TEORI
KONTINGENSI KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF
Teori Kontingensi
adalah teori yang menjelaskan efektifitas kepemimpinan dalam variabel
moderator. Variabel moderator adalah situasi yang memperkuat atau melemahkan
pengaruh dari ciri atau perilaku seorang
pemimpin.
Sebuah pendekatan yang
langsung menentukan bagaimana ciri atau perilaku pemimpin berhubungan dengan
indikator kepemimpinan yang efektif dalam situasi berbeda.
Teori ini berguna untuk
menjelaskan mengapa pengaruh dari perilaku
jika melibatkan variabel penghambat, maka hasilnya beragam antarsituasi
Ada 6 teori
kontingensi kepemimpinan yang efektif,
yaitu :
1.
Path-Goal Theory
(Teori Jalur Tujuan)
2.
Situational
Leadership Theory (Teori Kepemimpinan Situasional)
3.
Leader Substitutes
Theory (Teori Pengganti Kepemimpinan)
4.
Multiple
–Linkage Model (Model Berbagai Hubungan)
5.
LPC Contengency
Model (Model Kontingensi LPC)
6.
Cognitive
Resources theory (Teori Sumberdaya Kognitif)
Penjelasan
1. Path-Goal Theory (Teori Jalur
Tujuan)
Teori ini adalah teori untuk menjelaskan bagaimana
perilaku seorang pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja dari bawahan.
Dasar teori : teori
motivasi atau teori harapan dari Georgopoulos, Mahoney & Jones, 1957,
Vroom, 1964), menyatakan bahwa motivasi kerja dalam proses pilihan secara
rasional seorang melakukan banyak upaya untuk menyelesaikan pekerjaan pada
waktu tertentu. Pertimbangan upaya besar akan mendapatkan imbalan yang
maksimal, sedang upaya minimal mendapatkan penghasilan yang kecil dengan menghindari
hal-hal yang tidak dinginkan, seperti pemecatan, teguran dan lain-lain.
Keberhasilan yang diperoleh dari sebuah hasil disebut Harapan. Harapan dari
sebuah hasil disebut Valensi.
Tokoh yang
mengembangkan teori ini :
a.
Teori Evan 1970
: bagaimana perilaku seorang pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja dari
bawahan
b.
House 1971 ; fungsi
motivasi dari pemimpin melalui penghargaan pribadi yang makin meningkat untuk
bawahan atas kinerja kemudian membuat jalan agar lebih mudah, bersih, tidak ada
hambatan dan terus meningkat sampai pada kepuasan pribadi.
c.
House &
Dessler 1974: perilaku pemimpin dipandang dapat diterima oleh bawahan sampai
batas bawahan sebagai sumber atau intrumen kepuasan kedepan.
d.
House &
Mitchell 1974
e.
House 1996
Ada 4 macam perilaku pemimpin
a.
Supportive leadership
(kepemimpinan Suportif); memberikan perhatian terhadap kebutuhan bawahan dalam
hal kesejahteraan, iklim kerja kondusif di unit kerjanya.
b.
Directive
leadership (kepemimpinan Mengarahkan); memberi kesempatan
bawahan apa yang harus dikerjakan, membimbing khusus, taat pada peraturan dan
prosedur, pembuatan jadual dan koordinasi tugas
c.
Paricipative leadership (kepemimpinan
partisipatif); berkonsultasi dengan bawahan, mempertimbangan opini dan usulan
d.
Achievement-oriented
leadership (kepemimpinan berorientasi keberhasilan); mentapkan
sasaran yang menantang, mencari perbaikan kinerja, menekankan kinerja yang luar
biasa, dan memperlihatkan keyakinan bahwa bawahan akan mencapai standar yang tinggi.
Dua macam perilaku
pemimpin (a-b) teori lama, dan 2 yang lainnya berdasarkan teori House &
Mitchell 1974. House 1996 memandang perilaku pemimpin kearah progresif dengan
menggabungkan aspek penting dari kepemimpinan tranformasional dan karismtik.
Variabel Situasional
Menurut teori jalur-tujuan,
pengaruh dari perilaku pemimpin pada kepuasan dan upaya bawahan bergantung pada
aspek situasi, karakteristik tugas dan karakteristik bawahan.
Variabel moderator
situasional ini menentukan potensi, meningkatnya motivasi bawahan, dan cara
pemimpin melakukan tindakan meningkatkan motivasi. Gambaran hubungan
sebab-akibat sebagai berikut :
|
VARIABEL SEBAB AKIBAT
|
|
Perilaku pemimpin
|
|
VARIABEL YANG MENGGANGGU
|
|
Harapan dan Valensi bawahan
|
|
VARIABEL HASIL AKHIR
|
|
Upaya dan kepuasan bawahan
|
|
VARIABEL MODERATOR SITUASIONAL
|
|
Karakteristik tugas &
lingkungan karakteristik bawahan
|
Skema : hubungan
sebab-akibat dalam teori Jalur-Tujuan dari kepemimpian
Hipotesis
1.
