MAU KEMANA
PAI SMP (Suatu kegelisahan guru PAI) #2
Aspek
yang dicapai
|
Indikator
pencapaian
|
menumbuhkembangkan
akidah menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya
kepada Allah SWT
|
1. pengetahuan,
2. penghayatan,
3. pengamalan,
4. pembiasaan, dan
5. pengalaman
|
mewujudkan
manusia Indonesia yang taat beragama
dan berakhlak mulia
|
1.
berpengetahuan,
2.
rajin beribadah,
3.
cerdas,
4.
produktif,
5.
jujur,
6.
adil,
7.
etis,
8.
berdisiplin,
9.
bertoleransi (tasamuh),
10.
menjaga keharmonisan secara personal dan sosial, dan
11.
mengembangkan budaya agama dalam komunitas
|
Setelah melihat pemetaan aspek dan indikator
tersebut, untuk mewujudkan manusia Indonesia beriman dan bertakwa kepada Allah
serta bertaat beragama dan berakhlaq mulia maka sesungguhnya Mata Pelajaran PAI
tidak bertujuan untuk semata-mata siswa memperoleh pengetahuan agama Islam.
Berarti GPAI hanya baru melakukan pembelajaran PAI mencapai 10% dari tujuan
yang hendak dicapai, 90% masih sering diabaikan.
Kasus-kasus akhir-akhir ini boleh jadi disebabkan
karena minimnya penghayatan, pengamalan,,pembiasaan, dan pengalaman Islam. Saya
meyakini bahwa selama ini PAI sudah metamorfosis menjadi Pengajaran Agama Islam
sehingga pembelajaran yang dijalani juga mengutamakan kognitif. Pengajaran
berhasil sampai pada halte siswa
dapat menyebutkan rukun iman dan rukun islam. Kalau kita mengamati secara
seksama tanyakan kepada mereka, misalnya apa yang dimaksud iman ? siswa dengan
lancar menyebutkan Islam adalah .....rukun Islam adalah .... Sejatinya
pengetahuan semacam ini juga sangat penting tapi lebih penting lagi adalah penghayatan,
pengamalan, pembiasaan dan pengalaman Islam langsung ditunjukan dalam
keseharian. Sebagai guru kadang jika anak sudah dapat menyebutkan definisi
sudah merasa berhasil mencapai tujuan pembelajarannya
Mungkinkah GPAI sudah salah kamar? Maksudnya
bahwa GPAI tidak lagi menyadari bahwa dirinya sebagai GPAI tapi masuk difolder guru mata pelajaran lain. Oleh
karena itu guru agama harus mampu melakukan terobosan pembelajaran
dengan memperhatikan (1) value
consciousness (kesadaran nilai), (2) transformation
(trasformasi), (3) wellbeing (berbuat
baik), (4) connectennes, dan (5) agency. Guru PAI menyadari betul bahwa
karekteristik PAI adalah sangat unik. Kenukian bukan pada aspek materi dan
tujuan semata tetapi mestinya keunikan pada pembelajaran menjadi perhatian
serius guru. Zakiah Darojat menyindir guru PAI dalam pembelajaran PAI sering
guru mempersepsikan agama adalah yang sangat kejam dan menakutkan. Dengan
keunikan tersebut guru PAI tidak sekedar transfer of knowlegdes tetapi transfer
of values. Kata Darojat, pembelajaran PAI seharusnya memberikan kepada siswa
inspirasi dan pembebasan, sehingga siswa tidak menganggap bahwa PAI seperti
hantu yang menakutkan siswa, persepsi ini tertanam hingga dewasa.
Sadar ataupun tidak, ternyata
selama ini guru PAI masuk dalam perangkap ‘batman’. Dalam pusaran inilah virus
lain ikut membantu kegagalan tercapainya tujuan PAI. Apalagi kebijakan UN yang
mereduksi nilai-nilai PAI secara sistematis. Siswa kelas IX disemester 6 tidak lagi mempedulikan mata
pelajaran non UN termasuk PAI sebagai jantung ahklaq mulia siswa. Siswa disibukan
dengan jam tambahan dari pagi sampai malam. Guru PAI hanya difungsikan sebagai
pejabat agama bertugas memimpin doa atau istighosah agar siswa lulus UN. Demikian
juga dengan mark up nilai kuantitatif
siswa dipatok oleh sekolah atas kemauan atasan nilai ≥ 80 meskipun siswa
tersebut tidak memiliki kemampuan. Apa yang terjadi, akhlak siswa mengalami inflasi pada saat dipenghujung akhir
SMP. Fenomena ini mungkin terjadi
dipenjuru Indonesia. Kejadian di Jakarta tidak dapat menyalahkan siswanya (pelaku),
yang lebih bertanggung jawab adalah pembuat kebijakan. Dengan kata lain, semua
yang terkait dengan kejadian tersebut mawas diri. Pendiidikan bukan menciptakan
manusia robot yang tak berperasaan.
0 komentar:
Posting Komentar