Kamis, 14 November 2013

Sambungan MAU KEMANA PAI SMP (Suatu kegelisahan guru PAI)#2


MAU KEMANA PAI SMP  (Suatu kegelisahan guru PAI) #2
Tujuan PAI dapat di petakan sebagai berikut :

Aspek yang dicapai
Indikator pencapaian
menumbuhkembangkan akidah menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT
1.      pengetahuan,
2.      penghayatan,
3.      pengamalan,
4.      pembiasaan, dan
5.      pengalaman
mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama  dan berakhlak mulia
1.      berpengetahuan,
2.      rajin beribadah,
3.      cerdas,
4.      produktif,
5.      jujur,
6.      adil,
7.      etis,
8.      berdisiplin,
9.      bertoleransi (tasamuh),
10.  menjaga keharmonisan secara personal dan sosial, dan
11.  mengembangkan budaya agama dalam komunitas

Setelah melihat pemetaan aspek dan indikator tersebut, untuk mewujudkan manusia Indonesia beriman dan bertakwa kepada Allah serta bertaat beragama dan berakhlaq mulia maka sesungguhnya Mata Pelajaran PAI tidak bertujuan untuk semata-mata siswa memperoleh pengetahuan agama Islam. Berarti GPAI hanya baru melakukan pembelajaran PAI mencapai 10% dari tujuan yang hendak dicapai, 90% masih sering diabaikan.
Kasus-kasus akhir-akhir ini boleh jadi disebabkan karena minimnya penghayatan, pengamalan,,pembiasaan, dan pengalaman Islam. Saya meyakini bahwa selama ini PAI sudah metamorfosis menjadi Pengajaran Agama Islam sehingga pembelajaran yang dijalani juga mengutamakan kognitif. Pengajaran berhasil sampai pada halte siswa dapat menyebutkan rukun iman dan rukun islam. Kalau kita mengamati secara seksama tanyakan kepada mereka, misalnya apa yang dimaksud iman ? siswa dengan lancar menyebutkan Islam adalah .....rukun Islam adalah .... Sejatinya pengetahuan semacam ini juga sangat penting tapi lebih penting lagi adalah penghayatan, pengamalan, pembiasaan dan pengalaman Islam langsung ditunjukan dalam keseharian. Sebagai guru kadang jika anak sudah dapat menyebutkan definisi sudah merasa berhasil mencapai tujuan pembelajarannya
Mungkinkah GPAI sudah salah kamar? Maksudnya bahwa GPAI tidak lagi menyadari bahwa dirinya sebagai GPAI tapi masuk difolder guru mata pelajaran lain. Oleh karena itu guru agama harus mampu melakukan terobosan pembelajaran dengan memperhatikan (1) value consciousness (kesadaran nilai), (2) transformation (trasformasi), (3) wellbeing (berbuat baik), (4) connectennes, dan (5) agency. Guru PAI menyadari betul bahwa karekteristik PAI adalah sangat unik. Kenukian bukan pada aspek materi dan tujuan semata tetapi mestinya keunikan pada pembelajaran menjadi perhatian serius guru. Zakiah Darojat menyindir guru PAI dalam pembelajaran PAI sering guru mempersepsikan agama adalah yang sangat kejam dan menakutkan. Dengan keunikan tersebut guru PAI tidak sekedar transfer of knowlegdes tetapi transfer of values. Kata Darojat, pembelajaran PAI seharusnya memberikan kepada siswa inspirasi dan pembebasan, sehingga siswa tidak menganggap bahwa PAI seperti hantu yang menakutkan siswa, persepsi ini tertanam  hingga dewasa.

Sadar ataupun tidak, ternyata selama ini guru PAI masuk dalam perangkap ‘batman’. Dalam pusaran inilah virus lain ikut membantu kegagalan tercapainya tujuan PAI. Apalagi kebijakan UN yang mereduksi nilai-nilai PAI secara sistematis. Siswa kelas IX  disemester 6 tidak lagi mempedulikan mata pelajaran non UN termasuk PAI sebagai jantung ahklaq mulia siswa. Siswa disibukan dengan jam tambahan dari pagi sampai malam. Guru PAI hanya difungsikan sebagai pejabat agama bertugas memimpin doa atau istighosah agar siswa lulus UN. Demikian juga dengan mark up nilai kuantitatif siswa dipatok oleh sekolah atas kemauan atasan nilai ≥ 80 meskipun siswa tersebut tidak memiliki kemampuan. Apa yang terjadi, akhlak siswa mengalami inflasi pada saat dipenghujung akhir SMP.  Fenomena ini mungkin terjadi dipenjuru Indonesia. Kejadian di Jakarta tidak dapat menyalahkan siswanya (pelaku), yang lebih bertanggung jawab adalah pembuat kebijakan. Dengan kata lain, semua yang terkait dengan kejadian tersebut mawas diri. Pendiidikan bukan menciptakan manusia robot yang tak berperasaan.

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Best Patner

Copyright © 2012. ZUKRA SMPN3PPU - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Blog Bamz