Sambungan Catatan harian kuliah
Sudah setengah bulan lebih,
pekerjaan saya adalah menunggu. Bukan menunggu ditemukannya pesawat MH370.
Bukan juga menunggu kereta api di stasiun. Bukan pula menunggu seorang gadis
kekasihnya. Namun, saya menunggu jadual ujian hasil penelitian. Saya pikir semua
prosedur sudah dijalani. Mata kuliah
telah semua selesai, sayangnya nilai beberapa mata kuliah belum keluar. Kadang hal ini lazim di perguruan tinggi.
Terutama perguruan tinggi suasta. Sebab dosen pemangku mata kuliah bukan dosen
tetap perguruan tinggi tersebut. Biasanya dosen terbang kemana-mana.
Perguruan tinggi besar ini justru
di program studi yang dimaksud berbeda. Malah nilai yang sering lambat dari dosen tetap di sini. Saya sendiri
mempunyai pengalaman mengelola sekolah dan pernah mengajar di perguruan tinggi
suasta. Pada awalnya, guru atau dosen dari instansi lain sering terlambat
mengumpulkan nilai mata kuliah yang diampu pada hal dalam surat edaran telah
diterima dengan tenggap waktu tertentu (1 minggu setelah ujian). Tetap saja
dosen lambat mengumpulkan nilai. Tidak
begitu lama, manajeman bekerja keras melayani mahasiswa. Manajemen baik kalau
tidak mengecewakan pelayanan kepada mahasiswa. Mahasiswa senang, mahasiswa
mampu menyelesiakan kuliah tepat waktu. Mereka puas dengan pelayanan kami.
Dengan begitu, promosi sangat efektif dan ekonomis.
Nilai bagi mahasiswa laksana
petani melihat padi yang menguning di sawah menunggu hari untuk menuainya. Saya
sebagai guru memiliki pengalaman. Saya tidak pernah menunda mengumumkan nilai mata pelajaran yang diujikan. Kalau
hari ini ujian, besok atau lusa hasil ujian saya bagikan kepada siswa. saya
melihat siswa puas dengan hasil yang diperoleh. Mereka tidak menunggu lama dari
hasil jerih payah ujian selama ini. Nabi sendiri pesan bahwa tunaikan upah sebelum
keringatnya kering. Artinya bahwa proses telah dilalui tentu menghendaki
bagaimana hasil yang dicapai.
Pertama, saya menghadap ke ketua
menyampaikan masalah dan kritikan kepadanya. Maksudnya agar proses dan hasil
perkuliahan. Terutama menanyakan nilai mata kuliah yang belum keluar nilainya.
Karena sangat disayangkan nilai yang belum ada adalah mata kuliah yang beliau
ampu. Paling aneh sedunia, nilai mata kuliah semester II saja belum valid. Masa
nilai kita semua sama 84 (B+), kan tidak profesional. Hal ini juga saya
sampaikan kepada beliau. Kalau tanggapan beliau posistif dan baik-baik saja.
Saya berdiskusi dengan beliau pada hari Sabtu, 28 Februari 2014 selama 45
menit. Beliau membubuhkan ACC di transkrip nilai sementara, yang menyatakan
bahwa saya dapat mengikuti ujian tesis yang telah di setujui pembimbing pada
hari Selasa 25 Februari 2014. Semua persyaratan mengikuti ujian tesis telah
dipenuhi.
Kedua, saya menghadap ke ketua
menanyakan kepastian jadual ujian tersebut, mengapa saya tidak di jadualkan
bersama dengan teman-teman dari konsentrasi lain. Pada waktu itu, “janji’nya
ujian bersama mereka. Keluar jadual ujian ternyata tidak, sehingga saya tidak
termasuk dari 6 mahasiswa tersebut. Bagi saya adalah kepastian waktu. Dengan
waktu yang jelas, saya bisa menjadual ulang kegiatan saya. Bukan separti ini.
Entah kapan. Tidak jelas. Saya sudah berusaha sabar. “Baik, saya pastikan
minggu depan” kata Beliau dengan menjelaskan berbagai argumen. Kemudian saya menyatakan bahwa “saya pegang
pernyataan, bapak” ya. Ya. Jawab Beliau.
Bapak Staf kita panggil sekalian mendengarkan pernyataan beliau.
Ekspresi beliau agak kurang berkenan, kesal. Saya merasakan suasana siang ini.
Teman dekat saya ini malah marah
besar, keras kepada staf. Staf merasa tersinggung. Teman ini siang malam mengerjakan tesis ini agar dapat
ujian bersama, tapi begitu selesai respon manajemen mengecewakan. Saya tahu
persis, teman ini lelah siang tidak istirahat, malam sedikit tidurnya, berusaha
kejar waktu. Disamping itu, istri hamil tua dan anak pertamanya sakit panas
karena amandel di kampung jauh disana. Tiba-tiba sudah selesai, ditolak.
Bagaimana kalau bapak diperlakukan begitu? Saya yakin dapat bertindak lebih
dari itu. Mudah-mudahan minggu depan menjadi kenyataan, tidak mencari-cari alasan atau mengada-ada. Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.
Alhamdulillah, saya ucapkan
terima kasih kepada bapak ketua. Janji yang bapak ucapkan ditepati. Saya juga
mohon maaf kepada bapak, terbetik dalam hati berwak-prasangka. Artinya bahwa
segala sesuatu itu harus diperjuangkan dengan segenap kemampuan. Tidak bisa
berdiam diri. Ternyata jadual ujian tesis saya terima hari ini Rabu, 19 Maret
2014 pukul 11.00. Penguji tesis saya
adalah Prof. Dr. Siswanto Masruri pakar sejarah dan perdaban Islam dan Dr.
Muhammad Nurul Yamin pakar komunikasi politik. Mudah-mudahan Allah SWT memberi
kemudahan saya untuk menjawab semua pertanyaan penguji. Dengan begini, semua
sudah cleer dan clean.
0 komentar:
Posting Komentar