MEMAKNAI
HIJRAH TAHUN BARU 1435 H
Disampaikan
oleh Sukra Immawan hari Kamis 7 November
2013 di Masjid al Muqarib
Tamantirto Kasihan Bantul
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ
خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
[59:18] Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Tahun baru hijrah itu tidak sebuming tahun baru masehi yang dimana saja di belahan dunia, dari gunung sampai semua pantai dihadiri lautan manusia, semua chanel tv menyiarkan langsung detik-detik pergantian tahun dari raja sampai rakyat jelata. Ratusan juta uang untuk keperluan itu, hura-hura, pesta dan lain-lain. Lain halnya dengan tahun baru hijriah yang tiada pesta, tiada hura-hura, hanya mungkin kumpul-kumpul dengan pengajian atau sekedar pawai karnaval seadanya. Tahun hijriah identik dengan tahun Arab atau Islam. Sedangkan tahun masehi sepertinya sudah membumi tidak identik dengan tahun Yunani atau Romawi Kristen, meskipun perayaan Natal 25 Desember disambungkan dengan perayaan tahun baru.
Momentum hijrah Rasulullah saw ini yang diajadikan dasar peletakan kalender Hijriah hingga kini sebagai tonggak sejarah peradaban Islam. Hijrah tersebut memiliki tiga makna utama yang
dapat diterapkan dalam kehidupan masa kini. Ketiga makna tersebut, yaitu : 1. Hijrah Insaniyyah, 2. Hijrah Tsaqifiyyah dan 3. Hijrah Islamiyyah.
Pertama,
memaknai hijrah Rasulullah sebagai Hijrah Insaniyyah. Sebagai
transformasi nilai-nilai kemanusiaa. Perubahan paradigma masyarakat Arab
setelah kedatangan Islam dan pola pikir mereka menunjukkan betapa sisi-sisi
kemanusiaan dijadikan materi utama dakwah Rasulullah saw. bahwa semua manusia
memiliki derajat yang sama, hanya Allahlah satu-satunya Zat yang memiliki
perbedaan dengan manusia. Itulah inti kalimat Syahadat أشهد أن لا اله الا الله
bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah.
Dengan syahadat ini secara langsung mengeliminir segala macam
perbudakan dan penguasaan atas seseorang. Inilah yang paling ditakutkan oleh
para bangsawan Makkah semacam Abu Jahal pada waktu itu. Karena misi kemanusiaan
ini dapat merobohkan dominasi mereka atas para budak belian. Dengan demikian,
sungguh Islam telah meletakkan sebuah pondasi tata nilai kemanusiaan.
Sebagaimana dengan tegas disampaikan Rasulullah saw dalam khutbahnya ketika
haji wada’
ن دمائكم
وأموالكم وأعراضكم عليكم حرامإ "Sesungguhnya
darahmu, hartamu dan kehormatanmu haram atas kamu." (HR. Bukhari dan
Muslim).
Kemudian yang kedua, kita harus memaknai momentum hijrah ini
sebagai Hijrah Tsaqafiyyah, yaitu hijrah kebudayaan. Hijrah dari
kebudayaan jahiliyyah menuju kebudayaan madaniyah. Kebudayaan yang sarat dengan
makna dan kemuliaan sebagaimana diperlihatkan oleh Rasulullah dalam tata krama
keseharian. Dalam pergaulannya, beliau menghargai dan menggauli semua orang
dengan cara yang sama tanpa ada perbedaan. Bahkan lebih dari itu, beliau selalu
bertindak sopan dan ramah kepada semua orang tidak pernah pandang bulu.
Sebagaimana sabda beliau إنما البعثت
لأتمم مكارم الأخلاق Bahwasannya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlaq.
Inilah sejatinya fondasi kebudayaan dalam kacamata Islam yang
menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan. Termasuk di dalamnya adalah kebersamaan,
gotong royong dan kesetia kawanan. Inilah nilai-nilai yang kini mulai lenyap
dari kehidupan kita digantikan dengan individualism dan kapitalime.
Yang ketiga, adalah
memaknai hijrah sebagai Hijrah Islamiyyah, yaitu peralihan kepeasrahan
kepada Allah secara total. Momentum hijrah ini harus kita maknai sebagai upaya
peralihan diri menuju kepasrahan total kepada Allah Yang Maha Kuasa. Artinya
setelah modernism menggiring kita kepada rasionalisme yang tinggi, hingga
menyandarkan kehidupan kepada teknologi. Dan mengandalkan struktur sebuah
system. Maka kini saatnya kita berbalik kepada Allah Yang Maha Pencipta.
