Konsep Materi Tarih Terintegrasi : Oleh Sukra Immawan
MUHAMMAD BIN ABDULLAH
A.
Masa Kanak-Kanak (0-8 tahun)
Muhammad bin Abdullah dilahirkan
pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun
Gajah (20 April 571 M). Tahun ini juga dikenal dengan sebutan tahun
Gajah, karena pada tahun ini pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, gubernur
Abessinia menyerang gajah dengan pasukan gajah. Ia lahir yatim, ayahnya
Abdullah telah meninggal pada usia kandungan Muhammmad oleh Ibunya
(Aminah) 6 bulan. Muhammad setelah lahir tidak hanya disusui
oleh ibu sendiri tetapi diasuh oleh Bani Sa’ad (Halimah Sadi’ah).
Peristiwa misterius selama Muhammad di kampung Bani Sa’ad, Asi Halimah tiba-tiba menjadi sangat banyak untuk menyusui Muhammad, demikian pula susu unta yang dikendarai penuh sehingga dapat dikonsumsi selama perjalanan. Rumput di padang gembala yang biasanya gersang menjadi tumbuh subur dan hijau. Keluarga Halimah dengan kehadiran Muhammad kecil menjadi berkecukupan.
Usia 9 bulan dia telah lancar
berbicara, bawaannya bersih dan pemalu, serta jarang menangis. Ia gemar melihat
benda-benda di angkasa. Pada usia 3 tahun, saudara sepersusuannya berteriak
melihat Muhammad didatangi 2 orang laki-laki berpakaian putih dan membelah
dadanya mengeluarkan hati, kemudian dibersihkan. Halimah dan suaminya tidak
tahu apa yang harus dilakukan, melihat keadaan putranya yang pucat. Usia 5 tahun bertemu dengan orang Abessinia
yang menanyakan, mereka berkata, “ anak ini akan menjadi orang besar. Suatu hari nanti kami pasti akan membawanya
ke negeri kami. Sebelumnya kami telah mendengar tentang dia.”
Jadi Muhammad diasuh oleh Halimah
Sa’diyah selama masa Kanak-kanak 0-5 tahun.
Setahun kemudian Aminah ibu dari
Muhammad meninggal di desa al-Abwa dan
dikubur disana. Muhammad bersama Ummu
Aiman (budak peninggalan ayahnya) kembali ke kakek Abdul Muththalib, 2 tahun
kemudian Abdul Muththalib wafat pada usia 80 tahun. Muhammad usia 8 tahun
tinggal bersama pamannya yang bernama Abu Thalib.
B.
Masa Remaja
Muhammad dengan sikap kemandirian
untuk mengurangi beban ekonomi pamannya, ia menjadi penggembala kambing di
sekitar Mekah.
Pada usia 12 tahun, ia menyertai paman Abu Thalib berdagang
ke negeri Syam. Kafilah dagang singgah di Busra, perbatasan Syam dekat
Yordania, penduduknya memeluk agama Kristen, pengikut Nestorius (380-451) di
tepat inilah Muhammad bertemu pendeta Buha’ira. Buha’ira melihat noda tanda
kelahiran di antara kedua belahan bahu Muhammad yang dikenal sebagai tanda
kenabian. Ia berpesan kepada Abu Thalib bahwa anak itu akan menjadi orang
penting dimasa-masa mendatang agar tidak pergi lebih jauh lagi.
Berdagang untuk Khadijah dengan bayaran 4 ekor anak unta, Muhammad ditemani Maisarah pembantu Khadijah
ke Syam. Khadijah terpikat dengan kecerdasan dan kejujurannya, perdagangan yang
dilakukan Muhammad mendapatkan keuntungan lebih besar dari biasanya. Akhirnya
Muhammad mengahiri masa lajangnya dengan menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor
unta, janda kaya raya, cerdas dan cantik.
C.
Masa Dewasa
Muhammad dikaruniai 2 orang
laki-laki dan 4 anak perempuan. Qasim dan Abdullah (meninggal pada usia 2
tahun), Ruqayah, Zainab, Ummu Kutsum dan Fatimah. Usia 35 tahun terjadi perbedaan pendapat
antar kabilah, mereka masing-masing merasa berhak untuk menempatkan kembali
Hajar Aswad, setelah kabah direnovasi. Muhammad satu-satunya juri yang adil,
karena ia orang yang al-Amin, dapat dipercaya. Setiap pemimpin kabilah memegang
ujung kain, kemudian Muhammad mengambil dan meletakkan Hajar Aswad ke tempat
semula. Perselisihan diakhiri dengan baik, puas dan adil.
Pelajaran Akhlak :
Jujur dan Amanah.
Jujur adalah kesesuaian antara
perkataan dan perbuatan. Jujur dalam segala aspek : jujur dalam niat, jujur
dalam perkataan dan jujur dalam tindakan. Kisah Nabi Zulkifli
Amanah adalah seseorang memenuhi
apa yang dititipkan. Kisah Nabi Zulkifli :
KISAH NABI ZULKIFLI AS
“Ismail,
Idris dan Zulkifli adalah orang yang sabar dan kami rahmati kesemuanya mereka
karena mereka adalah orang yang berbuat baik.” ( Qs. Al-anbiya : 85-86)
“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, dan Zullkifli mereka adalah
orang-orang yang paling baik.” (Qs. Shad :48).