Hubungan sebab
akibat untuk pengaruh kepemimpinan suportif pada upaya bawahan
|
Kepemimpinan Suportif
|
|
Mengurangi kejemuan dan membuat
pekerjaan menjadi lebih dapat ditoleransi
|
|
Meningkatkan keyakinan diri dan
merendahkan kecemasan
|
|
Meningkatkan valensi instrinsik
dari pekerjaan
|
|
Meningkatkan harapan upaya kinerja
|
|
Meningkatkan upaya
|
2.
Hubungan sebab
akibat untuk pengaruh kepemimpinan Mengarahkan pada upaya bawahan
|
Kepemimpinan mengarahkan
|
|
Mengurangi ambiguitas peran
|
|
Meningkatkan besaran insentif
|
|
Meningkatkan harapan upaya
kinerja
|
|
Meningkatkan valensi hasil untuk
keberhasilan tugas
|
|
Meningkatkan upaya bawahan
|
|
Memperkuat ketergantungan
penghargaan
|
|
Meningkatkan harapan kinerja
penghargaan
|
3.
Hipotesis
kepemimpinan partisipatif : Untuk meningkatkan upaya dan kepuasan bawahan saat
tugasnya tidak terstruktur dengan cara meningkatkan kejernihan peran. Saat
tugas terstruktur hanya sedikit berpengaruh bahkan tidak sama sekali.
Kepemimpinan ini dapat meningkatkan valensi instrinsik dari pekerjaan sehingga
meningkatkan kepuasan bagi bawahan memiliki kebutuhan yang tinggi akan
keberhasilan dan otonomi.
4.
Hipotesis
kepemimpinan berorientasi keberhasilan: Untuk meningkatkan upaya dan kepuasan
bawahan saat tugasnya tidak terstruktur (kompleks dan tidak berulang) dengan
meningkatkan keyakinan diri dan harapan keberhasilan penyelesaian sebuah
tugas yang menantang. Saat tugasnya
sederhana dan berulang, perilaku ini sedikit berpengaruh atau tidak sama sekali.
Penelitian
teori jalur-tujuan
Penelitian
dilakukan oleh Wofford dan Liska 1993; keterbatasan metodologi menyebabkan
mengahadapi kesulitan menerjemahkan teori ini.
Podsakoff, MacKenzie, Ahearne dan Bommer 1995; tinjauan luas tentang
variabel moderator dalam kepemimpinan. Dengan demikian banyak penelitian
terhadap teori ini hasilnya tidaklah konklusif.
Kelemahan
:
1. Penggunaan
teori harapan sebagai dasar utama untuk menjelaskan pengaruh pemimpin
2. Kepercayaan
pada katagori luas dari perilaku pemimpin yang tidak sesuai dengan proses yang
dihadapi.
2.
Situational Leadership Theory
(Teori Kepemimpinan Situasional)
Tokoh yang mengemukakan teori ini adalah
Hersey dan Blandchard 1977 yang menyatakan bahwa suatu teori kontingensi yang
menentukan sesuai jenis perilaku pimpinan untuk membedakan tingkat bawahan
‘dewasa’ berhubungan dengan pekerjaan. Suatu bawahan kedewasaan tinggi
(high-maturity) memiliki kemampuan dan kepercayaan untuk menyelesaikan tugas,
sedang suatu bawahan kedewasaan rendah (low-maturity) kurang mampu dan kurang percaya
diri.
Hipotesis
Secara
visual ketentuan Tingkat perilaku dalam
teori kepemimpinan situational sebagai berikut :
Untuk suatu
bawahan kedewasaan rendah (M1), pemimpin menggunakan perilaku subtantif
berorientasi tugas dan menunjukkan peran, menjelaskan standar dan prosedur, dan memonitoring kemajuan atas
pencapaian sasaran hasil. Ketika kedewasaan bawahan meningkat kepada suatu tingkatan moderat ( M2 Dan M3),
pemimpin dapat mengurangi jumlah perilaku berorientasi tugas dan menyediakan
perilaku lebih berorientasi hubungan (relations-oriented). Pemimpin perlu bertindak
yang mendukung, membicarakan dengan bawahan, dan memberi pujian dan perhatian.
Karena seorang bawahan kedewasaan tinggi ( M4), pemimpin menggunakan suatu
tingkat rendah untuk perilaku relations-oriented dan berorientasi tugas.
