A. Pendahuluan
Dinasti Abbasiyah berdiri kokoh selama 508 tahun Masehi atau 524
tahun Hijriyah (132-656 H/ 750-1258 M). Namun, pergolakan politik kekuasaan
yang primordial dan kekuasaan otoriter Khalifah sehingga mengalami pergeseran
makna khalifah, dari kedaulatan ditangan rakyat menjadi kedaulatan ditangan sulthan,
tidak menjadi hambatan tumbuhnya peradaban maju dimulai dari kekuasaan khaifah
Harun Ar Rasyid dan Al Ma’mun, kecintaan ilmu menjadi pilar utama membangun
negara maju. Selama 43 tahun dua khalifah itu, Dinasti Abbasiyah menjadi negara
superpower maju secara ekonomi, ilmu pengetahuan, filsafat, militer dan
lain-lain.
Geliat ini dengan didirikan Bait al-Hikmah pada 830 M dan berakhir
pada 1258 M. Perkembangan ilmu pengetahuan di masa Dinasti Abbasiyah diawali
dengan aktivitas penerjemahan yang kemudian diikuti oleh babak aktivitas
kreatif berupa perkembangan ilmu agama, sains, filsafat, dan humaniora.
Kebangkitan ilmu pengetahuan ini terkait oleh peranan tokoh-tokoh intelektual
yang terdiri dari khalifah dan para ilmuwan.
Bait al-Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan, lembaga pendidikan,
lembaga riset dan observatorium, serta biro penerjemahan. Bait al-Hikmah juga
memiliki peran sebagai tempat berkembangnya para ilmuwan, pembentuk pola pikir,
dan percampuran kebudayaan.
Oleh karena itu, masa keemasan Bani Abbasiyah menjadi kajian pada
makalah ini diawali dengan masa penerjemah, agama Islam, Sains, Filsafat dan
Humaniora. Didukung
dengan para tokoh dan karyanya. Namun dengan keterbatasan, maka pembahasan
tidak dapat secara rinci.
B. Pembahasan
1.
Kronologis Abbasiyah
Pemerintahan Dinasti Abbasiyah ini berlangsung sejak 132-656 H/
750-1258 M.[1]
Khalifah Abu Al-Abbas sebagai khalifah pertama menjadikan kota Kuffah sebagai
Ibukota Abbasiyah. Selain Kuffah, ibukota kerajaan juga sempat berpindah ke
Anbar karena adanya kekhawatiran khalifah terhadap pemberontakan dan para
pendukung Ali yang merasa dipermainkan. Kemudian pada 762 M, Al-Manshur (Abu Ja’far)
sebagai khalifah kedua kembali membangun dan memindahkan ibukota baru untuk
Abbasiyah yang terletak di kota Baghdad. [2] Al-Manshur inilah yang benar-benar membangun kerajaan baru itu,
dan seluruh Khalifah Abbasiyah yang berjumlah 35 orang berasal dari
keturunannya.[3]
2.
Kemajuan ilmu
pengetahuan
Sejarah mencatat di antara raja-raja yang pernah memimpin Dinasti
Abbasiyah, adalah Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya, Khalifah
Al- Ma’mun(813-833 M) yang membawa pemerintahan Islam Abbasiyah pada puncak
kejayaan.[4] Bisa dikatakan kedua khalifah itulah yang paling terkenal di mata
publik sebagai khalifah terbesar. Masa kegemilangan ini meliputi hampir seluruh
aspek kehidupan baik itu dalam bidang ekonomi, militer, politik, ilmu
pengetahuan dan peradaban Islam.
