Rabu, 19 Maret 2014

(Sambungan) catatan Harian di Yogyakarta



Sambungan Catatan harian kuliah
Sudah setengah bulan lebih, pekerjaan saya adalah menunggu. Bukan menunggu ditemukannya pesawat MH370. Bukan juga menunggu kereta api di stasiun. Bukan pula menunggu seorang gadis kekasihnya. Namun, saya menunggu jadual ujian hasil penelitian. Saya pikir semua prosedur sudah dijalani.  Mata kuliah telah semua selesai, sayangnya nilai beberapa mata kuliah belum keluar.  Kadang hal ini lazim di perguruan tinggi. Terutama perguruan tinggi suasta. Sebab dosen pemangku mata kuliah bukan dosen tetap perguruan tinggi tersebut. Biasanya dosen terbang kemana-mana.
Perguruan tinggi besar ini justru di program studi yang dimaksud berbeda. Malah nilai yang sering lambat  dari dosen tetap di sini. Saya sendiri mempunyai pengalaman mengelola sekolah dan pernah mengajar di perguruan tinggi suasta. Pada awalnya, guru atau dosen dari instansi lain sering terlambat mengumpulkan nilai mata kuliah yang diampu pada hal dalam surat edaran telah diterima dengan tenggap waktu tertentu (1 minggu setelah ujian). Tetap saja dosen lambat mengumpulkan nilai.  Tidak begitu lama, manajeman bekerja keras melayani mahasiswa. Manajemen baik kalau tidak mengecewakan pelayanan kepada mahasiswa. Mahasiswa senang, mahasiswa mampu menyelesiakan kuliah tepat waktu. Mereka puas dengan pelayanan kami. Dengan begitu, promosi sangat efektif dan ekonomis.
Nilai bagi mahasiswa laksana petani melihat padi yang menguning di sawah menunggu hari untuk menuainya. Saya sebagai guru memiliki pengalaman. Saya tidak pernah menunda mengumumkan  nilai mata pelajaran yang diujikan. Kalau hari ini ujian, besok atau lusa hasil ujian saya bagikan kepada siswa. saya melihat siswa puas dengan hasil yang diperoleh. Mereka tidak menunggu lama dari hasil jerih payah ujian selama ini. Nabi sendiri pesan bahwa tunaikan upah sebelum keringatnya kering. Artinya bahwa proses telah dilalui tentu menghendaki bagaimana hasil yang dicapai.
Pertama, saya menghadap ke ketua menyampaikan masalah dan kritikan kepadanya. Maksudnya agar proses dan hasil perkuliahan. Terutama menanyakan nilai mata kuliah yang belum keluar nilainya. Karena sangat disayangkan nilai yang belum ada adalah mata kuliah yang beliau ampu. Paling aneh sedunia, nilai mata kuliah semester II saja belum valid. Masa nilai kita semua sama 84 (B+), kan tidak profesional. Hal ini juga saya sampaikan kepada beliau. Kalau tanggapan beliau posistif dan baik-baik saja. Saya berdiskusi dengan beliau pada hari Sabtu, 28 Februari 2014 selama 45 menit. Beliau membubuhkan ACC di transkrip nilai sementara, yang menyatakan bahwa saya dapat mengikuti ujian tesis yang telah di setujui pembimbing pada hari Selasa 25 Februari 2014. Semua persyaratan mengikuti ujian tesis telah dipenuhi.
Kedua, saya menghadap ke ketua menanyakan kepastian jadual ujian tersebut, mengapa saya tidak di jadualkan bersama dengan teman-teman dari konsentrasi lain. Pada waktu itu, “janji’nya ujian bersama mereka. Keluar jadual ujian ternyata tidak, sehingga saya tidak termasuk dari 6 mahasiswa tersebut. Bagi saya adalah kepastian waktu. Dengan waktu yang jelas, saya bisa menjadual ulang kegiatan saya. Bukan separti ini. Entah kapan. Tidak jelas. Saya sudah berusaha sabar. “Baik, saya pastikan minggu depan” kata Beliau dengan menjelaskan berbagai argumen.  Kemudian saya menyatakan bahwa “saya pegang pernyataan, bapak” ya. Ya. Jawab Beliau.  Bapak Staf kita panggil sekalian mendengarkan pernyataan beliau. Ekspresi beliau agak kurang berkenan, kesal. Saya merasakan suasana siang ini.
Teman dekat saya ini malah marah besar, keras kepada staf. Staf merasa tersinggung. Teman ini  siang malam mengerjakan tesis ini agar dapat ujian bersama, tapi begitu selesai respon manajemen mengecewakan. Saya tahu persis, teman ini lelah siang tidak istirahat, malam sedikit tidurnya, berusaha kejar waktu. Disamping itu, istri hamil tua dan anak pertamanya sakit panas karena amandel di kampung jauh disana. Tiba-tiba sudah selesai, ditolak. Bagaimana kalau bapak diperlakukan begitu? Saya yakin dapat bertindak lebih dari itu. Mudah-mudahan minggu depan menjadi kenyataan, tidak mencari-cari alasan  atau mengada-ada. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada bapak ketua. Janji yang bapak ucapkan ditepati. Saya juga mohon maaf kepada bapak, terbetik dalam hati berwak-prasangka. Artinya bahwa segala sesuatu itu harus diperjuangkan dengan segenap kemampuan. Tidak bisa berdiam diri. Ternyata jadual ujian tesis saya terima hari ini Rabu, 19 Maret 2014 pukul 11.00.  Penguji tesis saya adalah Prof. Dr. Siswanto Masruri pakar sejarah dan perdaban Islam dan Dr. Muhammad Nurul Yamin pakar komunikasi politik. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kemudahan saya untuk menjawab semua pertanyaan penguji. Dengan begini, semua sudah cleer dan clean.

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Best Patner

Copyright © 2012. ZUKRA SMPN3PPU - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Blog Bamz