Bawahan jenis ini mempunyai kemampuan
untuk lakukan pekerjaan tanpa banyak arah atau monitoring oleh pemimpin, dan
kepercayaan untuk bekerja tanpa banyak perilaku yang mendukung dari pemimpin
itu.
Menurut Hersey dan
Blandchard, tingkat kedewasaan seorang bawahan dapat dipengaruhi oleh pengembangan intervensi. Contoh,
pemimpin dan bawahan seyogyanya menawarkan suatu persetujuan tentang tugas dan
tanggung jawab tambahan dan bagaimana pemimpin akan membantu bawahan memenuhi tujuan-tujuan
menyelesaikan tanggung jawab ini. Hal ini disebut “contingency contracting
(ketidaktentuan kontrak)” akan dijelaskan dibagian lain.
Evaluasi
teori ini
Meskipun
teori ini telah tidak digunakan di program pengembangan managemen tidak banyak
studi telah menyimpulkan untuk menunjukkan evaluasi teori ini, seperti Blank,
Weitzel, & green, 1990, dan lain-lain.
Kelemahan
koseptual :
Teori Kepemimpinan Situasional
terbatas kegunaannya dan membantu menjelaskan kurang dukungan untuk penelitian teori
ini.
Perilaku kepemimpinan
tidak dijelaskan secara jelas dan konsisten dari quadran ke quadran, dan
kadang-kadang tugas dan perilaku hubungan dijelaskan dengan istilah gaya
keputusan mengarah kepada evaluasi diri, berkonsultasi, dan pembagian tugas
(Graeff, 1983). Namun teori ini memberi sumbangan posistif pengetahuan kerpemimpinan
dyadic kepada kita.
3. Leader
Substitutes Theory (Teori Pengganti Kepemimpinan)
Tokoh yang mengembangkan adalah Kerr dan Jermier
1978, menyatakan bahwa sebuah model dengan mengidentifikasi aspek situasi yang
mengurangi peran kepemimpinan oleh para manajer dan para pemimpin formal
lainnya.
Teori ini membuat sebuah perbedaan antara dua jenis
variabel situasional, yaitu pengganti dan netralisator. Pengganti
membuat perilaku pemimpin menjadi tidak perlu dan berlebihan. Hal ini meliputi
suatu karakteristik dari bawahan, tugas atau organisasi yang memastikan bawahan
akan jelas memahami peran mereka, mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan,
amat bermotivasi dan puas dengan pekerjaannya. Netralisator adalah suatu
karakteristik dari tugas atau organisasi yang mencegah seorang pemimpin untuk
bertindak dengan cara tertentu atau bahkan meniadakan pengaruh dari tindakan
pemimpin tersebut.
Contoh: kurangnya otoritas seorang pemimpin dalam
memberi penghargaan atas kinerja yang efektif adalah sebuah batasan yang
situasional berfungsi sebagai netralisator, sedangkan kurangnya minat bawahan
dalam sebuah insentif yang ditawarkan pemimpin merupakan suatu kondisi yang
membuat perilaku menjadi tidak ada maknanya.
Kerr dan Jermier 1978 memperhatikan pengganti dan
netralisator mengidentifikasi untuk kepemimpinan suportif dan instrumental.
Kepemimpinan suportif adalah serupa dengan pertimbangan, dan kepemimpinan
instrumental sama dengan struktur mempraksai.
Perhatikan tabel berikut :
Tabel : Pengganti dan netralisator khusus untuk
kepemimpinan suportif dan instrumental
|
Pengganti atau netralisator
|
Kepemimpinan Suportif
|
Kepemimpinan
Instrumental
|
|
Karakteristik bawahan
1.
Pengalaman, kemampuan, pelatihan
2.
Orientasi profesional
3.
Mengabaikan penghargaan
Karakteristik tugas
1.
Tugas terstruktur dan rutin
2.
Umpan balik yang disediakan oleh petugas
3.
Tugas yang memuaskan instrinsik
Karakteristik organisasi
1.
Kelompok kerja yang kohesif
2.
Kekuasaan posisi yang rendah
3.
Formalisasi (peran, prosedur)
4.
Tidak fleksibel (peran, kebijakan)
5.
Lokasi kerja bawahan yang tersebar
|
-
Pengganti
Netralisator
-
-
Pengganti
Pengganti
Netralisator
-
-
Netralisator
|
Pengganti
Pengganti
Netralisator
Pengganti
Pengganti
-
Pengganti
Netralisator
Pengganti
Netralisator
Netralisator
|
Berdasarkan
Kerr dan Jermier 1978
Penelitian
teori ini
Pengujian
penelitian terhadap pengganti dan netralisator masih sangat terbatas, seperti
Howell & Dorfman, 1981, 1986, Pitner, 1986, Podsakoff, Niehoff, MacKenzie
& Williams, 1993) secara empiris sebagian telah didukung dan sebagian
lainnya tidak.
