Jumat, 24 Mei 2013

BANI ABBASIYAH ( Intelektual dan Moral ) oleh Sukra dan Widodo


A.      Pendahuluan
Dinasti Abbasiyah berdiri kokoh selama 508 tahun Masehi atau 524 tahun Hijriyah (132-656 H/ 750-1258 M). Namun, pergolakan politik kekuasaan yang primordial dan kekuasaan otoriter Khalifah sehingga mengalami pergeseran makna khalifah, dari  kedaulatan ditangan  rakyat menjadi kedaulatan ditangan sulthan, tidak menjadi hambatan tumbuhnya peradaban maju dimulai dari kekuasaan khaifah Harun Ar Rasyid dan Al Ma’mun, kecintaan ilmu menjadi pilar utama membangun negara maju. Selama 43 tahun dua khalifah itu, Dinasti Abbasiyah menjadi negara superpower maju secara ekonomi, ilmu pengetahuan, filsafat, militer dan lain-lain.
Geliat ini dengan didirikan Bait al-Hikmah pada 830 M dan berakhir pada 1258 M. Perkembangan ilmu pengetahuan di masa Dinasti Abbasiyah diawali dengan aktivitas penerjemahan yang kemudian diikuti oleh babak aktivitas kreatif berupa perkembangan ilmu agama, sains, filsafat, dan humaniora. Kebangkitan ilmu pengetahuan ini terkait oleh peranan tokoh-tokoh intelektual yang terdiri dari khalifah dan para ilmuwan.
Bait al-Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan, lembaga pendidikan, lembaga riset dan observatorium, serta biro penerjemahan. Bait al-Hikmah juga memiliki peran sebagai tempat berkembangnya para ilmuwan, pembentuk pola pikir, dan percampuran kebudayaan.
Oleh karena itu, masa keemasan Bani Abbasiyah menjadi kajian pada makalah ini diawali dengan masa penerjemah, agama Islam, Sains, Filsafat dan Humaniora.  Didukung dengan para tokoh dan karyanya. Namun dengan keterbatasan, maka pembahasan tidak dapat secara rinci.

B.       Pembahasan

1.         Kronologis Abbasiyah
Pemerintahan Dinasti Abbasiyah ini berlangsung sejak 132-656 H/ 750-1258 M.[1] Khalifah Abu Al-Abbas sebagai khalifah pertama menjadikan kota Kuffah sebagai Ibukota Abbasiyah. Selain Kuffah, ibukota kerajaan juga sempat berpindah ke Anbar karena adanya kekhawatiran khalifah terhadap pemberontakan dan para pendukung Ali yang merasa dipermainkan. Kemudian pada 762 M, Al-Manshur (Abu Ja’far) sebagai khalifah kedua kembali membangun dan memindahkan ibukota baru untuk Abbasiyah yang terletak di kota Baghdad. [2] Al-Manshur inilah yang benar-benar membangun kerajaan baru itu, dan seluruh Khalifah Abbasiyah yang berjumlah 35 orang berasal dari keturunannya.[3]