Nabi
Zulkifli a.s adalah anak Nabi Ayyub a.s dan asal namanya ialah Basyar. Allah
s.w.t telah mengangkatnya menjadi Rasul sesudah ayahnya dan Allah s.w.t telah
memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang sabar. Zulkifli adalah
keturunan Ishak dari Nabi Ibrahim. Diperkirakan dalam riwayat ia hidup pada
tahun 1500-1422 SM.Ia diangkat menjadi Nabi tahun 1460 SM. Ia berdakwah pada
orang Amoriadi Damaskus dan wilayah sekitarnya.
“Zulkifli” artinya “orang yang sanggup”. Pada suatu hari ada seorang raja dalam kaumnya
yang sudah tua dan tidak berdaya lagi. Raja itu akan menyerahkan
pemerintahannya kepada orang yang dapat bertanggung jawab dalam menjalankan
amanah umat dan orang yang bertaqwa kepada Allah s.w.t. Raja tersebut telah
menghimpunkan rakyatnya untuk memilih orang yang sanggup menjadi raja dengan
syarat-syarat yang akan dikemukakan. Beliau berkata: "Siapakah diantaramu yang sanggup berpuasa pada siang hari,
beribadat pada malam hari dan tidak akan marah-marah, maka kepadanya aku akan
serahkan kerajaan ini kerana aku sudah tua."
Berdirilah
seorang pemuda yang bernama Basyar sambil mengangkat tangan dan berkata: "Saya sanggup". Kemudian raja
itu berkata lagi: "Siapakah
diantaramu yang sanggup berpuasa pada siang hari, beribadat pada malam hari dan
tidak akan marah-marah, maka kepadanya aku akan serahkan kerajaan ini."
Berdiri lagi pemuda yang bernama Basyar itu sambil mengangkat tangan dan
berkata: "Aku sanggup".
Demikianlah
secara berulang-kali raja berkata seperti itu dan berulang-ulang kali pula
pemuda itu menyahut perkataan yang serupa. Adapun rakyat yang lain tidak
seorangpun yang bersuara, kerana mungkin mereka tidak sanggup untuk menjalankan
amanah itu.
Lalu
raja menyerahkan kerajaan tersebut kepada Basyar kemudian ditukar namanya
menjadi Zulkifli, ertinya orang yang sanggup memegang janji.
Setelah
beliau menjadi raja, diaturnya waktu tidur dari jam sekian sampai jam sekian,
maka waktu lain dipergunakan untuk menguruskan umatnya. Pada siang hari dia
berpuasa dan pada malam hari dia beribadat kepada Allah s.w.t. Demikianlah
aturan hidup yang telah ditetapkan oleh Nabi zulkifli a.s. dalam memegang
amanahnya sebagai raja.
Namun
syaitan itu penuh dengan rasa dengki khianat kepada anak Adam lalu datanglah
mereka menyerupai manusia menggodanya, ia itu berpura-pura mengadu akan
hal-ehwalnya kepada raja. Pada waktu itu raja hendak tidur, maka diserahkannya
urusan itu kepada wakilnya. Tetapi tetamu itu tidak mahu hal itu diuruskan oleh
orang lain, dia memaksa raja juga yang menyelesaikannya.
Akhirnya
karana tamu itu tidak mau beredar dan maukan halnya diselesaikan oleh raja
dengan segera, maka waktu untuk raja tidur tiada lagi. Raja tidak memarahi
tetamu tersebut, sebaliknya cuba
menyelesaikan masalah tamu yang sebenarnya syaitan berupa manusia.
Pada suatu hari terjadilah peperangan di
negeri itu dengan orang-orang yang durhaka kepada Allah s.w.t, maka Nabi
Zulkifli a.s pun memerintahkan umatnya untuk pergi berperang. Jawab mereka: "Hai raja! Kami takut untuk pergi
berperang, kerana kami masih senang hidup di dunia ini.”
Mendengar itu raja tidak marah, lalu beliau
pun berdoa kepada Allah s.w.t: "Ya
Allah, saya telah sampaikan risalah Tuhan kepada mereka, menyuruh mereka untuk
berperang, tetapi mereka mempunyai permintaan, sesungguhnya Allah mengetahui
akan permintaan mereka itu." Maka diwahyukan Allah kepada Nabi
Zulkifli a.s: "Ya Zulkifli, Aku
telah mengetahui akan permintaan mereka dan Aku mendengar doamu, semua itu akan
Aku kabulkan."