Kelemahan
a. Teori
ini tidak mempunyai dasar pemikiran yang rinci untuk setiap pengganti dan
netralisator dalam hal proses sebab akibat yang melibatkan variabel mengganggu
yang jelas.
b. Sulit
untuk mengidentifikasi pengganti dan netralisator khusus untuk kategori
perilaku yang didefinisikan secara luas seperti kepemimpinan sportif dan
intstrumental.
Jadi teori pengganti
kepemimpinan tidak menekankan pentingnya pemimpin formal dengan memperlihatkan
bagaimana pengaruh mereka dapat diganti dengan rancangann pekerjaan, sistem
penghargaan, kepemimpinan rekan sejawat informal, dan manajemen diri. Dengan
begitu teori ini membantu mendorong perspektif sistem yang lebih besar atas proses
kepemimpinan dalam kelompok dan organisasi.
1. Multiple –Linkage Model (Model Berbagai
Hubungan)
Tokoh yang
mengembangkan Yukl, 1981, 1989 menyatakan bahwa model-model ini menjelaskan
pengaruh yang berinteraksi dari perilaku manajerial dan variabel situasional
terhadap variabel yang menganggu yang menentukan kinerja dari sebuah unit
kerja. Model-model menggunakan 4 variabel : a. Perilaku manajerial, b. Variabel
yang mengganggu, c. Variabel kriteria dan d. Variabel situasional.
Variabel yang
mengganggu
Variabel yang
mengganggu didefinisikan oleh Hackman, Brousseau & Weiss, 1976, Likert,
1967, MCGrath, 1984, Porter &Lawler, 1968 sebagai berikut:
a.
Komitmen tugas,
yaitu para anggota unit berjuang untuk mencapai tingkatan kinerja yang tinggi
dan memperhatikan derajat komitmen pribadi yang tinggi kepada sasaran tugas
unit.
b.
Kemampuan dan
kejelasan peran, yaitu para anggota unit memahami tanggung jawab pekerjaan
mereka sendiri, mengetahui apa yang harus mereka lakukan, dan memiliki
keterampilan untuk melakukannya
c.
Organisasi
pekerjaan, yaitu strategi kinerja yang efektif digunakan untuk mencapai sasaran
tugas dan pekerjaan itu diatur untuk memastikan penggunaan personalia,
peralatan, dan fasilitas yang efisien
d.
Kerja sama dan
saling mempercayai, yaitu anggota kelompok saling mempercayai, berbagi
informasi dan ide, saling membantu, dan dikenali oleh unit kerja
e.
Sumber daya dan
dukungan, yaitu kelompok memiliki dana anggaran, peralatan, perangkat,
persediaan, personil, dan fasilitas yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan,
informasi dan bantuan dari unit kerja lainnya.
f.
Koordinasi
eksternal, yaitu aktivitas unit kerja disingkronkan dengan aktivitas yang
saling tergantung dibagian lain dari organisasi dan organisasi lain.
Perhatikan aspek
situasi yang membuat variabel menggangu menjadi sangat penting digambarkan
dalam skema hubungan sebab akibat dalam model berbagai hubungan, berikut :
|
Perilaku pemimpin
|
|
VARIABEL YANG MENGGANGGU
|
|
VARIABEL
SITUASIONAL
|
|
KRITERIAN KREATIFITAS UNIT
|
|
VARIABEL
SITUASIONAL
(Netralisator)
|
|
VARIABEL
SITUASIONAL
(Pengganti)
|
|
Upaya bawahan
Kejelasan peran &
keterampilan tugas
Organisasi pekerjaan
Kohesivitas dan kerja
sama
Sumber daya dan layanan
|
Kondisi yang
mempengaruhi variabel yang mengganggu dalam model berbagai-hubungan
|
Variabel
yang mengganggu
|
Kondisi
yang telah tinggi
|
Situasi
yang terpenting
|
|
Upaya
dan komitmen bawahan
|
·
Tugas yang menarik, menantang
dan memberikan motivasi secara instrinsik
·
Bawahan memiliki nilai-nilai
etis kerja yang kuat
·
Krisis dimana kegagalan akan berbahaya
bagi bawahan
|
· Pekerjaan
rumit dan berat yang membutuhkan inisiatif dan ketekunan yang tinggi dari
bawahan
· Tugas
yang memiliki keterpaparan tinggi dimana kesalahan akan amat berbahaya
|
|
|
|
|
2. LPC
Contengency Model (Model Kontingensi LPC)
3. Cognitive
Resources theory (Teori Sumberdaya Kognitif)
0 komentar:
Posting Komentar