2.         Kemajuan ilmu pengetahuan

Sejarah mencatat di antara raja-raja yang pernah memimpin Dinasti Abbasiyah, adalah Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya, Khalifah Al- Ma’mun(813-833 M) yang membawa pemerintahan Islam Abbasiyah pada puncak kejayaan.[4]  Bisa dikatakan kedua khalifah itulah yang paling terkenal di mata publik sebagai khalifah terbesar. Masa kegemilangan ini meliputi hampir seluruh aspek kehidupan baik itu dalam bidang ekonomi, militer, politik, ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.
Kegemilangan ekonomi ditandai dengan kondisi negara yang sangat kaya dan melimpah dengan harta. Istana negara dilengkapi dengan peralatan atau perabotan yang terbuat dari emas, perak, dan batu-batuan berharga. Besarnya kas negara terutama dari hasil pajak dan zakat ketika khalifah kedua, Al-Manshur (754-775 M) meninggal berjumlah 600 juta dirham dan 14 Juta dinar, dan ketika Harun Al-Rasyid meninggal mencapai lebih dari 900 juta dirham.[5]  Wilayah yang sangat luas membentang dari Asia Tengah hingga Spanyol menjadi faktor penting dari konteks ekonomi. Sumber-sumber ekonomi diperoleh dari sektor-sektor yang beragam seperti pertanian, perkebunan, industri, jasa transportasi, kerajinan, pertambangan, dan perdagangan.[6]
Kemajuan militer yang ada dapat dilihat dari besarnya jumlah pasukan, dan hebatnya taktik militer serta teknologi (mesin) perang yang dipakai. Pada masa Khalifah Al-Ma’mun disebutkan jumlah pasukan Irak berkisar 125 ribu orang. Para tentara ini mendapat penghasilan yang besar, di mana pasukan infanterinya memperoleh penghasilan hingga 240 dirham pertahun sementara pasukan kavaleri menerima dua kali lipat dari itu.[7] Hal yang menarik dari angkatan bersenjata Abbasiyah ini adalah seluruh lapisan masyarakat  merupakan anggota pasukan tentara. Mereka dikenai wajib militer, selain itu khalifah yang merupakan pemimpin negara juga berperan sebagai panglima perang yang siap memimpin perang kapan saja.[8] Secara politik, keunggulan pemerintahan Islam pada Dinasti Abbasiyah pernah menjadi satu kekuatan besar di dunia yang mampu menyaingi kekuasaan besar Bizantium Romawi. Selain itu, juga berhasil meredam pemberontakan yang terjadi Suriah, Persia, dan Asia Tengah pada saat itu.[9]
Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa kebangkitan pemerintahan Islam saat itu tidak hanya sebagai kebangkitan ekonomi, politik, dan militer semata. Kebangkitan lain yang paling menarik pada periode Dinasti Abbasiyah di mata masyarakat dunia adalah adanya kebangkitan ilmu pengetahuan dan intelektual. Bisa dikatakan kebangkitan ini sebagai kegemilangan terbesar dalam sejarah Islam yang sangat berpengaruh pada pemikiran dan budaya manusia. [10]
Kebangkitan intelektual itu terjadi akibat masuknya pengaruh asing yang berasal dari Indo-Persia, Suriah, dan terutama Yunani. Gerakan kebangkitan intelektual itu ditandai dengan aktivitas penerjemahan besar-besaran buku-buku Yunani, Persia, Sansekerta, India,[11] juga Suryaniyah, Nibtiyah, dan Qibtiyah.[12]  Usaha penerjemahan karya negeri Barat ini terus berlanjut hingga pada 830 M Khalifah Al- Ma’mun mendirikan Bait al-Hikmah di Baghdad karena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.[13]
Bait al-Hikmah yang berarti “rumah kebijaksanaan” atau  “rumah pengetahuan”[14] merupakan sebuah perpustakaan, akademi, sekaligus biro penerjemahan.[15]  Bait al-Hikmah adalah perpustakaan besar pertama di Baghdad pada masa Dinasti Abbasiyah [16]juga sebagai perpustakaan Islam paling terkenal dalam sejarah.[17]  Tercatat ilmuwan-ilmuwan besar lahir dengan mengambil manfaat dari “rumah kebijaksanaan” ini seperti Al-Hasan bin Al-Hitsam, ilmuwan terhebat sepanjang sejarah dalam ilmu penglihatan (mata), Iyadullah Al-Battani seorang ilmuwan falak yang terkenal di Timur dan Barat. Kemudian Al- Khawarizmi ilmuwan yang mempersembahkan ilmunya bagi kemajuan ilmu matematika, juga Abu Hanifah Al-Dinawari seorang ilmuwan tumbuh-tumbuhan dan klasifikator terbesar (al-Mushannif), Al-Bairuni,[18] begitu juga filosof Muslim terkenal seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina,[19] dan banyak ilmuwan lainnya.
Bisa dikatakan hubungan antara ilmu pengetahuan dan Bait al-Hikmah ibarat petani dan kebun. Petani mengolah dan menjadikan tanah sebagai kebun. Kemudian seluruh hasil baik berupa bunga, buah, atau pun sayur-sayuran yang tumbuh dari kebun itu dimanfaatkan bagi kebutuhan petani sendiri. Begitu pula dengan Bait al-Hikmah yang hadir oleh karena adanya kebutuhan terhadap ilmu pengetahuan, kemudian ilmu pengetahuan di masa Abbasiyah justru semakin berkembang pesat dengan mengambil manfaat dari Bait al-Hikmah sendiri.
Bukti-bukti di atas menunjukan bahwa Bait al-Hikmah memiliki nilai yang penting dalam sejarah peradaban Islam di dunia. Bait al-Hikmah sebagai pusat ilmu pengetahuan telah menyimpan bukti serta merekam sejarah kegemilangan Islam dan Abbasiyah di masa lalu. Pada akhirnya, Bait al-Hikmah ini hancur bersamaan dengan runtuhnya Dinasti Abbasiyah, yang disebabkan oleh serangan pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan. Proses perusakan dan  penghancuran Bait al-Hikmah ini disertai dengan 35 perpustakaan lainnya di Baghdad seperti Perpustakaan Umar Al-Waqidi, Perpustakaan Dar Al-Ilm Perpustakaan Nizamiyah,  Perpustakaan Madrasah Mustansiriyah, Perpustakaan Al-Baiqani, Perpustakaan Muhammad Ibn Al-Husain, dan Perpustakaan Ibn Kamil.[20] Keruntuhan ini sekaligus sebagai penanda hancurnya peradaban Islam yang belum lama dibangun juga sebagai kemunduran terbesar dalam ilmu pengetahuan

