Pukul 07.00 pagi, saya memanaskan motor bersiap
menuju ke kantor Imigrasi untuk foto paspor. Dengan penuh percaya diri,
persiapan seadanya, jaket, helm, anjuran menggunakan masker belum dapat saya
penuhi karena memang saya tidak mempunyai masker. Pagi ini, suasana mencekam,
udara di badan terasa panas. Hujan abu vulkanik semakin lebat. Kakek, seorang
tetangga depan rumah, ia juga jamaah rawatib mushala Darussalam. Ia mengingatkan
saya, “Mas, gunakan jas hujan.” Pinta kakek itu, sambil duduk di serambi rumah.
Lama, dia memperhatikanku. O. O, ya, Mbah. Jawab saya, sambil membuka bagasi
motor mengeluarkan jas hujan.
Jas hujan abu-abu saya kenakan. Motor saya stater,
kemudian dengan penuh semangat, saya bismillah berangkat ke kantor imigrasi
Yogyakarta. Kantor ini terletak di Jalan Adi Sucipto, jalan arah menuju solo. Karena,
seperti orang yang tidak tahu bahaya. Tidak pernah tahu bagaimana gunung
meletus. Saya merasa tidak ada apa-apa. Motor saya saya kendarai seperti biasa.
Keluar jalan raya, jalan Gamping arah Godean – kota Yogya, sepi. Gelap. Semua kendaraan
mengurangi kecepatan. Jarak pandang 10-20 meter. Perjalanan pelan-pelan sekali,
terbatas jarak pandang sampai di jalan Wates. Biasanya, di perempatan traficlight
ringroad padat kendaraan, pagi ini lengang, sepi. Begitu, saya sampai di
perempatan Wirobrajan, saya melihat kendaraan penuh dengan abu vulkanik. Di jalan
Achmad Dahlan mulai mencekam, gelap, jarak pandang 1-2 meter bahkan kadang
gelap pengendara tidak melihat kendaraan didepannya. Menakutkan. Saya sering
meminggirkan motor saya karena tidak dapat melihat lintasan jalan di depan,
apalagi jika ada mobil nyalib motor saya, mata gelap tak dapat melihatnya.
Namun, perjalanan saya ke kantor imigrasi terus saya lakukan hingga sampai
tujuan. Titik 0 Yogya sepi, yang terlihat teman-teman relawan Muhammadiyah yang
membagikan masker warna hijau di depan kantor pos dan di depan BNI 46.
Pukul depalan saya sampai di parkiran kantor
imigrasi, juga masih sepi. Saya membersihkan helm dan jas hujan agar enak nanti
digunakan lagi. Setelah bebarapa saat, saya menuju ke loket antrian. Bapak
satpam, menyampaikan hari ini tidak ada
layanan. Astaghfirullah. Perjuangan diperjalanan menuju tempat ini tanpa hasil.
Nihil. Akhirnya, saya putuskan pulang. Saya mengambil jalan lurus jalan Solo.
Waw. Lebih mengerikan, jarak pandang 1 meter. Ketebalan abu vulakanik 3-5 cm. Gelap.
Saya mengendarai motor dengan sangat hati-hati. Kecepatan 20-40 km/jam. Saya sering
tertabrak, saya juga sering hendak menabrak. Masya Allah, kebeseran-MU.
Sampailah saya di Gamping. Saya mampir di Indomart
untuk membeli bekal di rumah. Toko ini ramai sekali. Banyak pembeli. Wah, ada
apa ini, gumam saya di hati. Saya membeli roti, telor dan mie instan. Ada panggilan
ditelepon, saya lihat dari Surindi. Dia adalah teman sekelas kuliah di PPs UMY.
Ia berasal dari Jayapura. Papua. Ia mengajak saya ke kantor PP Muhammadiyah di
Jalan Acmad Dahlan membantu membagikan masker. Saya tidak pikir panjang, saya
langsung kembali menuju kesana. Abu vulkanik di jalan semakin tebal. Yogya
seperti kota mati tertutup abu. Saya
bertemu dengan teman-teman MPI. Hari ini, jumat. Saya harus siap-siap shalat
Jumat. Saya dan Surindi bermaksud shalat Jumat di masjid gede Kauman. Setelah melihat
kondisi jalan dan abu di alun-alun Utara dan Keraton Yogyakarta. Saya melihat
jam masih pukul 11.00. saya katakan kepada Surindi. “Saya mau shalat Jumat di
Nyamplung saja, kondisi mencekam darurat”. Sambil memutarkan motor kembali ke
arah Gamping.
Menurut ahli bahwa dari sekian banyak abu yang
tersebar di darat hanya 20%, sedang 80% abu yang dimuntahkan gunung Kelud
langsung dibawa angin ke laut. Apabila dibalik 80% abu ke darat maka
memungkinkan 1-2 minggu matahari tertutup abu vulkanik tersebut tidak dapat
dinikmati oleh kita, tentu akan banyak peristiwa yang sangat mengerikan.
Innalillah.
Setidaknya selama 3-5 hari Yogyakarta sepi, tidak
ada penerbangan dari dan ke Yogya. Sekolah diliburkan. Tempat wisata ditutup. Penduduk
lebih suka tinggal di rumah. Saya menjadi tahu, inilah keadaan yang digambarkan
Allah dengan hari kiyamat. Baru, satu gunung yang meletus kalau semua gunung berapi, apa yang
akan terjadi? Hati saya bertanya. Bahkan wisuda UMY hari Sabtu, 15 Februari
2014, sepi. Banyak mahasiswa tidak didampingi orang tuanya.
Diakhir Februari kondisi Yogyakarta mulai normal
kembali. semoga Allah memberi kekuatan kepada kita umatnya, sehingga dapat
mengambil pelajaran dengan peristiwa ini. Lahaulawalaquwwata illabillah. Semoga.

0 komentar:
Posting Komentar