Sadarlah bahwasannya berbagai pertunjukan modernisme semata merupakan hasil
kreatifitas manusia belaka.
Kedudukan Hijrah dalam kehidupan
- Hijrah merupakan simbol akan iman yang hakiki (manifsetasi iman sejati), bahwa seorang yang berhijrah berarti telah mengikrarkan diri dengan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sedangkan aplikasi dari keimanan tersebut adalah siap dan rela meninggalkan segala sesuatu yang akan terjadi seperti hijrah demi mempertahankan akidah yang diyakini. Karena hakikat iman itu sendiri adalah pengakuan melalui lisan, dibenarkan dalam hati dan diaplikasikan dalam perbuatan, sedangkan hijrah di sini merupakan salah satu dari wacana tersebut. (Al-Baqarah: 218) (Al-Anfal: 72,74) (Al-Ahzab: 6)
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ
هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ
اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
[2:218]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad
di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.
- Hijrah merupakan ujian dan cobaan, karena setiap orang yang hidup pasti akan mendapatkan suatu cobaan, terutama bagi orang yang beriman, sebesar apa keimanan seseorang maka sebesar itu pula cobaan, ujian dan fitnah yang akan dihadapi. Meninggalkan harta, keluarga, sanak famili dan tanah air merupakan cobaan yang sangat berat, apalagi tempat yang dituju masih mengambang, sangat tidak bisa dibayangkan akan kerasnya ujian dan cobaan yang dihadapi saat manusia sudah mengikrarkan diri sebagai hamba Allah. (16:110)
ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ
هَاجَرُواْ مِن بَعْدِ مَا فُتِنُواْ ثُمَّ جَاهَدُواْ وَصَبَرُواْ إِنَّ رَبَّكَ
مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
[16:110] Dan sesungguhnya Tuhanmu
(pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian
mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
- Hijrah sama derajatnya dengan jihad, karena hijrah merupakan salah satu cara mempertahankan akidah dan kehormatan diri maka Allah SWT mensejajarkannya dengan jihad dijalan-Nya yang tentunya ganjarannya pun akan sama dengan jihad. (Al-Baqarah: 218), (Al-Anfal: 72,74)
Manfaat Orang yang Berhijrah
Adapun
manfaat bagi orang yang melakukan hijrah karena Allah, maka bagi mereka tempat
serta derajat yang tinggi di sisi Allah, hal ini bisa kita lihat dalam firman
Allah yang berkenaan tentang keberhasilan bagi orang berhijrah sebagai berikut:
- Rezki yang berlimpah di dunia (An-Nisa: 100) (Al-Anfal: 79)
- Kesalahan dihapus dan dosa diampuni (Ali Imran: 195)
- Derajatnya ditinggikan oleh Allah (At-Taubah: 20)
- Kemenangan yang besar (At-Taubah: 20, 100)
- Tempat kembalinya adalah surga (At-Taubah: 20-22)
- Mendapatkan ridha dari Allah (At-Taubah: 100)
Kalau kita lihat dari kenikmatan yang diberikan oleh
Allah SWT kepada mereka yang mau mengorbankan diri dalam mempertahankan
keimanan, mungkin tidak sebanding, karena begitu banyaknya kenikmatan yang
diberikan, kenikmatan di dunia; berupa rezki yang berlimpah, kelapangan tempat
tinggal, dan kenikmatan akhirat; dosa-dosa diampuni, derajat yang tinggi di
sisi Allah, dan mendapatkan kemenangan yang besar serta surga yang luasnya
seluas antara langit dan bumi sebagai tempat kembali yang kekal, namun yang
lebih utama dari semua janji tersebut adalah mendapatkan ridha dari Allah,
sehingga dengan ridha Allah dimana dan ke manapun orang yang diridhai itu
berada dan pergi maka Allah akan selalu berada di sisinya, kehidupannya akan
terjamin, dan yang lebih utama mendapat kenikmatan yang besar yaitu dapat
melihat Allah di akhirat kelak.
Tahun baru adalah saat-saat yang tepat mempunyai mimpi
untuk perubahan agar lebih baik lagi.
0 komentar:
Posting Komentar