3.          Dimensi Moralitas Bani Abasiyah
Kalau ditelusuri dan diteliti Allah Swt tidak secara rinci mengatur tentang bentuk pemerintahan (khilafah), namun di belahan dunia Islam klasik system monarki adalah yang paling lazim. Menurut ilmuwan politik Islam Ibnu Abi Rabi’ bentuk monarki inilah yang terbaik, karena kerajaan dibawah pimpinan seorang raja khalifah tunggal. Karena kalau kerajaan dipimmpin oleh banyak kepala maka akan kacau dan sukar membina persatuan.21 Ketika Islam berada pada massa pertengahan, kemudian timbul dinasti-dinasti dengan berbagai macam coraknya ini telah memberi kita pelajaran dari mulai berdiri sampai runtuhnya. Berdiri dengan berebut kekuasaan, sistem politik yang keras dan siap memberlakukan apapun demi suksesi dalam waktu panjang yang kemudian menimbulkan gerakan baru separatis frontal dan pada akhirnya islam pun berperang dengan saudara se-islamnya untuk memperebutkan kekuasaan.
Ketika  Abdullah Ibn Muhammad alias Abu Abbas diumumkan sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah tahun 750 M. dalam khutbah pelantikan yang disampaikan di masjid Kufah, ia berjanji akan memerintah sebaik-baiknya dan melaksanakan syariat Islam. Selain itu ia menyebut dirinya dengan as-saffa (penumpah darah) yang akhirnya menjadi julukannya. Hal ini sebenarnya akan menjadi preseden yang buruk bagi suatu kekuasaan, dimana kekuatan tergantung kepada pembunuhan yang ia jadikan sebagai alat pembenar bagi kebijakan politiknya. Sehingga timbul beberapa korban dari saudaranya sendiri. Peristiwa  ini bisa kita amati dalam sejarah suksesi pemerintahan secara tirani21 pada masa Bani Abasiyah.
Sebagai contoh setelah al-Mahdi mewariskan jabatan khalifah kepada anaknya al-Hadi dan Harun ar-Rasyid, tetapi keinginannya itu terhalang oleh Isa Ibn Musa.
 

