BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kurikulum pada dasarnya
berintikan empat aspek utama yaitu : tujuan pendidikan, isi pendidikan,
pengalaman belajar dan penilaian. Interelasi keempat aspek itu serta aspek
tersebut dengan kebijaksanaan pendidikan senantiasa perlu diperhatikan dalam
pengembangan kurikulum (Nana Syaudih Sukmadinata, 2012 : 152). Pengembangan
kurikulum diawali dengan perencanaan, implementasi dan evaluasi berlangsung
terus menerus menyesuaikan dengan kebutuhan perubahan masyarakat.
Pada prinsipnya
pengembangan kurikulum berkisar pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan
teknologi yang perlu diimbangi perkembangan pendidikan. Manusia, disisi lain
sering kali memiliki keterbatasan kemampuan untuk menerima, menyampaikan dan
mengolah informasi, karenanya diperlukan proses pengembangan kurikulum yang
akurat dan terseleksi dan memiliki tingkat relevansi yang kuat. Dalam hal ini
merealisasikannya maka diperlukan suatu model pengembangan kurikulum dengan
pendekatan yang sesuai.
Adapun
aspek-aspek terkait dengan pengembangan kurikulum antara lain : definisi
pengembangan kurikulum, dimensi-dimensi kurukulum, prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum, karakteristik pengembangan, kerangka pengembangan, fakor-faktor yang
mempengaruhi pengembangan kurikulum, sumber daya manusia dan hambatannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang disebut dengan pengembangan kurikulum ?
2. Apa saja aspek-aspek dari pengembangan kurikulum ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pengembangan Kurikulum
Pada
dasarnya pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar
menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan
dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar
antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan
yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber, dan alat pengukur
pengembanagn kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber unit, rencana unit, dan
garis pelajaran kurikulum lainnya untuk memudahkan proses belajar mengajar (Oemar
Hamalik, 2013: 183-184).
Definisi
lain, pengembangan kurikulum adalah mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan
pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh yang sifatnya
positif, yang datangnya dari luar ataupun dari dalam sendiri, dengan harapan
agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik. Oleh karena itu
pengembangan kurikulum hendaknya bersifat antisipatif, adaptif, dan aplikatif (Dakir,
2010 : 91).
Di Indonesia ada
sepuluh kurikulum yang pernah diterapkan yaitu, Rencana Pelajaran 1947, Rencana Pelajaran 1952, kurikulum
1964, kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum
2004, dan kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan kurikulum
2013.
B. Dimensi-Dimensi
Pengembangan Kurikulum
Kurikulum sebagai
perangkat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak secara keseluruhan,
khususnya kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari-hari perlu
dipikirkan pengalaman apa yang diperlukan oleh siswa untuk memenuhi kebutuhan
tersebut
Dalam pengembangannya,
kurikulum melibatkan berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang secara langsung
ataupun tidak langsung memiliki kepentingan dengan keberadaan pendidikan yang dirancang,
yaitu mulai dari ahli pendidikan, ahli bidang studi, guru, siswa, pejabat
pendidikan, para praktisi maupun tokoh panutan atau anggota masyarakat lainnya.
S. Hamid Hasan
(1988) mengutip pendapat George A.
Beauhcamp (1975) ada 4 dimensi kurikulum, yaitu kurikulum sebagai suatu ide atau konsepsi, kurikulum sebagai
rencana tertulis, kurikulum sebagai kegiatan, dan kurikulum sebagai hasil
belajar. Nana S. Sukamdinata melihat melihat kurikulum dari tiga dimensi, yaitu
kurikulum sebagai ilmu, kurikulum sebagai sistem dan kurikulum sebagai rencana.
Dimensi Kurikulum
sebagai ide, biasanya dijadikan langkah
awal dalam pengembangan kurikulum, yaitu ketika melakukan studi
pendapat.