Kegemilangan ekonomi ditandai dengan kondisi negara yang sangat
kaya dan melimpah dengan harta. Istana negara dilengkapi dengan peralatan atau
perabotan yang terbuat dari emas, perak, dan batu-batuan berharga. Besarnya kas
negara terutama dari hasil pajak dan zakat ketika khalifah kedua, Al-Manshur
(754-775 M) meninggal berjumlah 600 juta dirham dan 14 Juta dinar, dan ketika
Harun Al-Rasyid meninggal mencapai lebih dari 900 juta dirham.[5] Wilayah yang sangat luas membentang dari Asia Tengah hingga
Spanyol menjadi faktor penting dari konteks ekonomi. Sumber-sumber ekonomi
diperoleh dari sektor-sektor yang beragam seperti pertanian, perkebunan,
industri, jasa transportasi, kerajinan, pertambangan, dan perdagangan.[6]
Kemajuan militer yang ada dapat dilihat dari besarnya jumlah
pasukan, dan hebatnya taktik militer serta teknologi (mesin) perang yang
dipakai. Pada masa Khalifah Al-Ma’mun disebutkan jumlah pasukan Irak berkisar
125 ribu orang. Para tentara ini mendapat penghasilan yang besar, di mana
pasukan infanterinya memperoleh penghasilan hingga 240 dirham pertahun
sementara pasukan kavaleri menerima dua kali lipat dari itu.[7]
Hal yang menarik dari angkatan bersenjata Abbasiyah ini adalah seluruh lapisan
masyarakat merupakan anggota pasukan
tentara. Mereka dikenai wajib militer, selain itu khalifah yang merupakan
pemimpin negara juga berperan sebagai panglima perang yang siap memimpin perang
kapan saja.[8]
Secara politik, keunggulan pemerintahan Islam pada Dinasti Abbasiyah pernah
menjadi satu kekuatan besar di dunia yang mampu menyaingi kekuasaan besar
Bizantium Romawi. Selain itu, juga berhasil meredam pemberontakan yang terjadi
Suriah, Persia, dan Asia Tengah pada saat itu.[9]
Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa kebangkitan pemerintahan
Islam saat itu tidak hanya sebagai kebangkitan ekonomi, politik, dan militer
semata. Kebangkitan lain yang paling menarik pada periode Dinasti Abbasiyah di
mata masyarakat dunia adalah adanya kebangkitan ilmu pengetahuan dan
intelektual. Bisa dikatakan kebangkitan ini sebagai kegemilangan terbesar
dalam sejarah Islam yang sangat berpengaruh pada pemikiran dan budaya manusia. [10]
Kebangkitan intelektual itu terjadi akibat masuknya pengaruh asing
yang berasal dari Indo-Persia, Suriah, dan terutama Yunani. Gerakan kebangkitan
intelektual itu ditandai dengan aktivitas penerjemahan besar-besaran buku-buku
Yunani, Persia, Sansekerta, India,[11] juga
Suryaniyah, Nibtiyah, dan Qibtiyah.[12] Usaha penerjemahan karya negeri Barat ini terus berlanjut hingga
pada 830 M Khalifah Al- Ma’mun mendirikan Bait al-Hikmah di Baghdad karena
kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.[13]
Bait al-Hikmah yang berarti “rumah kebijaksanaan” atau “rumah pengetahuan”[14]
merupakan sebuah perpustakaan, akademi, sekaligus biro penerjemahan.[15] Bait al-Hikmah adalah perpustakaan besar
pertama di Baghdad pada masa Dinasti Abbasiyah [16]juga
sebagai perpustakaan Islam paling terkenal dalam sejarah.[17] Tercatat ilmuwan-ilmuwan besar lahir dengan
mengambil manfaat dari “rumah kebijaksanaan” ini seperti Al-Hasan bin
Al-Hitsam, ilmuwan terhebat sepanjang sejarah dalam ilmu penglihatan (mata),
Iyadullah Al-Battani seorang ilmuwan falak yang terkenal di Timur dan Barat.
Kemudian Al- Khawarizmi ilmuwan yang mempersembahkan ilmunya bagi kemajuan ilmu
matematika, juga Abu Hanifah Al-Dinawari seorang ilmuwan tumbuh-tumbuhan dan
klasifikator terbesar (al-Mushannif), Al-Bairuni,[18]
begitu juga filosof Muslim terkenal seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina,[19]
dan banyak ilmuwan lainnya.
Bisa dikatakan hubungan antara ilmu pengetahuan dan Bait al-Hikmah
ibarat petani dan kebun. Petani mengolah dan menjadikan tanah sebagai kebun.
