.      Peran para ahli
Pengembangan kurikulum harus melibatkan para ahli untuk melihat perkembangan konsep-konsep dalam ilmu. Para ahli yang  dibutuhkan seperti, ahli pendidikan, ahli kurikulum, dan ahli bidang/disiplin ilmu. Mereka bekerja pada dataran konsep sebagai bahan pengembangan kurikulm tingkat pusat.
c.       Peran guru
Guru memegang peranan strategis di dalam perencanaan dan implementasi kurikulum. Dia perencana, pelaksana dan pengembang kurikulm di kelasnya. Guru sebagai perencana melakukan kegiatan  pengembagan silabus, pengembangan RPP, pengembangan bahan ajar, pengembangan media/alat pengajaran, dan pengembangan penilaian. Perencanaan yang dibuat guru kemudian diimplementasikan dalam proses belajar mengajar di kelas. Keterampilan guru dan kompetensi yang dimiliki, guru mampu menciptakan situasi belajar siswa aktif (active learning) yang menggairahkan sehingga membangkitkan minat kreativitas siswa.
d.      Peran orang tua siswa
Peranan orang tua siswa dalam dua hal, yaitu pertama, dalam menyusun kurikulum dan kedua dalam pelaksanan kurikulum. Peranan orang tua siswa dalam menyusun kurikulum memberikan masukan ke sekolah sesuai dengan latar belakangnya sehingga tidak semua orang tua siswa mengambil peranan ini. Peran orang tua siswa lebih besar pada pelaksanaan kurikulm melalui pengamatan kegiatan belajar siswa dari laporan perkembangan siswa disekolah berupa rapor. Partisipasi orang tua siswa mendorong pelaksanaan kurikulum berjalan sesuai dengan rencana, berperan aktif berpartisipasi secara sungguh sungguh dalam setiap kegiatan sekolah (Nana Syaudih Sukmadinata, 2012 : 158)
Sumber daya pengembang kurikulum yang dijelaskan oleh Nana Syaudih di atas sama sekali tidak melibatkan supervisi pendidikan. Pada hal supervisi pendidikan berperan  sebagai jembatan pengembangan kurikulum di sekolah, boleh jadi supervisi pelaku pengembang kurikulum sebelum konsep/ kebijakan kurikulm diterima di sekolah atau guru. Oleh karena itu, maka peran supervisi pendidikan tidak dapat diabaikan dalam pengembangan kurikulum.
Menurut S. Nasution proses pengembangan kurikulum melalui 2 proses utama, yaitu : a. Pengembangan pedoman kurikulum, dan  b. Pengembangan pedoman instruktur. 
Pedoman kurikulum meliputi : latar belakang,  berisi rumusan falsafah dan tujuan lembaga pendidikan, populasi yang menjadi sasaran, rasionalisasi mata pelajaran, struktur organisasi bahan pelajaran. Silabus yang berisi mata pelajaran yang lebih rinci yang diberikan, scope dan sequence. Desain evaluasi termasuk revisi tentanng bahan pelajaran dan organisasi bahan dan strategi instruksional.
Pedoman instruksional, pedoman ini diperoleh atas usaha pengajaran untuk menguraikan isi pedoman kurikulum agar lebih spesifik sehingga lebih mudah untuk mempersiapkannya sebagai pelajaran dalam kelas. Instruksional terstrukur dan terbuka. Keduanya memiliki kelebihan untuk menjawab kebutuhan dan tuntutan masyarakat dari Sekoah Dasar, Sekolah Menengah sampai perguruan tinggi (S. Nasution, 1999 : 12)
G.    Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum adalah perguruan tinggi, masyarakat dan sistem nilai. Ketiga faktor ini, yaitu :
a.       Perguruan tinggi
Ada setidaknya 2 pengaruh dari perguruan tinggi yaitu,  yang pertama, pengembangan ilmu pengetahuandan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di perguruan tinggi keguruan (LPTK).
b.      Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan menyiapkan anak untuk kehidupan di masyarakat. Sekolah sangat dipengaruhi oleh masyarakat dimana sekoleh berada. Isi kurikulum sebaiknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat disekitarnya. Salah satu kekuatan di masyarakat adalah dunia usaha. Penrkembanngan dunia usaha yang ada di masyarakat mempengaruhi pengembangan kurikulum sebab sekolah bukan hanya menyiapakan anak untuk hidup, tetapi untuk bekerja dan berusaha. Jenis pekerjaan dan perusahaan di masyarakat menuntut kesiapan sekolah.
c.       Sistem nilai
Dalam kehidupan dimasyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan, sosial, budaya, maupun nilai politis. Dari nilai-nilai yang terdapat di masyarakat tersebut, ada bebarapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu:
1.      Guru hendaknya mengetahui dan memperhatiakan semua nialai yang ada di masyarakat
2.      Guru hendaknya berpegang pada prinsip demokratis, etis dan moral
3.      Guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru
4.      Guru menghargai nilai-nilai kelompok lain, dan
5.      Guru memahami dan menerima keragaman kebudayaan sendiri.
H.    Hambatan-hambatan Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum menghadapi bebrapa hambatan. Hambatan pertama terletak pada guru. Guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal ini disebabkan oleh (1) kurang waktu, (2) kekurangsesuaian pendapat, baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator, dan (3) kemampuan dan pengalaman guru itu sendiri.
Hambatan yang kedua, datang dari masyarakat. Untuk pengembangan kurikulum dibutuhakan dukungan masyarakat baik dalam bentuk pembiayaan maupun umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan. Masyarakat adalah sumber inpu dari sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepan kurikulum yang digunakan membutuhkan bantuan, serta input fakta dan pemikiran dari masyarakat.
Hambatan ketiga, hambatan biaya. Untuk pengembangan kurikulum apalagi berbentu eksperimen baik metode, isi atau sistem secara keseluruhan membutuhkan biaya yang besar. Meskipun hal ini masalah klasik yang sering dihadapi pengembangan kurikulum dilapangan.