Dimensi kurikulum
sebagai sebagai suatu rencana tertulis adalah kelanjutan dari kurikulum sebagai
ide wujudnya sudah nyata dalam suatu dokumen tertulis, pengembangan kurikulum pada aspek-aspek tujuan,
kompetensi, struktur kurikulum, kegiatan dan pengalaman belajar, organisasi
kurikulum, manajemen kurikulum, hasil belajar dan sistem evaluasi.
Kurikulum sebagai suatu
kegiatan merupakan dimensi kurikulum sebagai kenyataan di lapangan yang dapat
berkembang sesuai kebutuhan di lapangan. Para ahli berbeda pendapat, apakah
kegiatan merupakan kurikulum atau bukan.
Ahli yang tidak setuju seperti MacDonald (1965), Johnson (1971), Beuchamp
(1975) menyatakan bahwa kurikulum adalah a
written document, sedang Tanner and Tanner (1980), dan Schubert (1986)
menyatakan bahwa kegiatan atau proses termasuk kurikulum.
Dimensi kurukulum
sebagai hasil belajar bagian dari evaluasi dalam pencapaian indikator.
Pengembangan kurikulum pada alat evaluasi yang senantiasa diperlukan inovasi dan
kompetensi sehingga dapat mencapai secara menyeluruh dan berkesinambungan kesemua ranah.
Dimensi kurikulum
sebagai suatu disiplin ilmu, dimaksudkan kurikulum memiliki konsep, prosedur,
asumsi, dan teori yang dapat dianalisis
oleh para ahli kurikulum. Dimensi kurikulum
sebagai suatu sistem bahwa kurikulum
merupakan bagian tidak terpisahkan dari pendidikan, sekolah dan masyarakat
(Zainal Arifin, 2012 : 8-12).
C. Prinsip-prinsip
Pengembangan Kurikulum
Secara umum ada
beberapa prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu:
1. Prinsip
berorientasi tujuan
Prinsip
berorientasi tujuan berarti bahwa sebelum bahan ditentukan, langkah yang perlu
dilakukan oleh seorang pendidik adalah menentukan tujuan terlebih dahulu.
2. Prinsip
relevansi
Ada dua jenis relevansi yang harus dimiliki
kurikulum, yaitu relevan keluar dan relevan di dalam. Relevansi keluar dimaksudkan
tujuan, isi, dan proses belajar tercakup dalam kurikulum harus relevan dengan
tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Kurikulum harus memiliki
relevansi di dalam, yaitu konsistensi antar komponen kurikulum dari tujuan,
isi, proses belajar, dan penilaian sebagai suatu kesatuan.
Soetopo dan Soemanto dan Subandijah mengungkapkan
relevansi sebagai berikut:
a. relevansi
pendidikan dengan lingkungan anak didik
b. relevansi
pendidikan dengan kehidupan yang akan datang.
c. relevansi
pendidikan dengan dunia kerja.
d. relevansi
pendidikan dengan ilmu pengetahuan.
3. Prinsip efisiensi
Prinsip efisiensi sering kali di konotasikan dengan
prinsip ekonomi, yang berbunyi: dengan modal atau biaya, tenaga, dan waktu yang
sekecil-kecilnya akan dicapai hasil yang memuaskan. Efisiensi proses belajar
mengajar akan tercipta, apabila usaha, biaya, waktu, dan tenaga yang digunakan
untuk menyelesaikan program pengajaran tersebut sangat optimal dan hasilnya
bisa optimal.
4. Prinsip
efektivitas
Prinsip efektivitas yang dimaksudkan
adalah sejauh mana perencanaan kurikulum dapat dicapai sesuai dengan keinginan
yang telah ditentukan.
5. Prinsip
fleksibilitas
Fleksibilitas
berarti tidak kaku, dan ada semacam ruang gerak yang memberikan kebebasan dalam
bertindak.
6. Prinsip
Integritas
Prinsip ini bahwa kurikulum
dikembangkan didasarkan suatu kesatuan yang bermakna dan berstruktur. Artinya
suatu keseluruhan ini mempunyai arti, nilai, manfaat tertentu. Prinsip ini berasumsi bahwa setiap bagian
yang ada dalam keseluruhan itu berada dan berfungsi dalam struktur tertentu.