Kemudian seluruh hasil baik berupa bunga, buah, atau pun sayur-sayuran yang
tumbuh dari kebun itu dimanfaatkan bagi kebutuhan petani sendiri. Begitu pula
dengan Bait al-Hikmah yang hadir oleh karena adanya kebutuhan terhadap ilmu
pengetahuan, kemudian ilmu pengetahuan di masa Abbasiyah justru semakin
berkembang pesat dengan mengambil manfaat dari Bait al-Hikmah sendiri.
Bukti-bukti di atas menunjukan bahwa Bait al-Hikmah memiliki nilai
yang penting dalam sejarah peradaban Islam di dunia. Bait al-Hikmah sebagai
pusat ilmu pengetahuan telah menyimpan bukti serta merekam sejarah kegemilangan
Islam dan Abbasiyah di masa lalu. Pada akhirnya, Bait al-Hikmah ini hancur
bersamaan dengan runtuhnya Dinasti Abbasiyah, yang disebabkan oleh serangan
pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan. Proses perusakan dan penghancuran Bait al-Hikmah ini disertai
dengan 35 perpustakaan lainnya di Baghdad seperti Perpustakaan Umar Al-Waqidi,
Perpustakaan Dar Al-Ilm Perpustakaan Nizamiyah,
Perpustakaan Madrasah Mustansiriyah, Perpustakaan Al-Baiqani,
Perpustakaan Muhammad Ibn Al-Husain, dan Perpustakaan Ibn Kamil.[20] Keruntuhan ini sekaligus sebagai penanda
hancurnya peradaban Islam yang belum lama dibangun juga sebagai kemunduran
terbesar dalam ilmu pengetahuan
3.
Dimensi Moralitas Bani Abasiyah
Kalau
ditelusuri dan
diteliti Allah Swt tidak secara rinci mengatur tentang bentuk pemerintahan
(khilafah), namun di belahan dunia Islam klasik system
monarki adalah yang paling lazim. Menurut ilmuwan politik Islam Ibnu Abi Rabi’ bentuk
monarki inilah yang terbaik, karena kerajaan dibawah pimpinan seorang raja
khalifah tunggal. Karena kalau kerajaan dipimmpin oleh banyak kepala maka akan
kacau dan sukar membina persatuan.21 Ketika
Islam berada pada massa pertengahan, kemudian timbul
dinasti-dinasti dengan berbagai macam coraknya ini telah memberi kita pelajaran
dari mulai berdiri sampai runtuhnya. Berdiri dengan berebut kekuasaan, sistem
politik yang keras dan siap memberlakukan apapun demi suksesi dalam waktu
panjang yang kemudian menimbulkan gerakan baru separatis frontal dan pada
akhirnya islam pun berperang dengan saudara se-islamnya untuk memperebutkan
kekuasaan.
Ketika
Abdullah Ibn Muhammad alias Abu Abbas
diumumkan sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah tahun 750 M. dalam khutbah
pelantikan yang disampaikan di masjid Kufah, ia berjanji akan memerintah
sebaik-baiknya dan melaksanakan syariat Islam. Selain itu ia menyebut dirinya
dengan as-saffa (penumpah darah) yang akhirnya menjadi julukannya. Hal ini
sebenarnya akan menjadi preseden yang buruk bagi suatu kekuasaan, dimana
kekuatan tergantung kepada pembunuhan yang ia jadikan sebagai alat pembenar
bagi kebijakan politiknya. Sehingga timbul beberapa korban dari saudaranya sendiri. Peristiwa ini bisa kita amati dalam sejarah suksesi
pemerintahan secara tirani21 pada masa Bani Abasiyah.
Sebagai
contoh setelah al-Mahdi mewariskan jabatan khalifah kepada anaknya al-Hadi dan
Harun ar-Rasyid, tetapi keinginannya itu terhalang oleh Isa Ibn Musa.
