Teknik Pembelajaran. Menurut Gerlach dan Ely teknik dikutip oleh Hamzah B. Uno
adalah jalan, alat, atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan
kegiatan peserta didik kearah tujuan yang ingin dicapai (Hamzah B. Uno, 2009 :
3). Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang
dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik (ahmadsudrajat.wordpress.com,
5 April 2013). Oemar Hamalik (2005 : 60) hampir tidak membedakan metode dan
teknik pembelajaran.
Dengan kata lain teknik pembelajaran adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran (mediaedukasiku.blogspot. com, diunduh Jumat, 5 April 2013).
Model Pembelajaran.
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik
dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh
maka terbentuklah apa yang disebut dengan
model pembelajaran.
Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran
yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.
Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari
penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Bruce Joyce dan Marsha
Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin
Surasega, 1990) mengemukakan 4 kelompok model pembelajaran, yaitu : 1. Model
interaksi sosial, 2. Model pengolahan sendiri, 3. Model personal- humanistik,
4. Model modifikasi tingkah laku. Trianto (2009), memaparkan model
inovatif-progresif dengan langkah-langkah pembelajarannya. Ramyulis menguraikan
14 model pembelajaran PAI, yaitu : 1. Model pembelajaran Unit, 2. Model
pembelajaran Berprograma, 3. Model pembelajaran Modul, 4. Model pembelajaran
PPSI, 5. Model pembelajaran CBSA, 6. Model pembelajaran Tuntas, 7. Model
pembelajaran konstruksivisme, 8. Model pembelajaran problem solving, 9. Model
pembelajaran quantum learning, 10. Model pembelajaran pendekatan ATI, 11. Model
pembelajaran kooperatif, 12. Model pembelajaran CTL, 13. Model pembelajaran KBK
dan KTSP, dan 14. Model pembelajaran inquiry. Dari slide widyaiswara Yaser
Arafat, memaparkan 35 model pembelajaran PAI meskipun terkesan agak dipaksaan
pada materi PAI tertentu, ke-35 model pembelajaran adalah 1.Examples Non
Examples, 2.Picture And Picture,
3.Numbered Heads Together, 4.Cooperative Script, 5.Kepala Bernomor Struktur,
6.Student Teams-Achievement Divisions (Stad), 7.Jigsaw (Model Tim Ahli),
8.Problem Based Introductuon (Pbi), 9.Artikulasi, 10.Mind Mapping, 11.Make - A
Match, 12.Think Pair And Share, 13.Debate, 14.Role Playing, 15.Group
Investigation, 16.Talking Stik, 17.Bertukar Pasangan, 18.Snowball Throwing,
19.Student Facilitator And Explaining, 20.Course Review Horay,
21.Demonstration, 22.Explicit Intruction, 23.Cooperative Integrated Reading And Composition
(Circ), 24.Inside-Outside-Circle (Lingkaran Kecil-Lingkaran
Besar), 25. Tebak Kata, 26.Word Square, 27. Scramble, 28.Take And Give,
29.Conseptsentense, 30. Complette Sentense, 31.Time Token Arends 1998, 32. Pair
Cheks Spencer Kagen 1993, 33. Keliling Kelompok, 34. Tari Bambu, 35. Dua Tinggal Dua Tamu
(Two Stay Two Stray)
Spencer Kagan 1992.
Mel Silbermen dalam Active Learning berusaha memaparkan
bukan hanya teknik pembelajarn tetapi ia menampilkan 101 model pembelajaran
yang aktif, inovatif, lengkap dan progesif. Namun demikan tidak semua model
dapat diterapkan dalam pembelajaran PAI tergantung karakter materi untuk
menghindari pembelajran aktif tapi kurang makna. Karena sesungguhnya
pembelajaran PAI memiliki karakter tersendiri, maka lebih tepat apa yang
diungkapkan oleh Ramayulis seperti pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip
Qurani ( lihat Ramayulis, 2012 :282).
Dengan penjelasan
term-term di atas, pada prinsipnya antara satu dengan lainnya hakekatnya sama. Jadi
strategi yang tepat agar pembelajaran PAI mampu mensukseskan adalah strategi
yang didasarkan pada keteladanan dengan kisah-kisah inspiratif, misalnya
mentoring secara terukur, sehingga siswa merasa terdorong untuk usaha secara
keras mencapai cita-citanya keluar dari kebiasaan yang pasif lagi menjenuhkan. Mungkin
dapat dikatakan bahwa guru dan siswa bersama-sama berani keluar dari “inbox”kotak
biasanya, mencapai cita-cita besarnya mengarungi hidup dibumi Allah swt yang
sangat luas.
0 komentar:
Posting Komentar