7. Prinsip
kontinuitas
Prinsip
kontinuitas dalam konteks ini bisa kontinuitas yang bersifat vertikal dan
kontinuitas yang bersifat horizontal. Kontinuitas vertikal adalah kontinuitas
antar level pendidikan yang satu dengan yang lainnya. Kontinuitas horizontal
dapat dipahami sebagai ada sambungan antara mata pelajaran yang satu dengan
mata pelajaran yang lain.
8. Prinsip
Sinkronisasi
Kurikulum dikembangkan dengan
mengusahakan agar semua kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler
serta pengalaman belajar lainnya dapat serasi, selaras, seimbang dan setujuan,
sehingga tidak terjadi kontra produktif antar kegiatan.
9. Prinsip
Objektivitas
Kurikulum dikembangkan dengan
mengusahakan agar semua kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler
dilakukan dengan tatanan ilmiah dan mengesampingkan pengaruh subjektivitas,
emosional dan irasional.
10. Prinsip
Demokrasi
Kurikulum dikembangkan dengan
dilandasi nilai-nilai demokrasi, yaitu pengahargaan terhadap kemampuan,
menjunjung tinggi keadilan, menerapkan kesempatan dan memperhatikan keragaman
peserta didik.
Beauchamp
mengemukakan 5 prinsip dalam pengembangan teori kurikulum, yaitu (mengutip
Ibrahim, 2006) :
1. Setiap
teori kurikulum harus dimulai dengan perumusan definisi tentang rangkaian
kejadian yang dicakupnya.
2. Setiap
teori kurikulum harus mempunyai kejelasan tentang nilai-nilai dan sumber-sumber
yang menjadi titik tolaknya.
3. Setiap
teori kurikulum perlu menjelaskan karakteristik desain kurikulumnya
4. Setiap
teori kurikulum harus menggambarkan proses-proses penentuan kurikulum serta
interaksi diantara proses tersebut.
5. Setiap
teori kurikulum hendaknya mempersipkan ruang untuk dilakukannya proses
penyempurnaan.
Dengan demikian berbagai faktor tersebut mempunyai pengaruh
signifikan terhadap pembuatan keputusan kurikulum (Oemar Hamalik, 2013 : 185).
Menurut
Nana Syaudih Sukmadinata membagi prinsip-prinsip pengembangan kurikulum terdiri atas 2 garis besarnya prinsip pengembangan yaitu : prinsip-prinsip
umum dan prinsip-prinsip khusus. Prinsip-prinsip umum terdiri atas :
a. Prinsip
Relevansi
b. Prinsip
Flesibelitas
c. Prinsip
Kontinuitas
d. Prinsip
Praktis, dan
e. Prinsip
Efektivitas
Sedangkan
prinsip-prinsip pengembangan kurikulum secara khusus adalah sebagai berikut :
a. Prinsip
berkenaan dengan tujuan pendidikan
b. Prinsip
berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
c. Prinsip
berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
d. Prinsip
berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
e. Prinsip
berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian (Nana Syaudih Sukmadinata, 2012 :
152)
D. Karakteristik
dalam Pengembangan Kurikulum
Ada
beberapa karakteristik dalam pengembangan kurikulum, yaitu ;
1. Rencana
kurikulum harus dikembangkan dengan tujuan (goal dan genaral objectives) yang
jelas. Salah satu maksud utama rencana kurikulum adalah mengidentifikasi cara
untuk tercapainya tujuan.
2. Suatu
program atau kegiatan yang dilaksanakan disekolah merupakan bagian dari
kurikulum yang dirancang selaras dengan prosedur pengembangan kurikulum.
3. Rencana
kurikulum yang baik dapat menghasilkan terjadinya proses belajar yang baik,
karena berdasarkan kebutuhan dan minat siswa.
4. Rencana
kurikulum harus mengenalkan dan mendorong diversitas di antara pelajar.
Kegiatan belajar akan menyenangkan jika Rencana kurikulum menyediakan berbagai
kesempatan yang memungkinkan mereka mengembangkan potensi pribadi, melakukan
berabagai aktivitas, dan memanfaatkan berbagai sumber belajar di sekolah.