21 Munawir S jadzali Islam dan Tata Negara, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1993) hal.46
22. Disebut tirani jika sang raja atau penguasa tunggal
itu menyeleweng , perhatian tidak lagi kepada kepentingan rakyat dan Negara
serta bergeser kepada kepentingan pribadi saja. Lihat ibid. hal.47
Berkat jabatan
putra mahkota inilah Isa Ibn Musa mengalami dua kali kekejaman yaitu pada masa
al-Mansur dan al-Hadi. Setelah dipaksa, ditanggalkanlah gelar tersebut oleh Isa
Ibn Musa, maka al-Mahdi melantik anaknya al-Hadi sebagai putra mahkota pada 160
H dan dilanjutkan melantik Harun ar-Rasyid tahun 166 H. Langkah awal yang
dilakukan al-Hadi adalah melantik ar-Rabi’ Ibn Yunus sebagai menteri, tetapi
beberapa waktu kemudian ar-Rabi’ Ibn Yunus digantikan oleh Ibrahim Ibn Zakuan
al-Harrani dan bagaimana melenyapkan Harun ar-Rasyid agar mau menanggalkan
gelar putra mahkota sehingga anaknya Ja’far dapat menggantikannya kelak. Dari
sini dapat kita pahami bahwa cara-cara kekerasan merupakan alternatif utama
yang diambil oleh Dinasti Abbasiyah dalam menyelesaikan setiap masalah yang
dihadapi terutama masalah-masalah politik. Salah satu sifat penguasa adalah
bagaimana kekuasaan itu langgeng dan hanya berputar disekitar garis
keturunannya. Oleh karena itu kekuasaan itu harus dipertahankan mati-matian,
jika perlu dengan menghalalkan segala cara. Padahal
hal ini jelas bertentangan dengan agama Islam dan prilaku Nabi Muhammad SAW. Sebagai ibrah kejadian semacam ini Hujatul
Islam imam Ghazali juga memberi nasehat kepada raja-raja: “Tuhan telah
memisahkan dua kelompok manusia dan memberikan sesuatu yang membedakan
keduanya.kelompok pertama adalah para Nabi dan kelompok lainnya adalah para
raja. Para Nabi diutus kepada hamba-hambaNya untuk mendekatkan diri kepadaNya, para
raja untuk mencegah mereka agar tidak menyerang satu sama lainnya” . 23
Perubahan
yang menonjol pada masa ini adalah
tampilnya kelompok Mawalli 24, khususnya
Persia-Irak. Mereka menduduki peran penting dan posisi penting dalam
pemerintahan menggantikan kedudukan bangsa Arab. Hal ini sangat berbeda dengan pemerintahan
Khulafaurrasyidin dan Bani Umayyah dimana masih berasumsi bahwa kabilah Arab
adalah superior dibanding yang lain.25
23 Ahmed
Vaezi, Agama Politik, Nalar Politik Islam diterj. Ali Syahab,( Jakarta:
Citra, 2006), hal.80.
24Mawalli
adalah golongan non Arab, yang memeluk Islam. Lihat Aden
Wijdan SZ,.dkk., Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Safiria
Insania Press, 2007), hal.21.
25 Ibid, hal. 20.
Memang
ada hal yang lain yang perlu diakui dan dibanggakan karena di samping mereka
ber-konflik mereka juga mampu meninggalkan situs-situs yang bermanfaat kepada
umat muslim pada jaman sekarang. Itu merupakan bukti bahwa peradabanya
mengalami kemajuan pesat dalam berbagai macam hal; ekonomi, politik, sastra,
sain, filsafat, teknologi dan lain-lain.
Terkadang
perkembangan intelektual, ilmu pengetahuan dan teknologi membawa efek negative orang yang hidup pada zamannya
jika tidak berpegang teguh pada agama yang kuat. Menurut Israrul Haque Dalam
pemikiran intelektual sebagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi teori
moralitas metafisik dan transendetal semacam itu tidak memiliki perembangan
untuk survive. 26 Sebagai contoh kasus Al-Amin putra Harun al-Rasyid
dengan pola kehidupan yang suka bermewah-mewah dengan kekayaan kerajaan, kurang
memperhatikan pemerintahan dan rakyatnya yang tentu saja ini bertolak belakang
dari pendahulunya.