21 Munawir S jadzali Islam dan Tata Negara, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1993) hal.46
22. Disebut tirani jika sang raja atau penguasa tunggal itu menyeleweng , perhatian tidak lagi kepada kepentingan rakyat dan Negara serta bergeser kepada kepentingan pribadi saja. Lihat ibid. hal.47


Berkat jabatan putra mahkota inilah Isa Ibn Musa mengalami dua kali kekejaman yaitu pada masa al-Mansur dan al-Hadi. Setelah dipaksa, ditanggalkanlah gelar tersebut oleh Isa Ibn Musa, maka al-Mahdi melantik anaknya al-Hadi sebagai putra mahkota pada 160 H dan dilanjutkan melantik Harun ar-Rasyid tahun 166 H. Langkah awal yang dilakukan al-Hadi adalah melantik ar-Rabi’ Ibn Yunus sebagai menteri, tetapi beberapa waktu kemudian ar-Rabi’ Ibn Yunus digantikan oleh Ibrahim Ibn Zakuan al-Harrani dan bagaimana melenyapkan Harun ar-Rasyid agar mau menanggalkan gelar putra mahkota sehingga anaknya Ja’far dapat menggantikannya kelak. Dari sini dapat kita pahami bahwa cara-cara kekerasan merupakan alternatif utama yang diambil oleh Dinasti Abbasiyah dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi terutama masalah-masalah politik. Salah satu sifat penguasa adalah bagaimana kekuasaan itu langgeng dan hanya berputar disekitar garis keturunannya. Oleh karena itu kekuasaan itu harus dipertahankan mati-matian, jika perlu dengan menghalalkan segala cara. Padahal hal ini jelas bertentangan dengan agama Islam dan prilaku Nabi Muhammad SAW. Sebagai ibrah kejadian semacam ini Hujatul Islam imam Ghazali juga memberi nasehat kepada raja-raja: “Tuhan telah memisahkan dua kelompok manusia dan memberikan sesuatu yang membedakan keduanya.kelompok pertama adalah para Nabi dan kelompok lainnya adalah para raja. Para Nabi diutus kepada hamba-hambaNya untuk mendekatkan diri kepadaNya, para raja untuk mencegah mereka agar tidak menyerang satu sama lainnya” . 23
Perubahan yang menonjol pada masa ini adalah tampilnya kelompok Mawalli 24, khususnya Persia-Irak. Mereka menduduki peran penting dan posisi penting dalam pemerintahan menggantikan kedudukan bangsa Arab. Hal ini sangat berbeda dengan pemerintahan Khulafaurrasyidin dan Bani Umayyah dimana masih berasumsi bahwa kabilah Arab adalah superior dibanding yang lain.25


23 Ahmed Vaezi, Agama Politik, Nalar Politik Islam diterj. Ali Syahab,( Jakarta: Citra, 2006), hal.80.
24Mawalli adalah golongan non Arab, yang memeluk Islam. Lihat Aden Wijdan SZ,.dkk., Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2007), hal.21.
25 Ibid, hal. 20.

Memang ada hal yang lain yang perlu diakui dan dibanggakan karena di samping mereka ber-konflik mereka juga mampu meninggalkan situs-situs yang bermanfaat kepada umat muslim pada jaman sekarang. Itu merupakan bukti bahwa peradabanya mengalami kemajuan pesat dalam berbagai macam hal; ekonomi, politik, sastra, sain, filsafat, teknologi dan lain-lain.
 Terkadang  perkembangan intelektual, ilmu pengetahuan dan teknologi  membawa efek negative orang yang hidup pada zamannya jika tidak berpegang teguh pada agama yang kuat. Menurut Israrul Haque Dalam pemikiran intelektual sebagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi teori moralitas metafisik dan transendetal semacam itu tidak memiliki perembangan untuk survive. 26 Sebagai contoh kasus Al-Amin putra Harun al-Rasyid dengan pola kehidupan yang suka bermewah-mewah dengan kekayaan kerajaan, kurang memperhatikan pemerintahan dan rakyatnya yang tentu saja ini bertolak belakang dari pendahulunya.
Kasus diatas sebenarnya hanya sebagian kecil dari impact perkembangan ilmu dan teknologi terhadap sisi moral budaya penguasa dan mungkin sampai masyarakat. Namun pada hakekatnya dibalik itu semua kemanfaatan yang lebih besar telah bisa dirasakan oleh semua umat di penjuru dunia. Cendekiawan Hebrew telah membuktikan  diri sebagai instrument yang sangat tidak ternilai dalam pertukaran budaya baik dikalangan intlektual muslim maupun Kristen demikian juga dalam hal ini cendekiawan Latin sangat berhutang budi dengan Hebrew dalam penyebaran ilmu pengetahuan Yunani- Muslim kepada Barat melalui karya-karya Arab. 27
Disamping sisi kurang baik pandangan para sejarawan mengenai suksesi dan kebijaksanaan politik sebagian penguasa Bani Abasiyah, namun semua tertutama dengan gemilangnya ukiran sejarah bahwa khalifah harun al-Rasyid, Al-makmun dan al Muk’tasim begitu mengedepankan moral intelektual, budaya dan agama sehingga mengangkat kehlalifahan itu menjadi termasyhur di dunia.