5. Rencana
kurikulum harus menyiapkan semua aspek situasi belajar mengajar, seperti
tujuan, konten, kegiatan, sumber, alat
pengukuran, penjadualan, dan fasilita yang menunjang.
6. Rencana
kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa pengguna. Oleh
karena itu, pengembangan kurikulum harus mengandung gagasan yang jelas tentang
tahapan kognitif, kebutuhan perkembangan, gaya belajar, prestasi awal, konsep
diri sebagai pelajar, dan lain-lain.
7. The subject arm approuch
adalah pendekatan kurikulum yang digunakan di sekolah. Penggunaan pendekatan
lain pada semua program sekolah juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan
memenuhi tujuan pendidikan yang luas serta diversitas kebutuhan pada siswa.
8. Rencana
kurikulum harus memberi flesibelitas untuk memungkinkan terjadinya perencanaan
guru-siswa. Perencanaan guru siswa memberi kesempatan bagi siswa untuk
mempelajari keterampilan perencanaan.
9. Rencana
kurikulum harus memberi fleksibelitas yang memungkinkan masuknya ide-ide
spontan selama terjadinya interaksi guru-siswa dalam situasi belajar yang
khusus.
10. Rencana
kurikulum sebaiknya merefleksikan keseimbangan antara kognitif, afektif dan
psikomotor(Oemar Hamalik, 2013 : 184-185)
E. Kerangka
Pengembangan Kurikulum
1. Asumsi
Pengembangan kurikulum menekankan
pada keharusan pengembangan kurikulum yang telah terkonsep dan
diinterpretasikan, sehingga usaha-usaha dalam reformasi pendidikan, kurikulum
yang berimbang dan inovasi jangka panjang. Kurikulum didefinisikan sebagai suatu
rencana untuk mencapai hasil-hasil yang diharapkan. Kurikulum terdiri atas
beberapa komponen, yaitu hasil belajar dan struktur(sekuens berbagai kegiatan),
dalam hal ini konsekuansinya keharusan penggunaan dasar teoritis untuk
pengembangan kurikulum adalah pada pembelajaran (Oemar Hamalik, 2013 : 186)
2. Tujuan
Pengembangan kurikulum
Tujuan pengembangan kurikulum
adalah goals dan objectives. Goals dinyatakan dalam rumusan yang lebih abstrak
dan bersifat umum, pencapaiannya relatif jangka panjang. Tujuan sebagai
obejctives lebih bersifat khusus, operasional dan pencapaiannya dalam jangka
pendek.
Tujuan berfungsi untuk menentukan
arah seluruh upaya pendidikan atau unit organisasi lainya, sekaligus
menstimulasi kualitas yang diharapkan. Tujuan pendidikan pada umumnya berdasar
pada filsafat yang dianut.
3. Penilaian
Kebutuhan
Kebutuhan merupakan hal pokok dalam
perencanaan. Penilaian kebutuhan adalah prosedur baik secara terstruktur maupun
informal, untuk mengidentifikasi kesenjangan antara situasi “disini dan sekarang”
dan tujuan yang diharapkan.
4. Konten
Kurikulum
Konten kurikulum dipandang sebagai
informasi dari bahan-bahan yang dicetak, rekaman audio-visual, komputer dan
media elektronik lainnya atau yang ditransmisikan secara lisan. Dalam hal
pengembangan kurikulum seleksi konten bagian tugas, penentuan konten kurikulum
harus disertai dengan perencanaan aktivitas yang bermakna.
5. Sumber
Materi Kurikulum
Materi kurikulum diperoleh dari
buku-buku teks, dan petunjuk bagi guru. Sumber-sumber juga dapat diperoleh dari
karya-karya yang diterbitkan oleh asosiasi profesional, penerbitan berkala, dan
buku-buku teks yang relevan.