Kasus diatas sebenarnya hanya sebagian
kecil dari impact perkembangan ilmu dan teknologi terhadap sisi moral budaya
penguasa dan mungkin sampai masyarakat. Namun pada hakekatnya dibalik itu semua
kemanfaatan yang lebih besar telah bisa dirasakan oleh semua umat di penjuru
dunia. Cendekiawan Hebrew telah membuktikan
diri sebagai instrument yang sangat tidak ternilai dalam pertukaran
budaya baik dikalangan intlektual muslim maupun Kristen demikian juga dalam hal
ini cendekiawan Latin sangat berhutang budi dengan Hebrew dalam penyebaran ilmu
pengetahuan Yunani- Muslim kepada Barat melalui karya-karya Arab. 27
Disamping sisi kurang baik pandangan para
sejarawan mengenai suksesi dan kebijaksanaan politik sebagian penguasa Bani
Abasiyah, namun semua tertutama dengan gemilangnya ukiran sejarah bahwa
khalifah harun al-Rasyid, Al-makmun dan al Muk’tasim begitu mengedepankan moral
intelektual, budaya dan agama sehingga mengangkat kehlalifahan itu menjadi
termasyhur di dunia.
26 Israrul
Haq, Menuju Reanissance Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2003), hal.3
27 Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Islam Atas
Dunia Barat: Dikripsi Analisis Abad Keemasan Islam diterj. Joko S. Kahlar,
Surabaya: Risalah Gusti, 1996. hal. 1
C. Penutup
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan intelektual masa pemerintahan Bani Abasiyah mencapai
puncak keemasannya yaitu pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya, Khalifah Al- Ma’mun (813-833 M).
Puncak kemajuan ilmu pengetahuan dan intelektual pada masa Bani
Abasiyah ditandai dengan di dirikannya Bait al-Hikmah yang berarti “rumah
kebijaksanaan” atau “rumah pengetahuan
merupakan sebuah perpustakaan, akademi, sekaligus biro penerjemahan, merupakan perpustakaan besar pertama di
Baghdad pada masa Dinasti Abbasiyah, juga sebagai perpustakaan Islam paling
terkenal dalam sejarah. Disini pula terlahir ilmuwan-ilmuwan seperti Al-Hasan bin Al-Hitsam, ilmuwan penglihatan (mata), Iyadullah
Al-Battani ahli falak. Kemudian Al- Khawarizmi ilmuwan matematika, juga Abu
Hanifah Al-Dinawari seorang ilmuwan tumbuh-tumbuhan dan klasifikator terbesar (al-Mushannif),
Al-Bairuni, begitu juga filosof Muslim terkenal seperti Al-Kindi, Al-Farabi,
Ibn Sina, dan banyak ilmuwan lainnya.
Bentuk pemerintahan Bani Abasiyah yang
monarki boleh jadi bisa menghantarkan puncak kejayaan Islam pada masa Zaman
Abad Pertengahan, namun begitu raja adalah penguasa tunggal pada posisi
delimatis. Ini terjadi tatkala moral politik tidak bisa menyuarakan kehendak
rakyat dengan indikasi setiap suksesi kepemimpinan selalu diwarnai pergolakan
sehingga timbulnya kepentingan pribadi dikedepankan demi kekuasaan dengan
meminta korbannya adalah saudara sendiri terlebih saudara sesama muslim.
Rupanya pada masa ini suksesi kekhalifahan masih lazim dengan menggunakan
kekerasan-kekerasan yang notabene jauh dari dari tujuan/ makna khalifah didalam
ajaran Islam. Disamping sisi kurang baik pandangan para sejarawan mengenai suksesi dan
kebijaksanaan politik sebagian penguasa Bani Abasiyah, namun semua tertutama
dengan gemilangnya ukiran sejarah bahwa khalifah harun al-Rasyid, Al-makmun dan
al Muk’tasim begitu mengedepankan moral intelektual, budaya dan agama sehingga
mengangkat kehlalifahan itu menjadi termasyhur di dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Ahmad, Dhuha al-Islam,
Jil.2, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1983.
As-Sirjani, Raghib, Sumbangan
Peradaban Islam pada Dunia, terj. Sonif, M. Irham, & M.Supar, Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar, 2009.
Bisri, Adib
& Munawir AF, Al Bisri Kamus Indonesia-Arab Arab-Indonesia,
Surabaya: Pustaka Progressif, 1999.
Haque, Israrul, Menuju
Reanissance Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Hasjmy, A.,
Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Hitti, Philip
K., History of The Arabs, terj. R.C. Yasin, & D.S. Riyadi,
Jakarta:Serambi, 2006.