26 Israrul Haq, Menuju Reanissance Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hal.3
27 Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Islam Atas Dunia Barat: Dikripsi Analisis Abad Keemasan Islam diterj. Joko S. Kahlar, Surabaya: Risalah Gusti, 1996. hal. 1

C.    Penutup

Perkembangan ilmu pengetahuan dan intelektual masa pemerintahan Bani Abasiyah mencapai puncak keemasannya yaitu pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya, Khalifah Al- Ma’mun (813-833 M).
Puncak kemajuan ilmu pengetahuan dan intelektual pada masa Bani Abasiyah ditandai dengan di dirikannya Bait al-Hikmah yang berarti “rumah kebijaksanaan” atau  “rumah pengetahuan merupakan sebuah perpustakaan, akademi, sekaligus biro penerjemahan,  merupakan perpustakaan besar pertama di Baghdad pada masa Dinasti Abbasiyah, juga sebagai perpustakaan Islam paling terkenal dalam sejarah. Disini pula terlahir ilmuwan-ilmuwan seperti Al-Hasan bin Al-Hitsam, ilmuwan penglihatan (mata), Iyadullah Al-Battani ahli falak. Kemudian Al- Khawarizmi ilmuwan matematika, juga Abu Hanifah Al-Dinawari seorang ilmuwan tumbuh-tumbuhan dan klasifikator terbesar (al-Mushannif), Al-Bairuni, begitu juga filosof Muslim terkenal seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, dan banyak ilmuwan lainnya.
Bentuk pemerintahan Bani Abasiyah yang monarki boleh jadi bisa menghantarkan puncak kejayaan Islam pada masa Zaman Abad Pertengahan, namun begitu raja adalah penguasa tunggal pada posisi delimatis. Ini terjadi tatkala moral politik tidak bisa menyuarakan kehendak rakyat dengan indikasi setiap suksesi kepemimpinan selalu diwarnai pergolakan sehingga timbulnya kepentingan pribadi dikedepankan demi kekuasaan dengan meminta korbannya adalah saudara sendiri terlebih saudara sesama muslim. Rupanya pada masa ini suksesi kekhalifahan masih lazim dengan menggunakan kekerasan-kekerasan yang notabene jauh dari dari tujuan/ makna khalifah didalam ajaran Islam. Disamping sisi kurang baik pandangan para sejarawan mengenai suksesi dan kebijaksanaan politik sebagian penguasa Bani Abasiyah, namun semua tertutama dengan gemilangnya ukiran sejarah bahwa khalifah harun al-Rasyid, Al-makmun dan al Muk’tasim begitu mengedepankan moral intelektual, budaya dan agama sehingga mengangkat kehlalifahan itu menjadi termasyhur di dunia.