6. Implementasi
Kurikulum
Fakor yang dapat mempengaruhi
implementasi kurikulum seperti, kesiapan sumber daya, faktor budaya masyarakat,
dan lain-lain. Hal yang perlu
diperhatikan implementasi kurikulum adalah materi kurikulum, struktur organisasi, peran atau perilaku,
pengetahuan dan internalisasi nilai. Keberhasilannya ditentukan oleh aspek
perencanaan dan strategi implementasinya. Pada prinsipnya implementasi ini
mengintegrasikan aspek-aspek filisofis, tujuan, subject matter, strategi dan
kegiatan mengajar serta evaluasi dan feedback.
7. Evaluasi
Kurikulum
Evaluasi kurikulum dimaksudkan
untuk memperbaiki subtansi kurikulum, prosedur implementasi, metode
instruktianal, serta pengaruhnya pada belajar dan perilaku siswa.
8. Keadaan
di Masa Mendatang
Cepatnya perubahan sosial, ekonomi,
teknologi dan berbagai perubahan di dunia memaksa berfikir keras untuk merespon
dan mengantisipasi. Rencana pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan kehidupan dimasa yang akan datang serta
implikasinya pada perencanaan kurikulum.
F. Sumber
daya Manusia Pengembangan Kurikulum
Banyak pihak yang
terlibat sebagai pengembang kurikulum, yaitu : administrator pendidikan, ahli
pendidikan, ahli kurikulum, ahli dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, guru,
orang tua siswa, dan tokoh masyarakat. Namun pihak-pihak yang secara terus
menerus terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah administrator, guru, dan
orang tua siswa.
a. Peran
para administrator pendidikan
Peranan administrator dari tingkat
pusat (direktur bidang pendidikan, pengembanngan pusat kurikulum, kepala dinas
pendidikan provinsi, kepala dinas kabupaten, kepala UPTD dinas kecamatan dan
kepala sekolah. Pengembangan kurikulum dipusat adalah menyusun dasar-dasar
hukum, menyusun kerangka dasar dan program inti kurikulum. Kepala dinas
provinsi sampai kepala sekolah mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya
yang sesuai dengan kebutuhan daerahnya.
b. Peran
para ahli
Pengembangan kurikulum harus
melibatkan para ahli untuk melihat perkembangan konsep-konsep dalam ilmu. Para
ahli yang dibutuhkan seperti, ahli
pendidikan, ahli kurikulum, dan ahli bidang/disiplin ilmu. Mereka bekerja pada
dataran konsep sebagai bahan pengembangan kurikulm tingkat pusat.
c. Peran
guru
Guru memegang peranan strategis di
dalam perencanaan dan implementasi kurikulum. Dia perencana, pelaksana dan
pengembang kurikulm di kelasnya. Guru sebagai perencana melakukan kegiatan pengembagan silabus, pengembangan RPP,
pengembangan bahan ajar, pengembangan media/alat pengajaran, dan pengembangan
penilaian. Perencanaan yang dibuat guru kemudian diimplementasikan dalam proses
belajar mengajar di kelas. Keterampilan guru dan kompetensi yang dimiliki, guru
mampu menciptakan situasi belajar siswa aktif (active learning) yang
menggairahkan sehingga membangkitkan minat kreativitas siswa.
d. Peran
orang tua siswa
Peranan orang tua siswa dalam dua
hal, yaitu pertama, dalam menyusun kurikulum dan kedua dalam pelaksanan
kurikulum. Peranan orang tua siswa dalam menyusun kurikulum memberikan masukan
ke sekolah sesuai dengan latar belakangnya sehingga tidak semua orang tua siswa
mengambil peranan ini. Peran orang tua siswa lebih besar pada pelaksanaan
kurikulm melalui pengamatan kegiatan belajar siswa dari laporan perkembangan
siswa disekolah berupa rapor. Partisipasi orang tua siswa mendorong pelaksanaan
kurikulum berjalan sesuai dengan rencana, berperan aktif berpartisipasi secara
sungguh sungguh dalam setiap kegiatan sekolah (Nana Syaudih Sukmadinata, 2012 :
158)
Sumber daya
pengembang kurikulum yang dijelaskan oleh Nana Syaudih di atas sama sekali
tidak melibatkan supervisi pendidikan. Pada hal supervisi pendidikan
berperan sebagai jembatan pengembangan
kurikulum di sekolah, boleh jadi supervisi pelaku pengembang kurikulum sebelum
konsep/ kebijakan kurikulm diterima di sekolah atau guru. Oleh karena itu, maka
peran supervisi pendidikan tidak dapat diabaikan dalam pengembangan kurikulum.