Khalil, Syauqi
Abu, Harun Ar-Rasyid; Amir Para Khalifah & Raja Teragungdi Dunia,
terj. A. E. Ahsami, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006.
Nakosteen, Mehdi, Kontribusi
Islam Atas Dunia Barat: Dikripsi Analisis Abad Keemasan Islam diterj. Joko
S. Kahlar, Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
Saefudin, Didin, Zaman Keemasan Islam, Jakarta: Grasindo, 2002.
Sjadzali, Munawir, Islam dan
Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran, Universitas Indonesia Press,
1993.
Umar,
Nasaruddin, “Pasang Surut Tradisi Intelektualisme Islam”, Dialog, Jurnal
Penelitian dan Kajian Keagamaan (2006).
Vaezi, Ahmed, Agama Politik:
Nalar politik Islam terj. Ali Sahab, Jakarta: Citra, 2006.
Watt, W.
Montgomery, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Oriental, terj. H
Hadikusumo, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990.
Wijdan SZ, Aden.dkk., Pemikiran
dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2007
[2] Philip K. Hitti, History of The Arabs,
terj. R.C. Yasin, & D.S. Riyadi, (Jakarta:Serambi, 2006 ) hlm. 358-363; W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian
Kritis dari Tokoh Oriental, terj. H Hadikusumo, (Yogyakarta: Tiara Wacana,
1990), hlm. 103
[4]
Saefudin Zaman
Keemasan ..... hal.138
[5]
Hitti,
History of..... 401; A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam. (Jakarta:
Bulan Bintang, 1975), hlm. 208 Bandingkan dengan Syauqi Abu Khalil, Harun
Ar-Rasyid; Amir Para Khalifah & Raja Teragungdi Dunia, terj. A. E.
Ahsami, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), hlm. 123 disebutkan bahwa harta
yang ditinggalkan Harun Al-Rasyid bukanlah berjumlah 900 juta dirham melainkan
900 juta dinar. Jika dikonversikan dengan nilai mata uang saat ini, dimana 1
dinar = 2.200.000 Rupiah dan 1 dirham = 67.000 Rupiah, maka paling tidak,
sedikitnya harta peninggalan Harun Al-Rasyid yaitusebanyak 900 juta dirham
setara dengan 60.300.000.000.000 (60, 3 triliyun Rupiah) atau jikadalam
perkiraan yang lebih besar lagi yaitu 900 juta dinar setara dengan
1.980.000.000.000.000 (1.980 triliyun Rupiah) saat ini (berdasarkan nilai tukar
pada 26 Maret 2012
[6]
Saefudin,
Zaman Keemasan ..... hal. 124; Hasjmy, ibid,. 208
[7]
Hitti,
History of..... hal. 407-410
[8]
Saefudin,
Zaman Keemasan ..... hal. 118
[9]
.Hitti,
History of..... hal. 409
[10]
Saefudin,
Zaman Keemasan ..... hal. 147
[11]
Hitti,
History of..... hal. 381
[12] Raghib As-Sirjani,
Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, terj. Sonif, M. Irham, & M.Supar,
(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009), hlm. 241-242.
[13]
Hitti, ,
History of..... hal. 386
[14] Adib Bisri &
Munawir AF, Al Bisri Kamus Indonesia-Arab Arab-Indonesia, (Surabaya:
Pustaka Progressif, 1999), hlm. 46, 128. Bait al-Hikmah berasal dari dua kata
al-Bait dan al-Hikmah. Al- bait berarti rumah, tempat tinggal,
sedangkan al-hikmah berarti hikmah, kebijaksanaan
[15]
Hitti,
History of..... hal.386
[16] Saefudin, Zaman
Keemasan ..... hal.154; Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, Jil.2, (Kuala
Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1983), hlm. 76.
[17]
As-Sirjani Sumbangan
Peradaban Islam.... hal. 239.
[18]
Khalil,
Harun ar-Rasyid, terj......... hal. 341.
[19] Nasaruddin Umar,
“Pasang Surut Tradisi Intelektualisme Islam”, Dialog, Jurnal Penelitian dan Kajian
Keagamaan (2006), hlm. 7
[20]
Saefudin,
Zaman Keemasan ..... hal.193
0 komentar:
Posting Komentar