BAB III
KESIMPULAN
A.    Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disumpulkan bahwa dalam pengembangan kurikulum perlu diperhatikan :
a.       Definisi kurikulum, bahwa kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber, dan alat pengukur pengembanagn kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber unit, rencana unit, dan garis pelajaran kurikulum lainnya untuk memudahkan proses belajar mengajar.
b.      Melihat dimensi-dimensi pengembangan kurikulum seperti, dimensi Kurikulum sebagai ide, dimensi kurikulum sebagai sebagai suatu rencana tertulis, Kurikulum sebagai suatu kegiatan, dimensi kurukulum sebagai hasil belajar bagian dari evaluasi dalam pencapaian indikator, dan dimensi kurikulum sebagai suatu disiplin ilmu. Dimensi-dimensi ini akan sangat besar pengaruhnya terhadap pengembangan kurikulum pendidikan.
c.       Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum pada dasarnya terdapat 2 garis besarnya  prinsip pengembangan kurikulum yaitu prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus, diantara prinsip umum pengembangan kurikulum, seperti prinsip relevansi, flesibelitas,  kontinuitas, praktis, dan efektif-efisien, sedang prinsip secara khusus seperti prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, pemilihan isi pendidikan,  pemilihan proses belajar mengajar,  pemilihan media dan alat pengajaran  dan pemilihan kegiatan penilaian.
d.      Terdapat 10 karakteristik pengembangan kurikulum, diantaranya adalah rencana kurikulum harus dikembangkan dengan tujuan (goal dan genaral objectives) yang jelas, suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan disekolah merupakan bagian dari kurikulum, rencana kurikulum yang baik dapat menghasilkan terjadinya proses belajar yang baik, karena berdasarkan kebutuhan dan minat siswa dan Rencana kurikulum harus mengenalkan dan mendorong diversitas di antara pelajar.
e.      Sumber daya  manusia pengembang kurikulum adalah administrator kurikulum, para ahli, guru, orang tua siswa dan supervisi pendidikan.
f.        Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum adalah perguruan tinggi, masyarakat dan sistem nilai.
g.       Hambatan pengembangan kurikulum datang dari guru, masyarakat dan biaya.
B.     Rekomendasi
Pengembangan kurikulum akan berjalan sebagaimana mestinya jika semua pemangku kepentingan memahami peran dan fungsi masing-masing sehingga bermuara pada kurikulum yang sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.



DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2012
Hamalik, Oemar, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2013
Hamalik, Oemar, Model-model Pengembangan Kurikulum, Bandung: Yayasan Almadani Terpadu, 2000).
Oliva, P.F.,  Developing the Curriculum. Third Edition,United States: Harper Collins Publisher, 1991
Sanjaya, Wina. Kajian Kurikulum dan Pembelajaran, Sekolah Paqscasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, 2007
Sanjaya, Wina., Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan Praktik Pengembangan Kuirkulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta; Fajar Interpratama Offset, 2008
Suherman, Ase, dkk. , Kurikulum dan Pembelajaran. TIM Pengembang Kurikulum dan Pembelajaran, Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu
Sukmadinata, N. S.,  Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek,  Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2012


2 komentar:

Unknown mengatakan...

TERIMAKASIH banyak

mansyuruyun mengatakan...

Matur sewun nggeh??????????

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Best Patner

Copyright © 2012. ZUKRA SMPN3PPU - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Blog Bamz