Menurut S.
Nasution proses pengembangan kurikulum melalui 2 proses utama, yaitu : a.
Pengembangan pedoman kurikulum, dan b.
Pengembangan pedoman instruktur.
Pedoman
kurikulum meliputi : latar belakang, berisi rumusan falsafah dan tujuan lembaga
pendidikan, populasi yang menjadi sasaran, rasionalisasi mata pelajaran,
struktur organisasi bahan pelajaran. Silabus yang berisi mata pelajaran yang
lebih rinci yang diberikan, scope dan
sequence. Desain evaluasi termasuk revisi tentanng bahan pelajaran dan
organisasi bahan dan strategi instruksional.
Pedoman
instruksional, pedoman ini diperoleh atas usaha pengajaran untuk menguraikan
isi pedoman kurikulum agar lebih spesifik sehingga lebih mudah untuk
mempersiapkannya sebagai pelajaran dalam kelas. Instruksional terstrukur dan
terbuka. Keduanya memiliki kelebihan untuk menjawab kebutuhan dan tuntutan
masyarakat dari Sekoah Dasar, Sekolah Menengah sampai perguruan tinggi (S.
Nasution, 1999 : 12)
G. Faktor-faktor
yang mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengembangan kurikulum adalah perguruan tinggi, masyarakat dan sistem nilai.
Ketiga faktor ini, yaitu :
a.
Perguruan tinggi
Ada
setidaknya 2 pengaruh dari perguruan tinggi yaitu, yang pertama, pengembangan ilmu
pengetahuandan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua,
dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di
perguruan tinggi keguruan (LPTK).
b.
Masyarakat
Sekolah
merupakan bagian dari masyarakat dan menyiapkan anak untuk kehidupan di
masyarakat. Sekolah sangat dipengaruhi oleh masyarakat dimana sekoleh berada.
Isi kurikulum sebaiknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan
kebutuhan masyarakat disekitarnya. Salah satu kekuatan di masyarakat adalah
dunia usaha. Penrkembanngan dunia usaha yang ada di masyarakat mempengaruhi
pengembangan kurikulum sebab sekolah bukan hanya menyiapakan anak untuk hidup,
tetapi untuk bekerja dan berusaha. Jenis pekerjaan dan perusahaan di masyarakat
menuntut kesiapan sekolah.
c.
Sistem nilai
Dalam
kehidupan dimasyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan,
sosial, budaya, maupun nilai politis. Dari nilai-nilai yang terdapat di
masyarakat tersebut, ada bebarapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu:
1. Guru
hendaknya mengetahui dan memperhatiakan semua nialai yang ada di masyarakat
2. Guru
hendaknya berpegang pada prinsip demokratis, etis dan moral
3. Guru
berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru
4. Guru
menghargai nilai-nilai kelompok lain, dan
5. Guru
memahami dan menerima keragaman kebudayaan sendiri.
H. Hambatan-hambatan
Pengembangan Kurikulum
Pengembangan
kurikulum menghadapi bebrapa hambatan. Hambatan pertama terletak pada guru.
Guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal ini disebabkan
oleh (1) kurang waktu, (2) kekurangsesuaian pendapat, baik antara sesama guru
maupun dengan kepala sekolah dan administrator, dan (3) kemampuan dan
pengalaman guru itu sendiri.
Hambatan
yang kedua, datang dari masyarakat. Untuk pengembangan kurikulum dibutuhakan
dukungan masyarakat baik dalam bentuk pembiayaan maupun umpan balik terhadap
sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan. Masyarakat adalah sumber
inpu dari sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepan kurikulum yang digunakan
membutuhkan bantuan, serta input fakta dan pemikiran dari masyarakat.