DAFTAR PUSTAKA

Amin, Ahmad, Dhuha al-Islam, Jil.2, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1983.
As-Sirjani, Raghib, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, terj. Sonif, M. Irham, & M.Supar, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009.
Bisri, Adib & Munawir AF, Al Bisri Kamus Indonesia-Arab Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, 1999.
Haque, Israrul, Menuju Reanissance Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Hitti, Philip K., History of The Arabs, terj. R.C. Yasin, & D.S. Riyadi, Jakarta:Serambi, 2006.
Khalil, Syauqi Abu, Harun Ar-Rasyid; Amir Para Khalifah & Raja Teragungdi Dunia, terj. A. E. Ahsami, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006.
Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Islam Atas Dunia Barat: Dikripsi Analisis Abad Keemasan Islam diterj. Joko S. Kahlar, Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
Saefudin, Didin, Zaman Keemasan Islam, Jakarta: Grasindo, 2002.
Sjadzali, Munawir, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran, Universitas Indonesia Press, 1993.
Umar, Nasaruddin, “Pasang Surut Tradisi Intelektualisme Islam”, Dialog, Jurnal Penelitian dan Kajian Keagamaan (2006).
Vaezi, Ahmed, Agama Politik: Nalar politik Islam terj. Ali Sahab, Jakarta: Citra, 2006.
Watt, W. Montgomery, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Oriental, terj. H Hadikusumo, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990.
Wijdan SZ, Aden.dkk., Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2007


[1] Didin Saefudin, Zaman Keemasan Islam, (Jakarta: Grasindo, 2002), hlm. 1
[2]  Philip K. Hitti, History of The Arabs, terj. R.C. Yasin, & D.S. Riyadi, (Jakarta:Serambi, 2006 ) hlm. 358-363;  W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Oriental, terj. H Hadikusumo, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), hlm. 103
[3] Ibid., 360
[4] Saefudin Zaman Keemasan ..... hal.138
[5] Hitti, History of..... 401; A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 208 Bandingkan dengan Syauqi Abu Khalil, Harun Ar-Rasyid; Amir Para Khalifah & Raja Teragungdi Dunia, terj. A. E. Ahsami, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), hlm. 123 disebutkan bahwa harta yang ditinggalkan Harun Al-Rasyid bukanlah berjumlah 900 juta dirham melainkan 900 juta dinar. Jika dikonversikan dengan nilai mata uang saat ini, dimana 1 dinar = 2.200.000 Rupiah dan 1 dirham = 67.000 Rupiah, maka paling tidak, sedikitnya harta peninggalan Harun Al-Rasyid yaitusebanyak 900 juta dirham setara dengan 60.300.000.000.000 (60, 3 triliyun Rupiah) atau jikadalam perkiraan yang lebih besar lagi yaitu 900 juta dinar setara dengan 1.980.000.000.000.000 (1.980 triliyun Rupiah) saat ini (berdasarkan nilai tukar pada 26 Maret 2012
[6] Saefudin, Zaman Keemasan ..... hal. 124; Hasjmy, ibid,. 208
[7] Hitti, History of.....  hal.  407-410
[8] Saefudin, Zaman Keemasan ..... hal. 118
[9] .Hitti, History of.....  hal.  409
[10] Saefudin, Zaman Keemasan ..... hal. 147
[11] Hitti, History of.....  hal.  381
[12] Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, terj. Sonif, M. Irham, & M.Supar, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009), hlm. 241-242.
[13] Hitti, , History of.....  hal.  386 
[14] Adib Bisri & Munawir AF, Al Bisri Kamus Indonesia-Arab Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), hlm. 46, 128. Bait al-Hikmah berasal dari dua kata al-Bait dan al-Hikmah. Al- bait berarti rumah, tempat tinggal, sedangkan al-hikmah berarti hikmah, kebijaksanaan
[15] Hitti, History of.....  hal.386 
[16] Saefudin, Zaman Keemasan ..... hal.154; Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, Jil.2, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1983), hlm. 76.
[17] As-Sirjani Sumbangan Peradaban Islam.... hal. 239.
[18] Khalil, Harun ar-Rasyid, terj......... hal.  341.
[19] Nasaruddin Umar, “Pasang Surut Tradisi Intelektualisme Islam”, Dialog, Jurnal Penelitian dan Kajian Keagamaan (2006), hlm. 7
[20] Saefudin, Zaman Keemasan ..... hal.193

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Best Patner

Copyright © 2012. ZUKRA SMPN3PPU - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Blog Bamz