Begitulah kesabaran Nabi Zulkifli a.s dalam
menghadapi urusan, ia selalu berpegang pada janji, dan dari itu kekallah beliau
dengan nama Zulkifli. (sumber : Kisah 25 Nabi dan Rasul)
Pada tahun 610 H, usia 40 tahun
Muhammad sering pulang pergi ke gua Hira untuk ber-tahannus atau tahannuf. Tahannus
adalah menyendiri disuatu tempat untuk
merenung atau berfikir tentang keadaan alam semesta dan penciptanya. Kegiatan
ini sudah berjalan selama 7 tahun.
Pada tanggal 17 Ramadlan 610 M,
Muhammad menerima wahyu yang pertama QS. 96 (al-‘Alaq) ayat 1-5 :
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
96:1] Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
[96:2] Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
[96:3] Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
[96:4] Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
[96:5] Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Pelajaran Akhlak :
Wahyu pertama perintah membaca. Wahyu
pertama ini lebih mengarah kepada kesiapan pembentukan manusia yang berilmu dan
beriman. Ilmu menjadi penting, karena peletak dasar peradaban masyarakat,
dengan ilmu semua menjadi jelas, dengan ilmu pula nilai keimanan, harkat dan
martabat manusia menjadi tinggi. Maka
petualangan mencari ilmu, adalah kewajiban. Bahkan Nabi sendiri bersabda:
“siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan
memberikan kepadanya kemudahan jalan menuju surga.”(HR. Ibnu Majah dan Muslim).
Muhammadiyah sebagai gerakan
pembaharu, menyatakan bahwa setiap warga masyarakat memiliki keewajiban mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada 5 pokok-pokok dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi berdasarkan keputusan muktamar tahun 2000 di Jakarta:
1. Wajib
menguasai dan memiliki keunggulan dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan
teknologi sebagai sarana kehidupan yang penting untuk mencapai kebahagian di
dunia dan di akhirat. QS. an-Nahl : 43, al-Qashash: 77, al-Mujadalah : 11 dan
at-Taubah : 122)
2. Harus
memiliki sifat-sifat ilmuwan, yang kritis (QS. al-Isra : 36), terbuka menerima
kebenaran dari manapun datangnya, serta menggunakan daya nalar (QS. az-Zumar :
18)
3. Kemampuan
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian tidak terpisahkan
dengan iman dan amal shaleh yang menunjukkan derajat kaum muslimin dan
membentuk pribadi ulul albab (QS. al-Baqarah : 197, Ali’Imran : 7, 190-191,
al-Maidah : 100, ar-Ra’d : 19-20).
4. Berkewajiban
untuk mengajarkan kepada masyarakat, memberikan peringatan, memanfaatkan untuk
kemaslahatan dan mencerahkan kehidupan sebagai wujud ibadah, jihad, dan dakwah
(QS. al-Baqarah : 151, at-Taubah : 122)
5. Menggairahkan
dan menggembirakan gerakan mencari ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi,
baik melalui pendidikan maupun kegiatan-kegiatan di lingkungan keluarga dan
masyarakat sebagai sarana penting untuk membangun peradaban Islam, termasuk memasyarakatkan
tradisi membaca.
Bukti besarnya peranan ilmu
pengetahuan dan teknologi telah dibuktikan sejarah, seperti berikut :
1. Bidang
ilmu pengethuan : Jabir bin Hayyan, Muhammad Ibnu Musa al-Khawarizmi, Ali Ibnu
Hazm, Abu Fatah Umar Ibnu Ibrahim al-Khayyam, Syaikh Ibnu Abdullah Ibnu
Batutah, Abu Jabar Muhammad Ibnu Jabir al-Battani, dan Abu Raihan Muhammad Ibnu
Ahmad al-Biruni
2. Bidang
kedokteran : Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih dan Abu Bakar ar-Razy
3. Bidang
kesenian : Abu A’la al-Ma’ary, Nizami, dan
Abu Bakrin Muhammad Ibnu Ali Muhyiddin Ibnu Arabi.
4. Bidang
Filsafat : Ibnu Rusydi, al-Farabi, al-Kindi, Ibnu Khaldun, Ibnu Tufail, dan
al-Ghazali.
5. Bidag
Tauhid : Abu Hasan al-Asy’ari, Abu Manshur al-Maturidi, Abu Huzail al-Alaf.
6. Bidang
akhlaq : Imam Mawardi, dan Ibnu Maskawaih
7. Bidang
fiqh : Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali.
Cara wahyu turun kepada Muhammad,
kadang didatangi seorang malaikat berupa suara lonceng yang sangat keras,
datang dalam ujud seorang laki-laki lalu berbicara kepada Muhammad saw,
merasa kepayahan, badannya menggigil
kedinginan, dan enggan berbicara dengan orang lain. Waktu wahyu pertama,
Khadijah diminta memberi selimut. Khadijah melihat suami dalam keadaan tersebut
menceritakan kepada Waraqah bin Naufal, saudara sepupunya, penganut Nasrani
yang taat. Waraqah berkata,”Maha Suci, Maha Suci, Maha Suci ! Demi Dia yang
menguasai jiwa Waraqah, telah datang kepada Muhammad wahyu terbesar, bahkan
melebihi wahyu yang datang kepada Musa.”
Wahyu kedua (Bersambung)
0 komentar:
Posting Komentar