Hambatan
ketiga, hambatan biaya. Untuk pengembangan kurikulum apalagi berbentu
eksperimen baik metode, isi atau sistem secara keseluruhan membutuhkan biaya
yang besar. Meskipun hal ini masalah klasik yang sering dihadapi pengembangan
kurikulum dilapangan.
BAB
III
KESIMPULAN
A.
Kesimpulan
Dari
uraian diatas dapat disumpulkan bahwa dalam pengembangan kurikulum perlu
diperhatikan :
a. Definisi
kurikulum, bahwa kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar
menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan
dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar
antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan
yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber, dan alat pengukur
pengembanagn kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber unit, rencana unit, dan
garis pelajaran kurikulum lainnya untuk memudahkan proses belajar mengajar.
b. Melihat
dimensi-dimensi pengembangan kurikulum seperti, dimensi Kurikulum sebagai ide,
dimensi kurikulum sebagai sebagai suatu rencana tertulis, Kurikulum sebagai
suatu kegiatan, dimensi kurukulum sebagai hasil belajar bagian dari evaluasi
dalam pencapaian indikator, dan dimensi kurikulum sebagai suatu disiplin ilmu.
Dimensi-dimensi ini akan sangat besar pengaruhnya terhadap pengembangan
kurikulum pendidikan.
c. Prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum pada dasarnya terdapat 2 garis besarnya prinsip pengembangan kurikulum yaitu
prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus, diantara prinsip umum pengembangan
kurikulum, seperti prinsip relevansi, flesibelitas, kontinuitas, praktis, dan efektif-efisien,
sedang prinsip secara khusus seperti prinsip berkenaan dengan tujuan
pendidikan, pemilihan isi pendidikan,
pemilihan proses belajar mengajar,
pemilihan media dan alat pengajaran
dan pemilihan kegiatan penilaian.
d.
Terdapat 10 karakteristik pengembangan
kurikulum, diantaranya adalah rencana kurikulum harus dikembangkan dengan
tujuan (goal dan genaral objectives) yang jelas, suatu program atau kegiatan
yang dilaksanakan disekolah merupakan bagian dari kurikulum, rencana kurikulum
yang baik dapat menghasilkan terjadinya proses belajar yang baik, karena
berdasarkan kebutuhan dan minat siswa dan Rencana kurikulum harus mengenalkan
dan mendorong diversitas di antara pelajar.
e.
Sumber daya manusia pengembang kurikulum adalah
administrator kurikulum, para ahli, guru, orang tua siswa dan supervisi
pendidikan.
f.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengembangan kurikulum adalah perguruan tinggi, masyarakat dan sistem nilai.
g.
Hambatan pengembangan kurikulum datang
dari guru, masyarakat dan biaya.
B.
Rekomendasi
Pengembangan
kurikulum akan berjalan sebagaimana mestinya jika semua pemangku kepentingan
memahami peran dan fungsi masing-masing sehingga bermuara pada kurikulum yang
sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal, Konsep dan Model
Pengembangan Kurikulum, Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2012
Hamalik, Oemar, Dasar-Dasar
Pengembangan Kurikulum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2013
Hamalik, Oemar, Model-model
Pengembangan Kurikulum, Bandung: Yayasan Almadani Terpadu, 2000).
Oliva, P.F., Developing the Curriculum. Third Edition,United States: Harper
Collins Publisher, 1991
Sanjaya, Wina. Kajian Kurikulum dan
Pembelajaran, Sekolah Paqscasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, 2007
Sanjaya, Wina., Kurikulum dan
Pembelajaran, Teori dan Praktik Pengembangan Kuirkulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta; Fajar Interpratama Offset, 2008
Suherman, Ase, dkk. , Kurikulum dan
Pembelajaran. TIM Pengembang Kurikulum dan Pembelajaran, Jurusan Kurikulum dan
Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu
Sukmadinata, N. S., Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek,
Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2012
2 komentar:
TERIMAKASIH banyak
Matur sewun nggeh??????????
Posting Komentar